Berita

Wisata Alquran kuno/Net

Nusantara

Menikmati Wisata Al Quran Kuno Banyuwangi

SABTU, 25 MEI 2019 | 21:56 WIB | LAPORAN:

RMOL. Sebanyak lima naskah Al Quran kuno dan sejumlah naskah keislaman lain dipamerkan Komunitas Pegon di SMP Unggulan Al Anwari, Kertosari, Banyuwangi, Sabtu (25/5).

Umumnya naskah-naskah yang dipamerkan berusia lebih dari satu abad. Hal ini terlihat dari jenis kertasnya yang terbuat dari kertas dluwang dan kertas Eropa yang sudah tampak tua dan rapuh.

“Dari jenis kertasnya bisa diketahui usianya. Seperti dari watermark kertasnya. Dari sana bisa diketahui usianya. Setidaknya lebih dari satu abad,” ujar pendiri Komunitas Pegon, Ayung Notonegoro dalam keterangan yang diterima redaksi.


Salah satu naskah yang memiliki identitas lengkap adalah mushaf yang didapat dari koleksi almarhum KH. Saleh Syamsudin Lateng (w. 1951). Dalam naskah tersebut terdapat kolofon atau catatan produksi yang menyebutkan naskah selesai ditulis pada Jumadil Akhir 1282 H atau sekitar 1860 M.

Disebutkan bahwa penulis mushaf ini adalah Mas Ahmad bin Mas Mangun Sastra Banyuwangi.

“Dari namanya terlihat jika beliau orang lokal,” ujar Ayung.

Lebih jauh Ayung membandingkan mushaf yang ditulis Mas Ahmad itu dengan Al Quran kuno Banyuwangi yang kini disimpan di Perpustakaan Nasional Malaysia yang ditulis Mas Khalifah Ibnu Al Habib Al Masfuh Banyuwangi.

Dari namanya, Mas Khalifah dapat disimpulkan sebagai seorang  keturunan Arab. Naskahnya ini ditulis pada 6 Jumadits Tsani 1221 H atau sekitar 1806 M.

Dari perbandingan kedua naskah ini, sambung Ayung, dapat disimpulkan bahwa pada awal abad 19 penulis Al Quran di Banyuwangi masih dari kalangan keturunan Arab. Baru sekitar 60 tahun kemudian ada penulis Al Quran dari kalangan masyarakat  lokal.

Hal tersebut, masih sambung Ayung yang menuliskan buku Kronik Ulama Banyuwangi, sesuai dengan perkembangan Islam di Banyuwangi.

Dalam catatan Y.W. De Stoppelaar, Blambangansch Adatrech (1926), agama Islam menjadi mayoritas di Banyuwangi baru pada 1840 ke atas.

Seiring dengan meningkatkan jumlah umat Islam di Banyuwangi, pendidikan Islam pun meningkat hingga melahirkan penulis Al Quran dari Banyuwangi .

Tak hanya memamerkan naskah-naskah Al Quran kuno, dalam kesempatan tersebut Komunitas Pegon juga melakukan pentashihan naskah Al Quran kuno.

Pentashihan dilakukan oleh para hafidz atau penghafal Al Quran yang mengajar di SMP Unggulan Al Anwari. Pentashihan dilakukan untuk memastikan akurasi Al Quran kuno yang ditulis tangan tersebut.

Menurut salah seorang anggota tim pentashih Al Quran kuno, Ustaz Afifi, pihaknya menggunakan naskah Al Quran yang telah ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Quran (LPMQ) Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai pembanding.

LPMQ baru terbentuk pada 1957. Itu berarti bada setelah itu naskah-naskah Al Quran di Indonesia mengalami standarisasi.

“Dari pembacaan kita (terhadap naskah Al Quran kuno) memang ada sejumlah kekeliruan,” ujar Ustaz Afifi.

Misalnya pada surat Al Baqarah, ada sejumlah kesalahan. Seperti pada ayat ke-143  yang seharusnya ditulis “al-rasulu”, tertulis “rasula”.

Lalu pada ayat ke-153 juga demikian. Seharusnya tertulis “ash-shafa” dengan huruf “shat”. Bukan “as-safa” dengan “sin” sebagaimana yang tertera di mushaf karya Mas Ahmad bin Mas Mangun Sastra Banyuwangi.

Kesalahan demikian, imbuh anggota tim yang lain, Ustaz Irfan, bisa jadi karena keterbatasan penulis dalam penguasaan gramatika bahasa Arab, seperti halnya ilmu nahwu dan sharaf. Sehingga silap terhadap detail Al Quran.

“Namun, kesalahan-kesalahan kecil demikian relatif wajar. Karena ditulis tangan. Jadi, bisa dimaklumi,” imbuh Ustaz Irfan.

Pentashihan Al Quran kuno tersebut, direncanakan hingga tuntas sehingga bisa diukur sejauh mana tingkat keakurasiannya.

“Ini kami lakukan bukan untuk mengkoreksi kesalahan para ulama terdahulu, tapi untuk mempelajari perkembangan penulisan Al Quran itu sendiri,” demikian Ayung. 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya