Berita

Donald Trump/Net

Dunia

Trump, Kasian Deh

Dikucilkan Di KTT G7
MINGGU, 10 JUNI 2018 | 10:19 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Gara-gara mengusulkan Rusia masuk kembali ke G7, para pemimpin dunia mengucilkan Donald Trump di KTT kelompok negara-negara Indonesia itu. Kasian deh, Trump.

Untuk diketahui, Rusia masuk ke forum ini dan disebut G8 pada 1998. Namun, Rusia keluar pada 2014 lantaran tindakannya mencaplok wilayah Krimea dari Ukraina.

"Anda tahu, suka atau tidak suka dan itu mungkin tidak benar secara politik, tetapi kita harus mengatur dunia. Dan di G7, yang dulunya adalah G8, mereka mengusir Rusia. Mereka harus membiarkan Rusia kembali," tutur Trump seperti dilansir BBC, kemarin.


Dari enam negara selain AS yang hadir di KTT itu, yakni Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Britania Raya, hanya Perdana Menteri Italia yang baru, Giuseppe Conte yang mendukung Trump. Sisanya, menentang.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, anggota Uni Eropa yang hadir dalam KTT yang digelar di Kanada itu menentang gagasan yang diutarakan sang miliarder nyentrik. Senada, PM Inggris Theresa May juga menentang hal tersebut. "Kita harus selalu mengingatkan diri kita sendiri, mengapa G8 berubah menjadi G7. Itu karena Rusia secara ilegal menganeksasi Krimea," kata dia.

Selain soal Rusia, Trump juga dikucilkan lantaran friksi atas tarif tinggi perdagangan impor baja dan alumunium yang baru-baru ini diberlakukan oleh pemerintahannya kepada Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa (UE) dengan alasan keamanan internasional.

Trump seolah membalas dendam setelah menuduh Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Presiden Perancis Emmanuel Macron, memberlakukan tarif sangat besar terhadap Amerika dan menciptakan hambatan non-moneter.

Sebelumnnya, di akun Twitternya, Presiden Perancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa meskipun Trump mungkin tidak keberatan dikucilkan, keenam pemimpin lainnya yang bertemu di Kanada itu juga tidak akan berkeberatan menandatangani perjanjian di kalangan mereka sendiri

Tetapi ketila bertemu Trump dalam KTT, Macron berupaya menampilkan wajah optimis setelah bertemu dua kali dengan Trump dalam diskusi terbuka dan secara langsung dengan mengatakan, dalam masalah perdagangan tak hanya ada jalur kritis, tetapi ada juga jalur di mana semua bisa sama-sama maju. Sementara Kanada sebelumnya menyebut bahwa tarif perdagangan yang diterapkan Trump 'ilegal

Masih ada lagi. Perpecahan antara Donald Trump dan enam pemimpin ini juga termasuk isu perubahan iklim, isu Iran, dan konflik Israel-Palestina. Untuk diketahui, Trump baru-baru ini menghapus perjanjian dengan Teheran pada 2015 yang bertujuan untuk mengekang program nuklir Iran. Hal ini membuat marah negara lain yang ikut menandatangani perjanjian yang sejak itu berusaha untuk mendorong kembali perjanjian.

Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk memperingatkan bahwa sikap Donald Trump pada perdagangan, perubahan iklim dan Iran merupakan bahaya nyata. "Apa yang mengkhawatirkan bagi saya adalah fakta bahwa aturan berdasarkan tata internasional mendapat tantangan. Yang mengejutkan, hal itu dilakukan bukan oleh 'tersangka' biasa, melainkan oleh arsitek utama sekaligus penjaminnya: Amerika Serikat," kritiknya.

Donald Trump direncanakan akan meninggalkan lokasi KTT G7 dua hari lebih awal. Ia akan bertolak menuju Singapura untuk mempersiapkan pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Itu berarti Donald Trump akan melewatkan pembicaraan tentang perubahan iklim, isu lingkungan, dan mungkin kesetaraan gender yang dijadwalkan pada hari Sabtu 9 Juni 2018 waktu setempat. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

UI Investigasi Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa

Selasa, 14 April 2026 | 16:12

Miris, Makin Banyak Perusahaan Tak Buka Lowongan Kerja

Selasa, 14 April 2026 | 16:11

Pramono Dukung Pemberantasan Premanisme di Jakarta

Selasa, 14 April 2026 | 16:03

Jemaah Haji Tak akan Terbebani Kenaikan Ongkos Penerbangan

Selasa, 14 April 2026 | 16:02

Seruan Kudeta Presiden Prabowo Ancaman Serius

Selasa, 14 April 2026 | 15:46

Israel dan Lebanon Gelar Perundingan Damai di Washington

Selasa, 14 April 2026 | 15:43

Menteri Haji Janji Antrean Tidak Dihapus meski Ada War Tiket

Selasa, 14 April 2026 | 15:36

Aboe Bakar Minta Maaf terkait Pernyataan Madura dan Narkoba

Selasa, 14 April 2026 | 15:14

Tak Masuk Akal Nasdem Gabung Gerindra

Selasa, 14 April 2026 | 15:06

China Minta Semua Pihak Menahan Diri usai AS Blokade Selat Hormuz

Selasa, 14 April 2026 | 14:52

Selengkapnya