Berita

Nasaruddin Umar/Net

Ormas Islam & Kelompok Radikal (25)

Menggagas Ushul Fikih Kebhinnekaan

RABU, 08 AGUSTUS 2018 | 09:04 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

MENGGAS fikih kebinne­kaan, fikih nusantara, fikih berkemajuan, atau apapun namanya sulit dibayangkan tanpa terlebih dahulu kita menggagas Ushul Fikih Ke­binnekaan. Fikih lebih mer­upakan produk dari Ushul Fikih, karena itu, gagasan Ushul Fikih Kebhinnekaan sudah merupakan suatu keniscayaan. Tidak mungkin kita membangun sebuah sistem etika baru dengan mengubah sistem etika lama tan­pa melakukan peninjauan secara komprehen­sif dasar-dasar pemikiran (ushuliyyah). Yang dimaksud ushuliyyah di sini tidak lain adalah kaedah-kaedah pokok yang digunakan untuk memproduksi sistem norma baru (al-istinbath al-hukm) di dalam masyarakat. Mungkin tidak mesti melahirkan kaedah-kaedah usul (qawa'id al-ushul) baru tetapi cukup menekankan sejum­lah kaedah yang serasi dengan kondisi objektif bangsa Indonesia.

Kaedah-kaedah usul penting di dalam upa­ya membaca perubahan sosial yang berpotensi melahirkan perubahan hukum, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah kaedah: Al-hukm yaduru ma'a illatih wujudan wa 'adaman (Hu­kum mengikuti illatnya, baik mengadakan atau meniadakannya). Jika terjadi sesuatu kondisi di dalam masyarakat menuntut adanya hukum un­tuk mengaturnya, maka di situ diperlukan adan­ya hukum. Jika kondisi itu sudah hilang maka hukum yang diadakan untuk mengaturnya juga otomatis hilang.

Menurut Imam Al-Syatibi di dalam kitab Al- Muwafaqat-nya, kaedah-kaedah ushul dalam agama bersifat definitif (qath'iyyah), bukan­nya hipotetis (dzanniyyah), karena dalil-dalil tersebut didasarkan kepada semangat umum (kulliyyāt) syariah yang juga bersifat qath'iyyah. Rekayasa sosial yang bersifat kebangsaan di negeri ini perlu dicarikan legitimasi ushuliyyah agar menjadi lebih efektif di dalam pikiran dan hati warga bangsa, khususnya umat Islam. Jika pendekatannya hanya melulu pendekatan hu­kum positif, tanpa mendapatkan legitimasi ush­uliyyah dikhawatirkan tidak atau kurang legi­timed di dalam masyarakat.


Menarik untuk diperhatikan, agenda-agenda Muktamar dan Munas NU selalu juga digunakan untuk membahas persoalan aktual (waqi'iyyah), terutama menyangkut masalah-masalah yang sifatnya kontroversi (dharuriyyah). Hasil keputu­san Muktamar dan Munas NU terhadap perso­alan yang muncul menenangkan hati wargan­ya. Bahkan selalu dijadikan dalil bagi warganya di dalam menjalankan kehidupan sosial ke­masyarakatan. Tidak heran jika keberadaan Muktamar dan Munas NU selalu dinanti dan di­minati para warganya.

Kaedah ushul sesungguhnya tidak identik dengan ushul fikih, tetapi keduanya tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam penerapan hukum dari dalil-dalil yang ada mekanisme ushul fikih bekerja dan salahsatu kekuatan dan saranan­ya ialah kaedah-kaedah ushul. Para ulama, khususnya yang tergabung di dalam majlis-ma­jlis fatwa, tentu menguasai persoalan ini. Amat riskan seseorang tidak mengerti ushul fikih di­tanya oleh masyarakat tentang suatu perso­alan terus memberikan jawaban dengan kes­impulannya sendiri setelah membaca ayat atau hadis. Penerapan ayat atau hadis tidak serta merta harus diterapkan dalam setiap kasus. Ayat atau hadis yang dilibatkan terlebih dahu­lu harus difahami apa sabab nuzul atau sabab wurudnya, apakah ayat atau hadis itu bersifat 'am atau khash, muthlaq atau muqayyad, Apak­ah ayat atau hadis itu tidak ada yang men-takh­shih-nya?

Untuk menyiapkan kaedah-kaedah ushul ter­hadap Fikih Kebhinnekaan memang sebaiknya ada semacam konsorsium di antara para ahli fikih dibantu dengan kelompok ahli dalam disi­plin ilmu yang relevan dengan persoalan yang muncul di dalam masyarakat. Apa yang pernah diproposalkan para ulama NU dan Muhammadi­yah, tentang perlunya fikih Islam ala Indonesia, sesungguhnya gagasan yang sudah lama di­usulkan oleh ulama dan cendekiawan Islam In­donesia terkemuka padamasanya, yaitu Prof. Dr. TM. Hasbi Asshiddiq, guru besar IAIN Su­nan kalijaga Jogyakarta yang kini sudah beralih menjadi UIN. Gagasan yang sama juga pernah dilontarkan mendiang Mantan Menteri Agama, Prof. Munawir Syazali yang lebih dikenal den­gan Reaktualisasi Pemikiran Islam. Hanya saja gagasan-gagasan mereka belum dikonkretkan dalam secara sistematis.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya