Berita

Joko Widodo/Net

Politik

Relawan Sadar: Bantahan Bank Dunia Untuk Melindungi Jokowi

JUMAT, 30 MARET 2018 | 09:53 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Bantahan Bank Dunia tentang penguasaan 74 persen lahan oleh segelintir orang bermuatan politik dan bermaksud untuk melindungi Presiden Joko Widodo.

"Bank Dunia terindikasi dimanfaatkan oleh pemerintahan Jokowi," kata Kordinator Komunitas Relawan Sadar (Korsa) Amirullah Hidayat kepada redaksi, Jumat (30/3).

Pertanyaannya, kenapa data yang dikeluarkan Bank Dunia tahun 2015 baru dibantah sekarang. Apalagi bantahan itu dikeluarkan saat posisi pemerintahan Jokowi terjepit terkait land reform atau reformasi agraria.


Amirullah yakin pernyataan yang dikeluarkan Bank Dunia itu hanya untuk menyelamatkan pemerintahan Jokowi yang gagal dalam dalam menyelesaikan land reform, janji Jokowi-JK pada Pilpres 2014.

"Penyataaan Bank Dunia itu berbau politik, dan pasti ada yang mensetting oleh tokoh penting Istana yang punya jaringan di Amerika Serikat sebagai pusat Bank Dunia. Ini guna melindungi Jokowi, apalagi kondisi saat itu Jokowi dalam posisi kalut menghadapi permasalahan isu tanah ini," ujar eks relawan Jokowi ini.

Amirullah menambahkan, salah satu penyebab para relawan Jokowi keluar dalam barisan pendukung karena pemerintah gagal dalam menyelesaikan permasalah konflik tanah. Sudah jadi rahasia umum sejak orde baru, jutaan hektar tanah rakyat dirampas oleh pengembang.

"Bahkan sejak Jokowi menjadi Presiden ratusan konflik permasalah tanah yang dilaporkan tidak adapun satu yang diselesaikan, hanya diberi janji-janji saja. Padahal, saat Pilpres 2014 masyarakat yang mengalami konflik tanah memilih Jokowi," tuturnya.

"Jadi intinya Bank Dunia dimanfaatkan untuk menutupi kegagalan Jokowi dalam memenuhi janji kampanyenya," tegas Amirullah  mengunci komentarnya.

Bank Dunia sebelumnya membantah pernah mengeluarkan data 74 persen lahan RI dimiliki segelintir orang. Bantahan itu dialamatkan kepada Wakil Ketua Komisi I DPR yang juga Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais.

Padahal, kata Hanafi, sebelum dirinya, Komnas HAM (2016), Ombudsman (2017) dan beberapa tokoh pernah mengutip data itu, tapi tidak dibantah oleh Bank Dunia.

"Pertanyaannya sekarang, ketika Hanafi Rais merujuk pada angka yang sama, kenapa lantas Bank Dunia membantah sekarang, kenapa tidak membantah jauh-jauh hari sebelumnya," sebut Hanafi di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis kemarin. [rus]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya