Baru enam bulan Anies BasÂwedan dan SandiÂaga Uno memimpin Jakarta. Tapi sudah sering GuÂbernur dan Wakil Gubernur DKI JaÂkarta itu berbeda pernyataan.
Misalnya saja, mengenai pedagang kaki lima (PK) di MelÂawai, swastanisasi air, groundÂbreaking DP 0 Rupiah Rorotan, dan rencana libur sekolah saat Asian Games 2018 di Jakarta.
Melihat hal itu, sejumlah pihak menyoroti perbedaan itu. Intinya, ke depan keduanya diharapkan kompak. Sebab, warga Jakarta jadi taruhannya bila keduanya tak kompak.
"Belum satu semester sudah sering banget beda pernyataan," kata anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Sereida Tambunan.
Politisi PDI Perjuangan ini berharap, keduanya tetap komÂpak sampai akhir masa jabatan. Karena, nasib warga Jakarta menjadi taruhannya. Kalau keduanya tidak kompak apalagi saling berkompetisi, sangat mengganggu pembangunan.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus RahardÂiansyah mengatakan, ketidak-komÂpakan keduanya mengindikasikan inkonsistensi kebijakan.
Menurut Trubus, ada kebiÂjakan yang belum selesai dibaÂhas, tetapi karena tidak dikoorÂdinasikan dengan baik, maka keduanya tidak sengaja mengaÂtakannya kepada publik.
"Mereka tidak satu koordiÂnasi. Kemungkinan kebijakan tersebut masih setengah matang, tetapi sudah diberitakan ke meÂdia," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, karena latar belakang keduanya yang bukan birokrat. Berbeda dengan Gubernur dan Wagub DKI sebeÂlumnya, yaitu Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dan Djarot Saiful Hidayat. Ketiganya pernah menjabat sebaÂgai kepala daerah sebelum menÂjadi Gubernur dan Wagub.
Sereida Tambunan mengataÂkan, Anies dan Sandi diharapkan terus kompak memimpin JakarÂta. Keduanya diingatkan jangan sampai membuat pernyataan yang saling menganulir satu dengan lainnya.
Menurutnya, dua pernyataan yang saling bertentangan memÂbikin bingung warga. Misalnya mengenai libur sekolah saat Asian Games 2018 di Jakarta Agustus mendatang.
"Saya kira dari awal konsepnya sudah jelas. Ternyata masih daÂlam pembahasan. Kalau memang belum final, jangan dulu dibuka ke publik. Sebaiknya dibicarakan berdua saja," tegasnya.
Terkait libur atau tidak, SeÂreida berpendapat, jika diliburÂkan serentak seluruh sekolah di DKI selama Asian Games, dikhawatirkan akan menggangÂgu kalender akademik yang telah diatur dalam kurikulum sepanjang 2018. Karena itu, Komisi Kesejahteraan Rakyat DPRD DKI Jakarta tidak sepaÂkat dengan keputusan Pemprov DKI.
"Saya tidak setuju kalau seÂmua harus diliburkan karena pasti akan mengganggu kalender akademik," ujar Sereida.
Mengenai antisipasi kemacÂetan lalu lintas agar waktu temÂpuh para atlet terjamin untuk menuju masing-masing venue Asian Games, Sereida juga meÂnyebut hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan.
"Karena sudah menjadi keÂwajiban pemerintah menjamin waktu tempuh atlet untuk samÂpai ke tempat kompetisi. Kalau alasannya kemacetan ini salah," ungkapnya.
Seperti diketahui, Anies-Sandi beda sikap soal libur sekolah saat Asian Games. Sandi meÂmastikan Pemprov DKI akan meliburkan sekolah selama perÂhelatan Asian Games. Namun, keputusan itu dianulir Anies. Padahal, keputusan itu diambil merupakan hasil rapat evaluasi progres persiapan Asian Games di Balai Kota Jakarta, Jumat pekan lalu.
Rapat tersebut dihadiri sejumÂlah Kepala Satuan Kerja PerangÂkat Daerah (SKPD). Termasuk Dinas Pendidikan hingga Eric Thohir sebagai Ketua Panitia Penyelenggaran Asian Games 2018 (INASGOC).
Saat itu, Kepala Dinas PendidiÂkan DKI Sopan Adrianto mengaÂtakan, pihaknya mendapat penuÂgasan untuk mengerahkan siswa untuk menyambut kedatangan para atlet Asian Games. SemenÂtara kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berlangsung.
"(Kenapa diliburkan), karena kalau tidak kita liburkan akan suÂlit pengerahannya," ujar Sopan.
Meski demikian, dia memastiÂkan siswa SMP, SMA, dan SMK yang bakal diliburkan selama tiga pekan itu, tetap mendapat tugas dari masing-masing guru dalam bentuk
outing class. SeÂlain itu, libur tersebut akan dikompensasi dari jatah libur semester ganjil yang rutin dilakÂsanakan pada bulan Desember.
"Kita akan sosialisasikan kemungkinan ada rekayasa dalam jam, termasuk penugasan saat libur itu. Karena memang tidak libur penuh ya," ungkap Sopan.
Keputusan meliburkan seluÂruh sekolah di Jakarta diperteÂgas Sandi usai rapat yang sama. Meski di tengah rapat Eric meÂminta kebijakan libur hanya ditÂerapkan pada zona tertentu, dan adanya pengaturan jam kantor untuk mengantisipasi kemacetan selama Asian Games.
"Tadi akhirnya diputuskan untuk meliburkan sekolah secara menyeluruh di wilayah DKI. Bukan hanya yang di sekitar venue atau sekitar kampung atlet," ungkap Sandi.
Namun saat dikonfirmasi lebih lanjut mengenai libur sekolah ini, Anies menampik. Kepada wartawan saat mengunjungi Depo Mass Rapid Transit (MRT) di Lebak Bulus, Jakarta SelaÂtan, Anies menyanggah adanya keputusan soal libur sekolah selama Asian Games.
"Belum ada, belum ada, titik," tandas Anies. ***