Berita

Publika

Undang-Undang Pengkhianatan Bangsa

SELASA, 21 MEI 2019 | 11:16 WIB

JUDUL ini sengaja dibuat dan diusulkan kepada Anggota DPR RI baik yang kini atau yang akan datang. Urgensinya adalah agar ada hukuman keras untuk para pemimpin negara yang secara licik telah menggadaikan atau menjual aset bangsa kepada negara lain. Atau juga yang langsung atau tidak telah menggerus kedaulatan negara Republik Indonesia dengan "kerjasama" atau kolaborasi bisnis, budaya, maupun politik dengan negara asing.

Hingga kini kita tidak punya perangkat hukum untuk ini. Malahan kini yang dibesar-besarkan justru masalah "makar". Rakyat yang dianggap merongrong kekuasaan negara. Padahal penguasa negara sedang asyik bermain main merongrong kedaulatan negara berkolaborasi dengan negara asing.

Inilah pengkhianatan bangsa itu.


Negara Cina yang sekarang aktif mencari pejabat yang bisa "diajak main". Sebagai contoh kasus jalur sutra baru Cina atau program OBOR. Tanpa persetujuan rakyat kita telah mendatangani dan siap menjadi mitra fasilitasi program Cina. Aset negara dibuka untuk dijelajahi. Liciknya, konon ini bukan G to G Akan tetapi B to B hingga G lepas tangan. Akan tetapi G akan maksimal memfasilitasi B untuk realisasi kerjasama ini. Rakyat dibohongi bahwa negara tidak berhutang pada Cina. Faktanya ketergantungan yang dibangun. Ini penyiasatan dalam rangka pengkhianatan bangsa. Aset negara akan digunakan atas nama B untuk kepentingan G Cina.

Contoh lain soal pembohongan rakyat bahwa saham PT  Freeport 51 persen telah dimiliki oleh negara melalui PT Inalum. Nyatanya untuk akuisisi saja harus seizin Cina. Tidak tahunya saat ini Menteri BUMN tengah sibuk menawarkan kerjasama PT Inalum kepada Cina. Dari dulu saja bicara bahwa termasuk  51 persen saham Freeport akan diperjuangkan untuk dialihkan kepada pihak Cina. Ini model pengalihan aset kepada asing atas nama bisnis dan investasi. Hakekatnya merupakan suatu penjajahan meski semu atau "quasi colonialism".

Bisnis dengan pencitraan dan atas nama "memakmurkan rakyat"- padahal komisi berceceran - seperti ini membentuk rezim yang kolusif. Pejabat penting memainkan bisnis keluarga bekerjasama dengan mitra pengusaha Cina memanfaatkan aset dan proteksi Negara. Jutaan tenaga kerja asing siap bekerja di berbagai sektor usaha menggeser pribumi. Lahan lahan habis dikuasai. Keuntungan pun ditarik ke luar negeri. Republik Rakyat Cina.

Sebagai penganut rezim devisa bebas, maka pelarian modal (capital flight) menjadi tak terkendali. Ini modus yang harus dikategorikan sebagai kejahatan. Karena berdampak luas.

Undang-Undang Pengkhianatan Bangsa tentu memiliki kriteria mengenai kualifikasi perbuatan melawan hukum. Dimensinya bisa ideologi, politik, ekonomi atau lainnya. Yang jelas adalah agar dapat dicegah penggerusan kedaulatan negara dan penguasaan aset oleh negara asing akibat dari  berbagai kebijakan atau kepentingan pejabat negara. Pengusaha dan swasta lain yang bukan pejabat pun dapat  terjangkau sebagai pelaku atau penyerta perbuatan pengkhianatan tersebut. Aturan ini dirasakan mendesak dan menjadi penting untuk mengembalikan atau mempertinggi semangat nasionalisme di tengah dahsyatnya arus pragmatisme. Bila lalai ujungnya akan mengancam aspek ideologi.

Dimanapun pengkhianatan itu adalah kejahatan. Apalagi pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Karenanya buat segera Undang-Undang tentang Pengkhianatan Bangsa.

Para pengkhianat harus dipenjara atau dihukum mati.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional.

M. Rizal Fadillah
Pengamat politik, tinggal di Bandung.

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

OJK Minta Masyarakat Waspada Scam Berkedok Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:12

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Pantau Kebijakan OPEC+ dan Arab Saudi

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:03

PSI Sulit Jadikan Jateng Kandang Gajah Jika Hanya Andalkan Jokowi

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:57

Prabowo Bersiap Gelar Pertemuan Bilateral dengan Modi di Istana Pagi Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:54

IHSG Menguat, Rupiah Bergerak ke Rp17.985 per Dolar AS

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:48

BBNI Tuntaskan Buyback 2026, Saham Dialihkan Penuh untuk Program Pegawai (ESOP)

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:45

PPP Menangkan Lima Gugatan Sengketa Internal, Legalitas Kepengurusan Semakin Kuat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:38

GREAT Insitute: Perubahan Pradigma Pembangunan Indonesia Diakui Dunia

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Harga Emas Antam Anjlok Rp15 Ribu, Termurah Rp1,37 Juta

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Keputusan RI Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei Sangat Tepat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:22

Selengkapnya