Berita

Surat suara yang tercoblos di Malaysia/Net

Politik

Pencoblosan Di Malaysia Perlu Diulang Di Tempat Netral

JUMAT, 19 APRIL 2019 | 12:52 WIB | LAPORAN:

Desakan penyelenggaraan pemungutan suara ulang (PSU) di Malaysia terus berdatangan. Kali ini desakan itu datang dari kalangan akademisi.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin menilai PSU harus diselenggarakan lantaran KPU memusatkan acara pencoblosan hanya di tiga tempat yang dinilainya kurang netral, yakni di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Wisma Duta (rumah dinas Dubes), dan sekolah Indonesia.

"Tempatnya tidak netral. Bisa mengundang pertanyaan masyarakat. Disaat yang sama KPU sedang berusaha dipercaya masyarakat. Dan juga harus bertindak netral," katanya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (19/4).


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menuntut PSU karena sebelumnya, dalam rekaman video yang viral kertas suara tercoblos ada caleg Partai Nasdem yang juga putra Dutabesar Indonesia untuk Malaysia Rusdi Kirana, Davin Kirana ikut tercoblos.

Namun pihak KPU beralasan kalau mereka memusatkan proses pemilihan di tiga tempat karena tidak diberi akses oleh polisi Diraja Malaysia. Padahal tadinya ada 255 tempat pemungutan suara (TPS) yang dipersiapkan untuk sekitar 126 ribu pemilih di sana.

Menurut Ujang, KPU harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara. Kritikan masyarakat pun harus diperhatikan untuk menjaga netralitas. Untuk itu, dia meminta KPU segera melakukan PSU di negeri Jiran tersebut.

"Pemungutan ulang baiknya jangan dilakukan di Kantor Kedubes dan Wisma Duta. Karena itu, kan masuk wilayah kekuasaan dubes, yang merupakan ayah dari Davin yang kertas suara sudah dicoblos. Perlu dicari tempat yang netral. Sehingga, masyarakat akan percaya dengan hasilnya," pungkasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Konflik Memanas di Yaman Selatan, RI Dukung Saudi Gelar Konferensi Damai

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:16

Kuasai 51,57 Persen Hak Suara, Danantara Tetap Jadi Pemegang Saham Mayoritas Telkom

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:03

Bank Raya Perkenalkan Kartu Digital Debit Visa di Momentum Tahun Baru 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:50

Investor di Asia Hati-hati Sikapi Gejolak Politik Global

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:36

Rencana Prabowo Bangun 1.100 Kampung Nelayan Tahun 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:28

Kebijakan Chromebook Era Nadiem Rawan Dikriminalisasi

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Bukan Sejahtera, Rakyat Indonesia Bahagia karena Beriman!

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Menlu AS akan Bertemu Pejabat Denmark Soal Akuisisi Greenland

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:21

Pertama di Indonesia, BRI Raih Sertifikasi TMMi Level 3

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:13

Swasembada Harus Berdampak pada Stabilitas Harga Pangan

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:11

Selengkapnya