Berita

Bagi Dhimam Abror/Dok

Dhimam Abror Djuraid, Dari Jurnalisme Ke Politik

SELASA, 12 FEBRUARI 2019 | 18:08 WIB | LAPORAN: SUKARDJITO

. Jurnalisme dan politik adalah dua hal yang beda tipis. Jurnalisme membela kepentingan publik dan melakukan kontrol sosial melalui media, sedangkan politik melakukannya melalui kekuasaan.

Bagi Dhimam Abror (55) jurnalisme sudah menjadi obsesi sepanjang hidup. Meskipun sudah tidak secara formal bekerja di lembaga media resmi, tetapi jurnalisme tetap menjadi passionnya.

Mengutip Bill Kovac, Abror mengatakan bahwa kewajiban utama jurnalisme adalah memperjuangkan kepentingan publik dan karenanya kesetiaan jurnalis hanya diberikan kepada publik bukan penguasa.


Kovac juga terkenal dengan ungkapannya bahwa jurnalisme sudah menjadi "agama" baginya.

"Artinya, Kovac memandang jurnalisme sebagai nilai tertinggi yang sakral dalam hidup," kata Abror.

Doktor ilmu komunikasi ini menambahkan, di Indonesia tradisi jurnalistik dan politik berjalan bersama-sama. Sebagian besar para founding fathers negeri kita dan para pejuang kemerdekaan adalah jurnalis sekaligus politisi.

Soekarno, Hatta, Sjahrir, sampai ke generasi Adam Malik, Sumanang, dan B.M Diah adalah wartawan sekaligus pejuang bangsa.

"Karena jurnalisme dan politik mempunyai misi yang mirip maka banyak pejuang kita yang juga berprofesi sebagai jurnalis," kata Abror.

Karir jurnalistik Abror lengkap. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos, kemudian menjadi pemimpin redaksi Harian Surya (Kompas Group) kemudian menjadi pemimpin redaksi Surabaya Post.

"Saya sudah pernah menjadi pemimpin redaksi semua koran besar di Surabaya, karena itu pengalaman saya sudah mentok," kata bapak tiga anak dan kakek satu cucu ini.

Di organisasi kewartawanan Abror juga mempunyai pengalaman segudang. Ia menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dua periode 2000 sampai 2010. Sampai sekarang Abror adalah penasihat PWI Jatim.

Pengalaman jurnalistiknya lengkap. Hampir seluruh kota besar di lima benua pernah dijelajahinya. Abror pernah menjadi koresponden Jawa Pos di Australia selama empat tahun pada 1990. Akibat krisis moneter pada 1997 Abror ditarik kembali ke Indonesia.

Abror juga pernah magang beberapa bulan di Harian USA Today Amerika Serikat, dan dalam beberapa kunjungan ke negara bagian Amerika Serikat dia melakukan studi banding ke berbagai media terkemuka seperti New York Times dan Washington Post.

Hobi utama Abror adalah olahraga terutama sepakbola. Sampai sekarang, meskipun usia sudah kepala lima, Abror masih aktif bermain sepakbola paling tidak dua kali dalam seminggu. Hobinya ini membawanya menjadi ketua PSSI Jatim pada 2005. Abror juga pernah menjadi manajer Persebaya dan direktur olahraga Persebaya pada musim kompetisi 2015.

Hobi olahraga juga membawa Abror menjadi ketua harian KONI Jawa Timur (2010-2017). Ia memperkenalkan pendekatan sport science dalam pengembangan prestasi atlet dan, berhasil membawa Jatim menjadi runner up pada PON 2016 di Jawa Barat.

Pengalaman politik praktis Abror dimulai pada 2015 ketika mencalonkan diri sebagai walikota Surabaya menantang petahana Tri Rismaharini. Abror mendapatkan dukungan dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat. Tapi sayangnya pencalonan Abror dibatalkan oleh KPU Surabaya karena pada saat pendaftaran wakil Abror, Haris Purwoko, melarikan diri dan gagal mendaftar.

Abror belajar banyak dari kegagalan pencalonan itu.

"Kalau mau terjun ke politik jangan tanggung-tanggung, harus total," tegas Abror.

Ia memutuskan untuk masuk partai politik dan pilihannya jatuh ke PAN. "Saya punya kedekatan ideologis dengan PAN," kata Abror.

Abror melihat PAN sebagai partai yang inklusif dan menjunjung pluralisme, meskipun basisnya Islam. Kini, Abror menjadi calon anggota legislatif (Caleg) untuk DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur 1 yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo.

Dapil Jatim 1 disebut sebagai dapil maut karena berkumpul caleg-caleg kelas berat. Dari PDIP ada Bambang DH, Puti Guntur, dan Indah Kurnia. Dari PKB ada nama Arzetti Bilbina dan Fandi Utomo, dari Golkar ada Adies Kadir, dari Gerindra ada Bambang Haryo. Dari PAN ada petahana Sungkono.

Ditanya mengenai kansnya Abror mengatakan optimistis, karena dia mempunyai basis massa yang cukup luas dan popularitas yang cukup tinggi. Selain basis olahraga Abror juga mempunyai basis Muhammadiyah yang solid.

Persaingan dengan petahana Sungkono diakuinya berat karena petahana punya resource yang berlebih. Tapi, kalau petahana fokus ke Sidoarjo dan Abror serius menggarap Surabaya bukan mustahil dua kursi akan didapat. [rus]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Biodigester Komunal Sampah Organik Dibangun di Rusunawa

Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:11

Polisi Harus Usut Promosi Miras Berkedok Challenge Hafalan Al-Qur'an

Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:06

Wisata Probolinggo Jadi Alternatif Usai Bromo Ditutup

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:48

Peluang Besar Jakarta Gaet Investor Lewat JAFEX 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:25

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Layanan Publik Pemda Harus Tetap Berjalan Meski Keadaan Sulit

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:31

Jangan-jangan Gibran Punya Ijazah Sarjana Tanpa Ijazah SMA

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:27

Challenge Hafalan Qur'an demi Miras Melukai Hati Umat Islam

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:10

Abdoel Moeis: Sastrawan, Wartawan, Pahlawan

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:34

Dokter Tifa Ajak Rakyat Hadiri Sidang Praperadilan di PN Jaksel

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:06

Selengkapnya