Berita

Dubes Umar Hadi ketika menerima delegasi PWI di Kedubes RI di Seoul (Kamis, 2/8). RMOL

Bisnis

Laporan Dari Korsel, Dubes Umar Hadi: Kereta Api Membentuk Peradaban

JUMAT, 03 AGUSTUS 2018 | 03:06 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tahun 2005 ketika berkunjung ke Seoul, Umar Hadi menemukan kondisi transportasi ibukota Korea Selatan itu tidak ada bedanya dengan di Jakarta, Indonesia.

Satu kata yang digunakannya untuk menggambarkan kondisi tersebut adalah: semrawut.

Tetapi tahun lalu, ketika mulai bertugas di Seoul sebagai Dutabesar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Umar Hadi menemukan perubahan yang sangat luar biasa di jalanan Seoul.


“Sekarang transportasi di Seoul jadi sangat bagus. Walau masih ada macet pafa waktu dan titik tertentu namun tertib. Berubah sangat luar biasa,” ujar Dubes Umar Hadi ketika menerima delegasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Kedubes RI di Seoul, Kamis siang (2/8).

Umar Hadi sudah mencoba semua moda transportasi di Seoul dan Korea Selatan. Mulai bis, taksi, sampai kereta api cepat baik reguler maupun kereta api cepat KTX dan SRT. Dari semua itu, kereta api lah yang paling membuatnya kagum.

“Metro Line 9 di Seoul ini bagus sekali, tidak ada yang kumuh,” sambung dia.

Metro Line 9 adalah jalur kereta api bawah tanah (subway) di Seoul dari Bandara Gimpo dan Stasiun Gaehwa menuju timur menyusuri selatan Sungai Han sampai Komples Olahraga di Gangnam.

Korea Selatan berhasil membuat kereta api tidak sekadar berfungsi sebagai alat transportasi publik, melainkan juga memiliki fungsi penting lain yakni sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.

Menurut hemat Dubes Umar Hadi, jalur kereta di Seoul, juga di seluruh Korea Selatan, malah terbukti berperan sebagai pembentuk peradaban.

“Ini fungsi kereta sejak ditemukan. Kawasan di sekitar stasiun mengalami kemajuan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi,” kata dia lagi.

Umar Hadi terlihat sangat bersemangat menjelaskan hal ihwal kereta api di Seoul dan Korea Selatan ini. Mungkin karena selain bekerja sebagai diplomat, Umar Hadi juga memang penggemar kereta api sejak lama dan mengikuti perkembangan teknologi perkeretaapian di dunia.

Dibandingkan Korea, Indonesia atau tepatnya Pulau Jawa, lebih dahulu mengenai kereta api dan teknologi perkeretaapian. Gedung Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah, dulunya adalah Kantor Pusat Kereta Api Hindia Belanda atau Nederlands Indische Spoorweg Maattschappij (NIS) yang dibangun pada tahun 1904 dan mulai beroperasi pada 1907. Pada masa itu, gedung Lawang Sewu merupakan kantor kereta api terbesar di luar benua Eropa.

“Tetapi, mengapa sekarang kita kalah?” Umar Hadi bertanya retoris.

Dia berharap pemerintah dan masyarakat Indonesia memberikan perhatian serius pada moda transportasi umum yang satu ini.

Dia menekankan, Korea Selatan memiliki pengalaman dalam mengelola trasportasi kereta api. Teknologi kereta api yang dimiliki Korea Selatan juga terbilang unggul. Dengan demikian tidak salah bila Indonesia menjalin kerjasama dengan Korea Selatan dalam mengembangkan moda trasportasi massal ini.

“Kebanyakan kita memandang bahwa kereta api adalah cerita masa lalu. Saya percaya, melihat keberhasilan Korea, kereta api adalah moda transportasi masa depan,” masih katanya.

Saat ini perusahaan Hyundai Rotem milik Korea Selatan membantu PT Jakarta Propertindo menyelesaikan pembangunan jaringan LRT untuk menghubungkan Kelapa Gading dan Velodrome.

Hyundai Rotem memproduksi delapan unit rangkaian kereta Light Rail Vehicles (LRV). Pembangunan LRT Jakarta fase 1 ini dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan Asian Games 2018 yang akan dibuka pada tanggal 18 Agustus mendatang.

Kunjungan Tema Kereta Api

Ketua bidang Luar Negeri PWI Teguh Santosa yang memimpin delegasi PWI mengatakan, tema utama kunjungan persahabatan PWI ke Korea Selatan kali ini adalah kereta api.

Kepada Dubes Umar Hadi, Teguh menjelaskan bahwa sejak tiba di Korea Selatan hari Jumat pekan lalu (27/7) delegasi PWI telah berkunjung ke sejumlah perusahaan yang terlibat dalam industri perkertaapian Korea Selatan.

Delegasi PWI, misalnya, berkunjung ke Hyundai Rotem yang memproduksi kereta, dan Korea Rail yang memproduksi rel kereta, juga ke Korea Rail Network Authority (KNA) yang mengelola jaringan kereta api di negeri ginseng ini.

Delegasi PWI juga telah mencoba jalur kereta tengah kota Seoul, Metro Line 9 dari Stasiun Gaehwa menuju Bandara Gimpo. Delegasi PWI juga meninjau pusat kendali jalur kereta api Seoul di Stasiun Gaehwa.

Selain itu, delegasi PWI pun mencoba kereta api cepat yang dioperasikan SRT dari Gwangju menuju Osong yang merupakan titik pisah-temu jalur kereta api cepat Seoul-Busan dan Seoul-Gwangju. Dari Osong, delegasi PWI menuju Daejeon untuk meninjau fasilitas ujicoba trek kereta api yang akan selesai dibangun akhir tahun ini.

“Industri perkeretaapian Korea Selatan ini sangat impresif. Melihat semua fasilitas ini, kami yakin Korea Selatan pantas jadi partner Indonesia dalam mengembangkan kereta api di masa depan,” ujar Teguh.

Selain Teguh, delegasi PWI yang berkunjung ke Korea Selatan terdiri dari Anggota Dewan Penasihat PWI Adnan Nyak Sarong, Ketua PWI Riau Zulmansyah, Wakil Ketua bidang Kesra PWI Jambi Riduan Agus Agusnan, Bendahara PWI Riau Oberlin Marbun, Sekretaris PWI Kalimantan Timur  Wiwid Marhaendra Wijaya, dan Sekretaris bidang Pariwisata PWI Papua Barat Mercys Charles Loho.

Kunjungan PWI ke Korea Selatan ini merupakan bagian dari kerjasama bilateral antara PWI dengan Asosiasi Wartawan Korea (JAK) dan Korea Foundation.

PWI dan JAK memulai program saling kunjung ini pada tahun 2013 lalu. Setiap kunjungan memiliki tema sendiri yang khas. Di tahun 2016, misalnya, tema utama adalah industri strategis, seperti pabrik pesawat Korea Aviation Industry (KAI). Sementara di tahun 2017, kunjungan PWI ke Korea Selatan dimanfaatkan untuk mengenalkan kopi produksi Indonesia.

Kunjungan delegasi PWI ke Kedubes RI di Seoul diakhiri dengan jamuan makan siang.  [dem] 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya