Berita

Tim BPD Prabowo-Sandi Jatim/RMOLJatim

Politik

Nobar G30S/PKI, Gerindra Ingatkan Sejarah NU Dan PKI

SENIN, 01 OKTOBER 2018 | 09:56 WIB | LAPORAN: SUKARDJITO

Sejumlah elemen warga menggelar nonton bareng film kekejaman G30S/PKI, termasuk Badan Pemenangan Daerah Prabowo-Sandiaga Uno Jawa Timur.

Partai pengusung pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 02 ini ingin mengingatkan kembali bahwa bangsa ini pernah diganggu oleh ancaman komunis.

Ketua Badan Pemenangan Daerah Prabowo-Sandiaga Jawa Timur, Supriyatno mengatakan sejarah Indonesia ini ada karena perbedaan paham antara Nahdlatul Ulama dengan Partai Komunis Indonesia.


“Saat itu lah sejarah Banser itu ada. Banser didirikan karena ada kekejaman PKI. PKI membuat Pemuda Rakyat, NU membuat Banser, PKI membuat Gerwani, NU membuat Muslimat dan seterusnya,” papar Soepriyatno, di sela nonton bareng Film G30S/PKI, Minggu malam (30/9) seperti dilansir Kantor Berita RMOLJatim.

Perlu diingat, tambah Soepriyatno, kekuatan komunis itu yang menghadang NU. Karena PKI membuat organisasi yang melingkupi kehidupan seluruh masyarakat Indonesia. Mulai dari Buruh, Petani, Pemuda, Seniman dan sebagainya. Sehingga lawan utamanya PKI adalah NU.

"Itu bisa dilihat, usai G30S PKI tahun1965. Ada Peristiwa di Banyuwangi 18 Oktober 1965, PKI nyamar menjadi NU di kecamatan Gambiran, mereka mengundang Ansor dari kecamatan Muncar lalu disana disambut oleh Gerwani yang nyamar menjadi Fatayat. Lalu 62 orang Ansor meninggal diracun, itu sejarah lho,” cerita Soepriyatno yang kemarin ditemani artis Ahmad Dhani dan petinggi BPD Prabowo-Sandi Jatim seperti Anwar Sadad, Basuki Babussalam, Hadi Dediansyah, Hendro Subiantoro dan Tjutjuk Sunario.

Harusnya, lanjut Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur ini,  sekarang ini kawan-kawan dari Ansor dan Banser tahu sejarah. Bahwa Musuh sebenarnya bangsa ini adalah Komunisme, mereka sudah terlatih secara organisatoris. Itulah perlunya menonton lagi kekejaman dan kebiadaban PKI.

“Kenapa kita adakan nonton bareng ini, supaya kita tidak lupa sejarah. Tapi kita juga tidak boleh memupuk dendam dan permusuhan. Intinya kita jangan masuk ke lubang yang sama,” pungkas Soepriyatno. [jto]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya