Berita

Hariman Siregar/Net

Publika

Saya Belajar Banyak Darinya, Sosok Itu Bernama Dokter Hariman Siregar

Surat Terbuka untuk Gerakan Mahasiswa Indonesia
JUMAT, 18 JANUARI 2019 | 14:15 WIB

LAHIR pada 1 Mei 1950, dia akan berusia 69 tahun, sebuah angka penanda kematangan jiwa dan pemikiran bagi seorang manusia. Beberapa hari lalu saya kembali melihatnya berpidato, macan podium yang tak pernah surut keberanian dan heroisme kerakyatannya. Tokoh langka di negeri ini, senang menyepi dari panggung kekuasaan buruan para elite politik mainstream. Dokter Hariman Siregar namanya, Abang panggilan kesayangannya.

Ya, tepat 15 Januari 2019 kemarin, saya yakin Bang Hariman gelisah akan nasib republik yang tak jua maju. Masih sama (andai tak mau dikatakan lebih mundur) daripada keadaan 45 tahun yang lalu, saat dia bergerak bersama ribuan mahasiswa dan rakyat melakukan longmarch dari kampus UI Salemba, untuk menentang dominasi modal asing dan kritik terbuka kesalahan strategi pembangunan Orde Baru.

Malari, Malapetaka Limabelas Januari. Sebuah singkatan stigmatisasi hitam rekayasa intelijen Orde Baru guna memukul mundur gerakan mahasiswa 1974 yang kian radikal dan progresif, dipimpin seorang anak muda gelisah bernama Hariman Siregar. Begitu banyak pengorbanan pribadi yang harus dia berikan saat itu, tapi Abang tetap kokoh berdiri menantang ombak kehidupan, hingga saya melihatnya beberapa malam lalu. Kami berpisah setelah saya diberikan buku baru berjudul "Menjadi Benih Perlawanan Rakyat. Hariman Siregar, Malari '74 dan Demokrasi Indonesia," yang kini telah ditandatangani beliau dengan pesan khusus, "Untuk Ritam, Jangan Berhenti!".


Saat acara peringatan 45 tahun Malari di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat kemarin, saya yakin Abang sangat bahagia banyak sahabat lama dan para yuniormu yang datang, tak peduli sekarang di kubu mana, 01 atau 02 atau bahkan akan tetap memilih untuk tidak memilih. Tapi dari kejauhan, saat Abang tampak sibuk memainkan gadget mengambil foto dari atas tribun kanan Teater Kecil, saya menatap penuh kasih sambil menebak bahwa ingatan Abang pasti sedang kembali bernostalgia ke masa silam, hari di mana perlawanan mahasiswa kembali menunjukkan taringnya menghadapi kekuasaan besar bernama negara.

Bang, resahmu akan negeri dan nasib rakyat, takkan jauh beda dengan resahku. Mimpimu akan demokrasi yang berkeadilan, semoga juga akan tetap terpatri kuat di semangat juangku. Terkadang, apa yang kita perjuangkan, takkan selalu sama dengan hasil yang kita dapatkan.

Cita-cita mulia kita masih butuh waktu dan proses agar dapat terwujud sesejatinya seperti yang selalu kau ajarkan, bahwa demokrasi yang benar membutuhkan 4 hal yakni hukum yang adil, partai politik yang sehat, pers yang mandiri dan masyarakat sipil yang kuat. Semua masih buram abu-abu, karena ternyata kita masih harus menunggu datangnya pemimpin baru yang mengerti hakikat demokrasi, masa di mana disparitas ekonomi mengecil, juga negara hadir sebagaimana mestinya.

Kau juga bilang di atas podium beberapa hari lalu bahwa kini demokrasi dibajak oleh uang dan para pemodal, sehingga pembangunan belum berpihak kepada rakyat miskin, sibuk berhutang dan memanjakan modal asing, sebagaimana slide video backdrop panggung di belakangmu, Bang. Tak ada yang bisa membantah seruanmu, walau kini penguasa terus sibuk berdalih dengan berbagai angka statistik yang meragukan bagi kita, kaum yang sadar akan fakta dan data riil lapangan.

Bang, doakan kami para yuniormu generasi 1998 mampu terus melanjutkan amanah perjuanganmu mengembalikan demokrasi (walau sesungguhnya revolusi yang kita mau), agar tatanan ekonomi-politik lebih berpihak kepada rakyat dan semua setara di depan hukum. Terima kasih atas bimbingan dan nasehat berpuluh tahun, yang membuat saya tetap tegar di tengah gelombang pragmatisme dan politik transaksional yang mendisintegrasi bangsa.

Bang, tetap semangat dan sehat selalu agar kita dapat duduk bersama saat sang pemimpin yang kita tunggu akan hadir untuk membenahi republik yang kita cintai sepenuh hati ini. Bila belum tiba waktunya, semoga para pelanjut gerakan mahasiswa Indonesia akan meneruskan jejak langkah dan konsistensimu. Demi demokrasi, untuk rakyat.

Ya, saya Ricky Tamba, saya belajar banyak darinya, sosok itu bernama Dokter Hariman Siregar. [***]

Ricky Tamba
Jurubicara Jaringan '98.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

DPR Dorong Pemerataan APBN Demi Daerah 3T Tidak Tertinggal

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:50

Utut Adianto Ngarep PDIP Tidak Ditinggalkan dalam RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:20

Dasco Pastikan Tak Akan Tinggalkan Fraksi PDIP di RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:50

Pidato Prabowo Bukti Pemerintah Berada di Jalur yang Benar

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:23

Purbaya: Pajak Karbon Motor BBM Masih Dikaji, Belum Final

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:57

Prabowo Pilih Guyur Insentif Motor Listrik Ketimbang Perbesar Subsidi BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:45

Perkuat Pasar Muslim Jelang Libur Akhir Tahun, Taiwan Bidik Wisatawan RI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:14

RUU Daerah Kepulauan jadi Kado Puluhan Juta Masyarakat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:59

Pidato Kenegaraan Prabowo Tunjukkan Kejelasan Arah Pemerintah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:31

Status Tim Penyelesaian Sengketa Internal PPP Dinilai Cacat Hukum

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:07

Selengkapnya