Berita

Politik

Jelang Pemilu, Pengurus Lingkungan Wajib Waspadai KTP Palsu

KAMIS, 31 JANUARI 2019 | 21:03 WIB | LAPORAN:

Untuk mengantisipasi terjadinya kecurangan dalam Pemilu 2019, aparat pengurus lingkungan seperti camat dan lurah diminta dapat mengawasi peredaran kartu identitas (KTP-el) palsu.

Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengingatkan, KTP palsu dapat menimbulkan efek domino. Efek dari penggelembungan suara secara gaib melalui KTP palsu disebutkannya dapat memunculkan gangguan dalam ketertiban masyarakat akibat saling klaim dari pendukung calon presiden.

"Lurah dan camat antisipasi KTP palsu. Yang banyak dibuat (KTP) tapi orangnya tidak ada. Sekarang sistem IT (informasi dan teknologi) semakin canggih, semakin susah dipalsukan," pesan Sahroni dalam kunjungan kerja ke Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (31/1).


Politisi Partai Nasdem itu meminta para pengurus RW (rukun warga) untuk tidak menolak siapapun calon peserta pemilu, baik tingkatan pemilihan presiden hingga legislatif yang datang ke wilayahnya.

"Siapapun caleg tidak boleh dilarang masuk ke wilayahnya. Karena itu adalah bagian demokrasi, bagian pestanya rakyat lima tahunan. Bapak, ibu untuk DKI Jakarta memegang empat kertas suara, di situlah proses memilih pimpinan di wilayahnya," jelas Sahroni.

Di samping menyosialisasikan proses pemilu agar berjalan baik, Sahroni memanfaatkan kunjungan ke daerah pemilihannya untuk menyerap segala persoalan di tengah warga.

Terkait pengawasan peredaran KTP palsu, Camat Tanjung Priok Syamsul Huda menyampaikan bahwa pihaknya melakukan rapat evaluasi setiap pekan untuk membahas persoalan kependudukan, khususnya menjelang pemilu. Penduduk di Kecamatan Tanjung Priok sendiri berjumlah lebih dari 400 ribu orang.

"Kita ada seminggu sekali rapat evaluasi, gabungan dengan PPK (panitia pemilihan kecamatan), panwas (panitia pengawas) serta Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil). Permasalahan terkait kependudukan dibahas di situ," bebernya. [wah]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya