Berita

Tuan Guru Bajang/Net

Politik

TGB Jangan Takut Angkat Kaki Dari Demokrat

SELASA, 27 MARET 2018 | 00:07 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Peluang Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) untuk menjadi wakil Partai Demokrat dalam ajang Pilpres 2019 terbilang tipis. Ini lantaran ada sosok Ketua Komando Tugas Bersama (Korgasma) Pemenangan Pemilu Nasional Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang lebih diunggulkan.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai bahwa peluang TGB dicalonkan Demokrat sangat tipis. Ini lantaran ada AHY yang menjadi putra mahkota di Partai Demokrat. Apalagi, AHY sudah mempertaruhkan karir militernya demi berkecimpung di dunia politik.  

"TGB memang berpengalaman pimpin NTB 2 periode, dekat dengan ulama. Tapi tidak ada jaminan kalau ada AHY," jelasnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (26/3).


Menurutnya, Demokrat memang akan mengatakan bahwa penentuan sosok yang menjadi wakil partai di Pilpres 2019 dipilih secara demokratis. Tapi tetap, keputusan akhir ada di Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan AHY yang akan dipilih sebagai wakil Demokrat.

Untuk itu, Pangi menyarankan agar TGB melompat ke partai lain jika ingin tetap memenuhi ambisi ikut Pilpres 2019. Kata dia, dengan berpindah partai TGB bisa lebih leluasa dalam menggalang dukungan.

"Melompat partai saja. Bisa kemana-mana ke partai apa saja," lanjutnya.

TGB, sambung Pangi, tidak perlu khawatir dengan langkah itu. Sebab, jika nanti elektabilitasnya mengalami kenaikan yang signifikan, dia akan tetap jadi incaran partai-partai untuk dicalonkan.

"Teorinya sederhana, kalau trend elektabilitas naik dan bagus, partai akan ngikut sendiri. Jadi nggak perlu takut melompat," tegasnya.

Lebih lanjut, pengajar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengimbau kepada TGB untuk tidak lagi merongrong internal Demokrat. Ini terkait isu tentang penggunaan buzzer jahat yang diduga kuat digunakan TGB untuk menyerang AHY.

"Kalau mash mau berkarir di Demokrat ya jangan lah. Apalagi yang melawan Pak SBY kan nggak pernah menang. Kecuali kalau mau keluar Demokrat, silakan (serang pakai buzzer jahat) saja," tutup Pangi. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Prabowo Bidik Produksi Sedan Listrik Nasional Mulai 2028

Kamis, 09 April 2026 | 16:15

Program Magang Nasional Tidak Tersentuh Efisiensi

Kamis, 09 April 2026 | 15:56

BGN Siap-siap Dicecar DPR soal Pengadaan Motor Listrik MBG

Kamis, 09 April 2026 | 15:41

Gedung Kementerian PU Mendadak Digeledah Kejati DKI

Kamis, 09 April 2026 | 15:33

Gibran Dukung Hakim Ad Hoc di Persidangan Andrie Yunus

Kamis, 09 April 2026 | 15:21

Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:19

Prabowo Dorong VKTR Jadi National Champion Industri Otomotif RI

Kamis, 09 April 2026 | 15:08

Jalan Merangkak Demokrasi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:01

Gibran Ajak Deddy Sitorus Sama-sama Berkantor di IKN

Kamis, 09 April 2026 | 14:37

Susun RUU Ketenagakerjaan, Kemnaker Serap Aspirasi 800 Serikat Buruh

Kamis, 09 April 2026 | 14:30

Selengkapnya