Berita

Politik

Agus Hermanto: Pernyataan Saya Hanya Menanggapi Pak Hasto Bukan PDIP Secara Menyeluruh

SENIN, 26 MARET 2018 | 11:47 WIB | LAPORAN: SORAYA NOVIKA

. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto mengatakan, soal kesaksian terdakwa KTP-el Setya Novanto yang menyebut dua kader utama PDIP Puan Maharani dan Pramono Anung juga kecipratan duit KTP-el, harusnya ditanyakan langusung kepada yang bersangkutan puan dan Pram.

Atau bisa langsung diklarifikasi kepada Setnov sapaan akrab ketua umum Partai Golkar, dan pihak KPK.

"Kan yang ngomong itu Pak Setnov, harusnya minta klarifikasinya ke Pak Setnov dan KPK dong," ujar Agus, wakil ketua DPR dari Fraksi Demokrat ini, di Gedung Nusantara III, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (26/3).


Jelas Agus, bukan malah Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristianto menyeret-nyeret pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat, yang seolah-olah dalang kasus korupsi KTP-el.

Dia menilai kasus korupsi atau penyelewengan terhadap proyek negara bisa dilakukan oleh siapa pun, baik dari partai pemerintah manapun partai oposisi. Sehingga tidak bisa secara mutlak menyalahkan pemerintahan yang sedang menjabat.

"Yang namanya penyelewengan bisa dilakukan oleh partai manapun, baik partai koalisi maupun oposisi," sebut Agus.

Ditambahkannya, terkait omongan Hasto tersebut tidak akan berdampak buruk terhadap hubungan antara Demokrat dengan PDIP.

"Saya pastinya akan menjaga hubungan baik dengan siapapun, partai manapun. Pernyataan saya ini hanya untuk menanggapi pernyataan Pak Hasto bukan PDIP secara menyeluruh," demikian Agus.

Pada persidangan Kamis lalu (22/3), terdakwa Setya Novanto mengatakan bahwa uang proyek KTP-el juga menyinggahi dua politisi utama PDIP Puan Maharani dan Pramono Anung. Masing-masing mendapatkan uang sebesar 500 ribu dolar AS.

Baca: Setya Novanto: Setya Novanto: Puan Maharani dan Pramono Anung Terima 500 Ribu Dolar AS

Uang itu diberikan oleh orang kepercayaan Novanto yang juga pengusaha Made Oka Masagung. [rus]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Di Hadapan Eks Menlu, Prabowo Nyatakan Siap Keluar Board of Peace Jika Tak Sesuai Cita-cita RI

Rabu, 04 Februari 2026 | 22:09

Google Doodle Hari Ini Bikin Kepo! 5 Fakta Seru 'Curling', Olahraga Catur Es yang Gak Ada di Indonesia

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:59

Hassan Wirajuda: Kehadiran RI dan Negara Muslim di Board of Peace Penting sebagai Penyeimbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:41

Ini Daftar Lengkap Direksi dan Komisaris Subholding Downstream, Unit Usaha Pertamina di Sektor Hilir

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:38

Kampus Berperan Mempercepat Pemulihan Aceh

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:33

5 Film yang Akan Tayang Selama Bulan Ramadan 2026, Cocok untuk Ngabuburit

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:21

Mendag Budi Ternyata Belum Baca Perintah Prabowo Soal MLM

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:54

Ngobrol Tiga Jam di Istana, Ini yang Dibahas Prabowo dan Sejumlah Eks Menlu

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:52

Daftar Lokasi Terlarang Pemasangan Atribut Parpol di Jakarta

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:34

Barbuk OTT Bea Cukai: Emas 3 Kg dan Uang Miliaran Rupiah

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:22

Selengkapnya