Berita

Foto:Ilustrasi

Politik

Rizal Ramli Ibaratkan Pacar Tertukar, Belajarlah Etika Debat Dari Sukarno…

SABTU, 23 FEBRUARI 2019 | 10:46 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

DALAM sebuah debat politik di tahun '20-an Sukarno pernah ditegur keras oleh pimpinan rapat karena melontarkan pernyataan yang menyerang pribadi lawan bicaranya. Yaitu seorang gadis bernama Suwarni, yang di kalangan pemuda pergerakan ketika itu dikenal sebagai jago debat.

Saking jagonya ia dijuluki "Madame Sun Yat Sen", istri Dr Sun Yat Sen, yang terkenal tidak mudah dikalahkan dalam berdebat.

Sukarno gusar akibat dicecar oleh pertanyaan dan pernyataan-pernyataan kritis yang dilontarkan oleh Suwarni, sehingga membentak nona ini dengan agak kasar dalam bahasa Belanda.


Pimpinan rapat, Sutan Sjahrir, yunior Sukarno dalam usia dan dalam urusan pengalaman politik serta-merta mengetuk palu memprotes sikap Sukarno.

Ia minta Sukarno tidak menggunakan bahasa Belanda dalam rapat kaum nasionalis seperti itu, dan tidak mengucapkan kata-kata kasar kepada Suwarni.

Teguran itu membuat Sukarno kaget dan terperangah, tetapi dengan cepat Sukarno menyadari kekeliruannya dan menyampaikan maaf kepada forum dan juga kepada Suwarni.

Sebagai seorang pemimpin ia sadar harus memperlihatkan kesopanan dan menunjukkan adab yang terpuji. Bukan membentengi kesalahan-kesalahan dengan sikap sok kuasa, tidak tau malu, atau menyemburkan hoax sambil menuding orang lain melakukannya seperti lazimnya dilakukan oleh elit kekuasaan hari ini.

Para peserta rapat yang rata-rata berusia 19 dan 20 tahun yang umumnya menghormati dan mengagumi Sukarno juga terkejut atas kejadian itu, sehingga menimbulkan bermacam-macam reaksi. Ada yang menduga Sukarno bakal dendam kepada Sjahrir.

Tetapi ternyata tidak.

Waktu mau sekolah ke Belanda, 1929, salah satu yang pertama didatangi Sjahrir adalah Sukarno. Di saat pamitan itu Sukarno menasehati supaya tekun belajar dan menyelesaikan studi lebih dulu sebelum terjun ke gelanggang politik.

Elite Indonesia di zaman itu umumnya masih menjaga fatsun dan punya decency. Watak mereka terbentuk oleh dialektika pemikiran, garis perjuangan, dan ideologi. Mereka mendisiplinkan diri dengan belajar, berdiskusi, berargumentasi, dan berdebat, mereka umumnya bersiap untuk memimpin.

Tujuan debat adalah untuk menunjukkan kebenaran terhadap sesuatu yang sedang dipermasalahkan. Debat dengan argumentasi yang benar yang didasari oleh data yang tepat merupakan cara untuk mendukung sesuatu yang ingin ditegakkan atau dijalankan.

Esensi perjuangan diplomasi kita seperti Perjanjian Linggarjati, Renville, Perudingan Meja Bundar, dan seterusnya, pada dasarnya juga bertumpu pada kecanggihan debat para elite Indonesia pada masa itu.

Tetapi sekarang kita terlalu gampang menyerahkan tongkat kepemimpinan negeri ini kepada orang yang bahkan di dalam berdebat pun tidak memahami etika, tidak menguasai data, dan kemampuan berbahasa asingnya rendah, sehingga lebih banyak menyemburkan hoax dan jadi bahan tertawaan belaka.

Kita terlalu gampang menyerahkan posisi tertinggi kepemimpin negeri ini kepada orang yang tidak memahami sejarah, kebudayaan, ekonomi, geopolitik, dan konstitusi. Menyerahkannya kepada seorang pengidap minderwardig-complexen sehingga Indonesia kini memalukan dalam tata pergaulan dunia.

Jauh sebelum ramai pemberitaan tentang debat capres-cawapres yang difasilitasi oleh KPU (yang kemudian mengundang olok-olok publik), Rizal Ramli sejak mahasiswa di ITB dan dalam kapasitas sebagai Menko Maritim dan Sumber Daya sudah menunjukkan tradisi dan nyali berani berdebat untuk membuktikan kebenaran.

Waktu itu misalnya Rizal mengajak Wapres Jusuf Kalla berdebat mengenai proyek listrik 35.000 megawatt yang menurutnya tidak realistis untuk diwujudkan, termasuk soal pembelian pesawat airbus oleh Garuda Indonesia yang lebih banyak merugikan BUMN. Pendapat Rizal Ramli ini beberapa bulan kemudian terbukti benar. Fakta-fakta dari kebenaran itu dapat dilihat dari berbagai laporan di media massa.

Adapun Wapres JK menyikapi tantangan debat dari Rizal Ramli tersebut lebih memilih bersikap normatif, tanpa argumentasi.

Tantangan debat lainnya juga ditawarkan Rizal Ramli kepada menteri keuangan terbaik yang katanya berkelas dunia versi IMF & World Bank, yang oleh Ketua DPR Bambang Soesatyo disebut sebagai Sales Promotion Girl-nya IMF & World Bank, yaitu Sri Mulyani. Rizal mengajak Sri berdebat soal utang.

Seperti diketahui dalam masa empat tahun pemerintahan Jokowi-JK utang pemerintah mencapai lebih Rp 4.000-an triliun. Namun pemerintah selalu mengklaim utang tersebut masih dalam level aman. Padahal telah mengakibatkan implikasi negatif bagi perekonomian masyarakat dan pertumbuhan perekonomian nasional.

Merespons tantangan debat tersebut seperti halnya JK, Sri juga hanya mampu memperlihatkan sikap normatif dan menghindar dari kejaran pers tanpa argumentasi.

Lalu apa pandangan Rizal Ramli mengenai debat Pilpres saat ini?

Rizal antara lain menekankan pentingnya karakter. Karakter dalam debat capres harus terlihat orisinil karena esensi debat adalah berkomunikasi dengan rakyat, tidak boleh bagaikan kisah telenovela atau opera sabun… pacar yang tertukar.

Note:
Suwarni Ketua Puteri Indonesia (organisasi modern emansipasi perempuan Indonesia di tahun 1920-an). Ia menikah dengan A.K Pringgodigdo, Sekretaris Kabinet setelah RIS (pernah Ketua BPK 1957-1961), adik dari A.G Pringgodigdo, Sekretaris Kabinet sebelum RIS. Keduanya alumni sekolah hukum Universitas Leiden, pencatat (notulen) perdebatan dari rapat atau sidang-sidang panitia persiapan kemerdekaan Indonesia sekitar Mei 1945 dengan tulisan steno. [***]

Penulis adalah wartawan senior.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya