Berita

Nasaruddin Umar/Humas BNPT

Nusantara

Hadir Di Situasi Yang Tepat, Ramadan Momentum Saling Mendamaikan

JUMAT, 10 MEI 2019 | 13:34 WIB | LAPORAN:

Beberapa hari sebelum hadirnya bulan Ramadan ini, digelar pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) serentak di mana ada proses kampanye yang sangat panjang dan menyita perhatian publik sehingga masyarakat Indonesia seperti dibuat terkotak-kotak karena adanya fitnah, penyebaran kabar bohong (hoax) dan sebagainya.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH. Nasaruddin Umar menghimbau kepada masyarakat Tanah Air, khususnya umat muslim harus bisa memaknai bulan Ramadan ini sebagai momentum terbaik untuk mempererat tali persaudaraan, perdamaian dan saling memaafkan.

"Saat sebelum Pemilu kemarin tentunya kita pernah dilukai hati kita oleh orang lain, mungkin kita pernah dikecewakan oleh orang lain. Dan bahkan kita mungkin juga pernah mengecewakan atau melukai hati orang lain. Nah di bulan suci Ramadan ini kita dianjurkan untuk saling memaafkan untuk mempererat tali persaudaraan dan perdamaian," ujar Nasaruddin di Jakarta, Jumat (10/5).


Lebih lanjut mantan Wakil Menteri Agama ini berharap dengan adanya bulan Ramadan ini, semua pihak dapat mendinginkan situasi yang diibaratkan panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari.

Bulan suci Ramadan ini hendaknya dijadikan bulan penyejuk, bulan pendingin dan bulan untuk mendamaikan satu sama lain.

"Jadi kita tidak ada lagi semacam dendam, tidak ada lagi kekecewaan yang muncul, sehingga ringan beban kita dan termaafkan oleh Allah SWT secara vertikal, dan ringan juga beban kita karena kita sudah saling memaafkan secara horizontal," pinta pria kelahiran Bone, 23 Juni 1959 ini.

Selanjutnya ke depan lebih fokus untuk membangun negeri ini di masa depan, agar bangsa ini bisa bersaing dengan negara-negara yang sudah maju lainnya.

"Dan kalau perlu kita bisa melebihi negara-negara lainnya itu. Karena kita ini kan berobsesi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yakni negeri yang sangat indah dan  penuh dengan pengampunan Tuhan," kata pria yang juga Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini. 

Menurutnya, segenap warga masyarakat dan bangsa Indonesia harus bisa bersyukur dan belajar di sebuah pengalaman yang sangat bagus dalam demokrasi di Indonesia ini. Sebab, banyak sekali orang di masyarakat Timur Tengah yang negara-negaranya mayoritas muslim ingin seperti Indonesia.

"Karena di negara mereka (kawasan Timur Tengah) pimpinannya itu ditentukan nasibnya oleh segelintir orang yang berdarah biru, di mana meraka ini adalah negara Kerajaan. Jangan mimpi bisa menjadi Kepala Negara kalau tidak ada turunan darah birunya," ujar pria yang juga Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) ini.

Hal ini menurutnya sangat berbeda jauh dengan di Indonesia, di mana setiap warga negara itu bisa dan punya hak untuk menjadi kepala negara sekalipun. Sementara di negara-negara Kerajaan tentunya tidak mungkin bisa seperti Indonesia.

"Nah jadi itu. Jadi kita harus bersyukur kalau ada kemarin hal-hal yang sedikit riak-riak itu sebenanya adalah bumbu-bumbu demokrasilah. Lebih baik seperti itu daripada terlihat suasana yang adem, tapi sebenarnya terlihat mencekam  Kalau itu terjadi, ledakannya bisa seperti di Suriah, Irak,  Afghanistan. Tentunya kita tidak ingin seperti itu," jelas peraih Doktoral dari Universitas Leiden, Belanda ini.

Bulan suci Ramadan ini menurutnya  betul-betul sangat indah karena bisa mendamaikan semua orang serta bisa menyejukkan situasi.

"Di mana malam-malam kita bisa pergi untuk bertarawih bersama, kemudian di dalam masjid sudah tidak ada lagi yang namanya 01 atau 02. Hilanglah semua itu di dalam masjid. Yang ada hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Allahu Akbar, kan seperti itu," imbuhnya.
 
Ia juga mengimbau kepada para tokoh bangsa, agama dan masyarakat untuk bisa menahan diri, apalagi memberikan pernyataan yang membikin situasi menjadi keruh kembali. 

"Hemat saya, bukan orang hebat, bukan oranglah pintar yang tidak pernah mengerem apapun yang ada di dalam benaknya. Tidak mesti harus mengungkapkan semua uneg-uneg yang mampir di Kepala kita. Karena orang yang matang adalah orang yang mampu untuk bicara seperlunya’ tuturnya.

Karena menurut mantan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam di Kementerian Agama ini, tidak ada keuntungannya membuat suasana menjadi keruh.

"Biarkanlah orang lain mungkin jatuh, tapi jangan karena dari mulut kita. Mari kita jangan menjadi faktor penyebab situasi semakin keruh, tapi jadilah faktor yang dapat membikin situasi menjadi lebih tenang,” katanya mengakhiri.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya