Berita

Foto/Net

Dunia

Jendela Dunia

Setelah Rompi Kuning, Sekarang Telanjang Dada

Demo di Prancis
SENIN, 17 DESEMBER 2018 | 09:51 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Prancis masih bergejolak. Sudah lima pekan ribuan massa rompi kuning turun ke jalanan, memprotes Presiden Emmanuel Macron. Selain rompi kuning, pekan ini juga ada aksi bertelanjang dada.

Dilansir Reuters, Sabtu (15/12), meski jumlahnya tak sebesar pekan-pekan sebelumnya, ribuan warga Prancis kembali turun ke jalanan Kota Paris. Sempat terjadi bentrokan singkat antara massa dengan polisi anti huru-hara di dekat Champs-Elysees. Gas air mata menyerbu ke arah para demonstran.

Tak jauh dari lokasi bentrokan, sejumlah aktivis wanita yang diduga dari kelompok feminis, Femen, bertelanjang dada. Mereka berhadap-hadapan langsung dengan petugas keamanan di area sekitar Elysee Palace atau Istana Kepresidenan Prancis.


Aktivis perempuan ini hanya berlima. ksi teatrikal telanjang dada ini diberi judul Acte 5: Macron Demission atau Act 5: Pengunduran Diri Macron. Berkerudung merah marun, tubuh dan wajah mereka ditutupi dengan cat perak serta perunggu. Gaya berpakaian mereka mirip Marianne, perempuan yang merupakan simbol kebebasan Republik Prancis.

Ada yang menyebut lima perempuan tersebut adalah aktivis dari kelompok Femen. Namun, seorang wartawan Prancis membantahnya. Dia telah menghubungi pendiri gerakan, Inna Shevchenko, yang menyatakan bahwa perempuan bertelanjang dada ini bukan Femen. Aksi ini adalah pertunjukan seniman biasa dari Deborah de Robertis, yang pertama kali mendapat perhatian media saat dia mengekspos alat kelaminnya di Museum Musée d'Orsay tahun 2014.

Untuk mengingatkan, gerakan massa rompi kuning dimulai pertengahan November. Awalnya, protes kecil terjadi di persimpangan jalan-jalan Prancis untuk menentang kenaikan tarif BBM dan pajak lainnya. Lambat laun, gerakan ini meluas dan menjadi demonstrasi nasional menentang kebijakan ekonomi Macron.

Awal pekan lalu, Macron mengumumkan kenaikan upah minimum bagi para pekerja dan pemotongan pajak untuk pensiunan. Pengumuman ini diharapkan bisa meredam aksi protes.

Sementara, serangan maut kembali terjadi di pasar Natal Strasbourg, Selasa (11/12) yang menewaskan 4 orang. Karena kejadian ini, pemerintah Prancis dan politikus oposisi serta sejumlah serikat pekerja menyerukan kepada massa rompi kuning menahan diri turun ke jalanan, Sabtu (15/12). Namun, seruan ini tidak manjur.

Loic Bollay (44), seorang demonstran rompi kuning yang beraksi di Champs-Elysees mengakui, aksi protes pekan ini sedikit berkurang dibanding pekan sebelumnya. Meski demikian, dia yakin, aksi akan terus berlanjut hingga tuntutan demonstran ditanggapi pemerintah Prancis. "Sejak serangan Strasbourg, suasananya jauh lebih tenang, tapi saya pikir Sabtu pekan depan dan Sabtu selanjutnya lagi, semuanya akan kembali besar," ucapnya.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan, ada 69 ribu personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan aksi protes, Sabtu (15/12) kemarin. Selain di Paris, aparat juga disebar di kota-kota seperti Toulouse, Bordeaux dan Saint-Etiene. Bentrokan antara massa rompi kuning dan polisi juga terjadi di Nantes Prancis Barat dan bagian selatan Bordeaux dan Toulouse.

Berdasarkan catatan, ada 16 ribu demonstran ikut aksi di berbagai kota di Prancis, kemarin. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding aksi 8 Desember lalu yang mencapai 22 ribu orang. Sudah ada 85 demonstran yang ditangkap.

Terpisah, aksi unjuk rasa massa rompi kuning di Prancis menginspirasi warga Israel melakukan aksi yang sama di negaranya. Aksi ini dipicu oleh kemarahan warga atas meningkatnya biaya hidup serta kenaikan harga pelayanan dasar. Massa rompi kuning Israel turun ke sejumlah jalan di Tel Aviv, Sabtu (15/12). Ratusan warga ini memblokir persimpangan Azrieli dan jalan dekat pusat kota, mereka menuduh pemerintah telah 'merampok' rakyat.

Dalam aksi tersebut, kepolisian setempat menangkap 10 orang karena diduga menjadi provokator karena berhasil melumpuhkan kota. David Mizrahi, salah seorang aktivis Israel mengancam, Rompi Kuning Israel akan menurunkan 10 ribu orang pekan depan dengan aksi yang lebih besar. ***

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Terkuak Dugaan Penggelembungan Anggaran Makan Minum di DPRD Bandar Lampung

Senin, 20 April 2026 | 02:07

Pramono Siapkan PPSU Khusus Ikan Sapu-Sapu

Senin, 20 April 2026 | 01:47

Jual Beli Rekening Bisa Dijerat Pidana!

Senin, 20 April 2026 | 01:26

HKTI: Kondisi Riil Stok Beras Melimpah

Senin, 20 April 2026 | 01:01

Pramono Tegaskan Jadi Gubernur untuk Semua Kelompok, Agama, dan Golongan

Senin, 20 April 2026 | 00:28

MUI Kawal Ketat Proyek Islamic Center

Senin, 20 April 2026 | 00:13

Projo Klaim Jokowi Menang Berkat Rekam Jejak, Bukan Jasa Jusuf Kalla

Senin, 20 April 2026 | 00:01

Wicked Problem di Balik Motor Listrik MBG

Minggu, 19 April 2026 | 23:43

JK Diduga Masih Simpan Kartu Rahasia Jokowi

Minggu, 19 April 2026 | 23:34

Nabung Jantung

Minggu, 19 April 2026 | 23:26

Selengkapnya