Berita

Pasca tsunami/RMOL

Global

Tsunami Selat Sunda Picu Kewaspadaan Jepang

SENIN, 31 DESEMBER 2018 | 07:27 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tsunami Selat Sunda yang menghantam Indonesia bulan ini mencuri banyak perhatian di seluruh dunia. Banyak pihak yang kemudian membahas soal bagaimana negara mereka dapat menyiapkan diri menghadapi jenis tsunami Selat Sunda yang dianggap aneh.

Tsunami yang terjadi 23 Desember lalu diketahui menyebabkan sekitar 430 orang di sepanjang garis pantai Selat Sunda meninggal dunia. Tsunami datang tanpa ada sirine atau peringatan terlebih dahulu sebelumnya.

Seismolog dan pihak berwenang mengatakan, tsunami tersebut memiliki faktor-faktor yang sempurna yang menyebabkan deteksi dini nyaris tidak mungkin terjadi, mengingat keterbatasan peralatan yang ada.


Tetapi sejumlah pakar menyebut, di sisi lain, bencana itu seharusnya menjadi seruan untuk menyadarkan penelitian tentang pemicu dan kesiapsiagaan tsunami.

“Indonesia telah menunjukkan kepada seluruh dunia sejumlah besar sumber yang berpotensi menyebabkan tsunami. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami peristiwa yang tidak terduga itu," kata seismolog dari University of Southampton, Stephen Hicks.

"Tsunami adalah skenario terburuk untuk setiap harapan peringatan tsunami yang jelas, yakni kurangnya gempa bumi yang jelas untuk memicu peringatan, air dangkal, dasar laut kasar, dan kedekatan dengan garis pantai terdekat," sambung Hicks.

Sebagian besar tsunami tercatat dipicu oleh gempa bumi. Tapi kali ini, letusan gunung berapi Anak Krakatau yang menyebabkan kawahnya runtuh sebagian ke laut saat air pasang, mengirimkan gelombang setinggi lima meter yang menghantam daerah pesisir padat di pulau Jawa dan Sumatra.

Selama letusan, diperkirakan 180 juta meter kubik, atau sekitar dua pertiga dari pulau vulkanik yang berusia kurang dari 100 tahun, runtuh ke laut.

Tetapi letusan itu tidak mengguncang monitor seismik secara signifikan. Tidak adanya sinyal seismik yang biasanya terkait dengan tsunami membuat Badan Geofisika Indonesia (BMKG) awalnya membuat pernyataan bahwa tidak ada tsunami.

Muhamad Sadly, kepala geofisika di BMKG, kemudian mengatakan kepada Reuters, monitor pasang surutnya tidak dibuat untuk memicu peringatan tsunami dari peristiwa non-seismik.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian Bencana Internasional Jepang, Fumihiko Imamura, mengatakan bahwa dia tidak yakin sistem peringatan Jepang saat ini akan bisa mendeteksi tsunami seperti yang terjadi di Selat Sunda.

"Kami masih memiliki beberapa risiko ini di Jepang, karena ada 111 gunung berapi aktif dan kapasitas rendah untuk memantau letusan yang menghasilkan tsunami," jelasnya.

Para ilmuwan telah lama menandai keruntuhan Anak Krakatau, yang terletak sekitar 155 km barat ibukota, sebagai sebuah keprihatinan. Bahkan, sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan oleh Geological Society of London menganggapnya sebagai "bahaya tsunami."

Anak Krakatau telah muncul dari gunung berapi Krakatau, yang pada tahun 1883. Gunung Krakatau meletus dalam salah satu ledakan terbesar dalam sejarah, dan menewaskan lebih dari 36.000 orang dalam serangkaian tsunami dan menurunkan suhu permukaan global sebesar satu derajat celcius dengan abu.[mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya