Berita

Dwikorita Karnawati/RMOL

Nusantara

Awas, Gelombang 6 Meter Di Sumatera Hingga Pulau Sumba

MINGGU, 22 JULI 2018 | 10:50 WIB | LAPORAN:

Masyarakat diminta mewaspadai gelombang laut yang diperkirakan 4-6 meter. Gelombang tinggi ini disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem dari kemarau ke penghujan.

Fenomena ini disebut juga Mascarene High memicu terjadinya gelombang tinggi di perairan selatan Indonesia.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati menjelaskan jika gelombang tinggi itu hanya dapat ditemukan di wilayah selatan Indonesia.


"Kejadian mascarene high di Samudra Hindia (barat Australia) dan terjadinya swell/alun yang dibangkitkan oleh mascarane high menjalar hingga wilayah Perairan barat Sumatra, selatan Jawa hingga Pulau Sumba. Kondisi tersebut juga berdampak pada peningkatan tinggi gelombang hingga berkisar 4-6 meter di perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara," ujar Dwi di kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (22/7).

Untuk itu Dwi mengimbau masyarakat agar memperhatikan betul-betul peringatan dini yang sudah diumumkan di tempat-tempat wisata dan pelabuhan-pelabuhan.

"Perubahan cuaca yang ektrem ini tidak dapat dihindarkan dan masyarakatlah yang harus mengantisipasi," lanjutnya.

Pihak BMKG sendiri sudah bekerja sama dengan beberapa kementrian seperi kementrian Perhubungan, Kementrian Pariwisata, Kementrian KKP, Basarnas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, TNI-Polri untuk terus bersinergi dalam menjaga kawasan pinggir laut dan pantai selatan.

"Ya kami terus berikan informasi terkait peringatan dini. Kami sudah bekerja sama dengan pihak pelabuhan, dalam hal ini Kemenhub, pengelola tempat wisata yakni Kemenpar dan terpenting ini para nelayan. Tapi mereka di bawah naungan KKP dan kami juga sudah koordinasi dengan seluruh pihak mengenai peringatan dini gelombang tinggi," tambah Dwi.

Dwi berharap kepada masyarakat yang mau berwisata ke pantai atau laut di wilayah selatan pulau Jawa agar mendengarkan peringatan dini tersebut. Perkiraan gelombang tinggi terjadi pada tanggal 22 Juli 2018 - 26 Juli 2018. [wid]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

War Tiket Haji Untungkan Orang Kaya

Minggu, 12 April 2026 | 04:17

Paradoks Penegakan Hukum

Minggu, 12 April 2026 | 04:12

BPKH Pastikan Dana Haji Aman di Tengah Dinamika Global

Minggu, 12 April 2026 | 04:00

Kunjungi Rusia Jadi Sinyal RI Tak Mutlak Ikuti Garis Barat

Minggu, 12 April 2026 | 03:40

Anak Usaha BRI Respons Persaingan Bisnis Outsourching

Minggu, 12 April 2026 | 03:16

Ibadah Haji Bukan Nonton Konser!

Minggu, 12 April 2026 | 03:10

Lebaran Betawi Bukan Sekadar Seremoni Pasca-Idulfitri

Minggu, 12 April 2026 | 02:41

Wapres AS Tatap Muka Langsung dengan Delegasi Iran di Islamabad

Minggu, 12 April 2026 | 02:03

Petugas Terlibat Peredaran Narkoba di Rutan Bakal Dipecat

Minggu, 12 April 2026 | 02:00

Andre Rosiade: IKM akan Menjadi Mitra Konstruktif Pemda

Minggu, 12 April 2026 | 01:46

Selengkapnya