Berita

Hanif Dhakiri/Net

Menaker: Perguruan Tinggi Memiliki Jasa Besar Dalam Investasi SDM

SENIN, 30 APRIL 2018 | 07:24 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

Perguruan Tinggi harus cepat melakukan terobosan dalam pengembangan sumber daya manusia serta tanggap terhadap perubahan.

Sebagai wahana untuk menyiapkan generasi muda yang akan masuk ke dunia kerja, peguruan tinggi harus dapat mencetak SDM berkarakter dan professional, di tengah gempuran era digitalisasi.

Demikian disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri saat memberikan orasi ilmiah di pelaksanaan wisuda sarjana tahun 2018 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tribuana Bekasi, Jawa Barat, akhir pekan kemarin.


“Revolusi industri 4.0 adalah era teknologi digital, semua serba digital. Apabila kita tidak bergerak ke era digital maka bangsa kita akan tertinggal. Karena itu, pengelola pendidikan tinggi harus mampu mengelola pesatnya kemajuan dunia digital yang mengalami perubahan begitu cepat,” katanya.

Perubahan dunia yang cepat, kata Menteri Hanif, membuat lingkungan perguruan tinggi mau tidak mau, harus responsif terhadap perubahan itu. Perguruan tinggi harus mampu meningkatkan kemampuan daya saing dengan menghasilkan kualitas lulusan yang mampu menangkap peluang, menganalisis risiko secara jitu, dan keberanian untuk selalu bangkit ketika menghadapi kegagalan.

“Perguruan Tinggi memiliki jasa sangat besar, memiliki peran penting membantu pemerintah melakukan investasi SDM. Tapi perguruan tinggi juga harus mengevaluasi dan melihat perkembangan di luar agar relevan. Jadi, kalau anda tidak siap bersaing, lupakan. Kalau anda tidak siap bersaing, anda akan ketinggalan," katanya.

Turut hadir dalam acara itu, Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kemnaker Bambang Satrio Lelono, Rektor STIE Tribuana Sardi Effendi, para guru besar STIE Tribuana, Anisa Setianingsih selaku Ketua Yayasan Eka Widya Nusantara, Sekjen PGRI Quadrat Nugraha dan Sekretaris Kopertis Wilayah IV Jabar dan Banten Subachi Idris dan 412 wisudawan.

Menaker Hanif menambahkan untuk menghasilkan lulusan atau calon tenaga kerja yang sesuai dengan era digitalisasi maka perguruaan tinggi dalam proses pembelajaran harus mampu membekali mahasiswa selain employability skill, character building juga entrepreneur skill.

Konsekuensinya, lanjut Menteri Hanif adalah proses pembelajaran yang tertuang dalam bentuk kurikulum harus direformulasi atau bahkan dirubah secara fundamental. Reformulasi atau perubahan kurikulum itu mutlak dilakukan untuk mewujudkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia.

“Saya berharap para alumni dari STIE Tribuana berjiwa petarung, gigih ulet dan tidak letoy, juga tidak selalu mengeluh di sosial media. Situasi ini begitu kuat dan ketat, karena itu sekali lagi saya berharap alumni STIE Tribuana ini benar-benar menjadi generasi petarung, tangguh, generasi yang lincah. Karena ketangguhan dan kelincahan itu menjadi penting," katanya.

Menteri Hanif menguraikan penyiapan calon tenaga kerja oleh perguruan tinggi harus dilakukan tidak seperti biasanya atau as usual. Mengingat dunia kerja saat ini mengalami perubahan besar, Manteri Hanif berpendapat harus ada langkah-langkah besar dalam orientasi perubahan kurikulum, keluar dari rutinitas dan diperlukan inovasi tinggi.

“Ke depan, karena lebih fleksibel, Perguruan-perguruan Tinggi Swasta mulai menerapkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) agar anak-anak setiap tahun sambil kuliah disertifikasi,“ujar Menteri Hanif.

Menteri Hanif menjelaskan program pembelajaran yang dilakukan lembaga pendidikan dan pelatihan harus matching dengan kebutuhan pengguna/industri. Untuk itu, industri seharusnya terlibat dalam pengembangan kurikulum dan pengjaran.

“Keterlibatan industri sangat penting, karena industri selalu lebih up-dated baik dalam teknologi maupun suasana/lingkungan kerja yang terus berkembang," katanya.

Menteri Hanif mengungkapkan era revolusi industri 4.0 yang mempunyai ciri otomasi dan ekonomi digital. Perkembangan super-computer, robot, artificial intelligence (AI), dan modifikasi genetik mengakibatkan pergeseran tren tenaga kerja yang tidak lagi bergantung pada tenaga manusia, tapi pada mesin.

Berdasarkan penelitian Studi dari McKinsey tahun 2017 , ada enam sector yang dapat digantikan oleh otomasi di industry 4.0 seperti food service (pelayan), manufaktur, pertanian, transportasi dan gudang, ritel, dan pertambangan. Sementara menurut ILO, 56 persen angkatan kerja di Indonesia diperkirakan tergantikan oleh otomasi industri 4.0.

“Meskipun kita menyadari bahwa masih banyak industry di Indonesia yang memerlukan tenaga kerja belum berbasis AI," katanya. [dzk]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Dirgahayu Pandeglang ke-152, Gong Salaka!

Rabu, 01 April 2026 | 18:04

Klaim Nadiem Dipatahkan Jaksa: Rekomendasi JPN Tak Dilaksanakan

Rabu, 01 April 2026 | 18:03

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Macet, Legislator Golkar Koordinasi dengan APH

Rabu, 01 April 2026 | 17:40

Pariwisata Harus Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Rabu, 01 April 2026 | 17:24

Harta Gibran Tembus Rp 27,9 Miliar di LHKPN 2025

Rabu, 01 April 2026 | 17:03

Purbaya Pede Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen

Rabu, 01 April 2026 | 17:00

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sulit Dihindari

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Menaker Yassierli Imbau Swasta dan BUMN Terapkan WFH Sehari dalam Sepekan

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Selisih Harga BBM Nonsubsidi Ditanggung Pertamina

Rabu, 01 April 2026 | 16:44

Selengkapnya