Berita

Soematri dan Achmad Sostrohadikoesumo/Net

Publika

Emak-Emak Dan Perubahan Sosial

MINGGU, 21 APRIL 2019 | 20:49 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

FOTO Soematri, adiknya Raden Ajeng Kartini, bersama suaminya Achmad Sostrohadikoesumo terlihat mesra dan equal.

Foto yang dipampang di website "Indische Letteren, KITLV" diberi catatan ”Ook als dit jaartal er niet bij zou staan, zou deze foto niet veel eerder kunnen zijn gemaakt. Aan de voorzijde zit Soematri met een tijdschrift in de hand naast haar echtgenoot Achmad Sostrohadikoesoemo. Hun handen raken elkaar. Beiden zijn duidelijk gelijkwaardig. Kartini's strijd was niet tevergeefs geweest.” Baca: Di sini.

Padahal, sebelumnya, surat Kartini kepada Rosa Abendanon, ditulis di balik foto Kartini dan dua adiknya berbunyi ”Aan onzen lieven, goeden Engel! Hier heeft u voor het laatst het driebond bijeen. Het lot zal dra een blaadje afplukken van Uw klaverblad, maar in Uwe herinnering leve het voort zooals op dit portret drie blaadjes aan één steel, drie harten en hoofden in alles één!’”.


Rosa yang dianggap Kartini sebagai "malaikatnya" untuk curahan hati, yang dalam kalimat di atas menunjukkan kepedihan hati Kartini bahwa mereka yang bertiga bagaikan tiga daun yang terikat (klaverblad) dan akan segera satu terpetik. (Satu akan dikawinkan) Kartini sedih dalam budaya mereka perempuan-perempuan tidak mempunyai kebebasan menentukan masa depannya setelah akil baligh. Mereka segera dikawinkan.

Suatu hari Kartini meminta Rosa agar bertanya pada meneer Snouck Horgronje, penasihat Islam Kerajaan di Hindia Belanda. Bagaimana sebenarnya dalam lslam tentang "hukum akil baligh”? Namun jawaban Snouck Horgronje "baik-baik saja",  sesuatu yang membuat Kartini merasa tidak puas. Bagaimana di Eropa? Apakah gadis kecil akil baligh harus dipingit? Untuk dikawinkan?

Singkat cerita Bangsa Indonesia mempunyai pahlawan wanita bernama Kartini. Karena Kartini memperjuangkan hak-hak gadis Jawa agar hidupnya seperti gadis Belanda.

Persoalan pokok saya bukanlah mempertanyakan seberapa penting surat menyurat Kartini, sehingga dia menjadi pahlawan? Namun, apakah Islam mempunyai peran dalam mengekang gadis-gadis Jawa saat itu? Atau sesungguhnya budaya Jawa saat itu yang mengekang mereka?

Dari foto yang diperlihatkan Soematri dengan suaminya Achmad (nama khas lelaki Islam), duduk setara sambil berpegangan tangan, terlihat bahwa adiknya Kartini ini dalam masa seratusan tahun lalu itu, benar-benar equal, egaliter, jauh dari suasana yang digambarkan Kartini tentang perempuan Jawa.

Soal poligami adalah soal kedua yang digugat Kartini. Kartini menggugat soal ini karena kenyataan bahwa ibunya dimadu dan kehilangan peran dalam keluarga besar mereka.

Poligami dalam keluarga Kartini bukanlah poligami yang dianjurkan Islam. Poligami dalam Islam adalah poligami bersyarat, yang terkait dengan perlindungan terhadap wanita. Dalam masa Rasulullah, misalnya, dianjurkan untuk menafkahi (materi dan bathin) janda-janda korban perang.

Poligami yang digugat Kartini adalah produk budaya (ningrat) Jawa masa itu di mana kaum ningrat memang senang kawin?

Dalam masa lalu,  mungkin Kartini cukup berharga untuk dikenang. Namun, urusan Kartini agar dia bisa seperti gadis Belanda, seperti suratnya pada Estella Zeehandelaar, soal imaginasi kebebasan dan emansipasi perempuan, haruslah dilengkapi dengan peranan perempuan dalam membangun bangsa.

Urusan perempuan membangun bangsa adalah seperti yang dilakukan gerakan emak-emak belakangan ini, masuk pada tema-tema menuntut kedaulatan bangsa, kemajuan ekonomi dan UMKM, dan membangun organisasi sendiri secara nasional.

Emak-emak yang bergerak selama ini melawan rezim Jokowi bukanlah emak-emak yang berkonde. Emak-emak ini didominasi emak-emak Muslimah, meskipun spiritnya nasionalistik.

Penekanan muslimah bagi saya hanya untuk menunjukkan kebohongan para pengkhianat bangsa yang mem-framing seolah olah ajaran Islam adalah penindasan bagi wanita. Sebaliknya ajaran perempuan berkonde adalah ajaran emansipasi.

Dari jaman dahulu kala, Islam adalah ajaran pembebasan.  Emak-emak Islam tidak dibatasi di luar rumah. Namun, bukan berarti tanpa batas.

Fenomena emak-emak menggerakkan perubahan sosial dalam beberapa tahun belakangan ini adalah fenomena super hebat, di mana seandianya Kartini masih hidup, dia tidak perlu membanggakan gadis Belanda sebagai referensi, cukuplah sosok emak-emak yang fenomena saat ini, sebagai contoh teladan.

Emak-emak saat ini adalah emak-emak yang mengendalikan emansipasi, equality, dan egalitarian.  Ini adalah modal sosial bangsa kita memajukan bangsa.

Hidup emak-emak. Tetap gelorakan perjuangan.  Selamat Hari Kartini ya.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang-Merauke Circle

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

OIKN Siapkan Rangkaian Prosesi Penghormatan dan Pemakaman Troy Pantouw

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:25

Tugu Koperasi Tasikmalaya Direvitalisasi Jadi Cagar Budaya Nasional

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:18

BMKG Minta Masyarakat Waspadai Gelombang Tinggi di Beberapa Perairan Indonesia

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:11

Lesley Simpson Racik Drama Psikologis Bunga di Tepi Jurang

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:05

Indonesia Harus Terdepan Gerakkan Dunia Internasional Selamatkan Gaza

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:00

SMRC Catat Kepuasan Publik terhadap Prabowo Turun 30 Persen

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:58

Mantri BRI Jangkau Masyarakat Pegunungan Toraja Utara Hadirkan Layanan Perbankan

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:28

Sudaryono Jangan Sesatkan Publik soal Mitos Telur Penyebab Bisul

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:19

KPK Usut Dugaan Suap ke Pejabat Pemkot Bengkulu

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:12

Kemenkes Perluas Skrining HIV, Putus Rantai Penularan di Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 12:42

Selengkapnya