Berita

Emrus Sihombing/Net

Politik

Relawan Jokowi Harusnya Demo Koruptor, Bukan Tarik Dukungan

MINGGU, 18 MARET 2018 | 04:41 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Gelombang relawan Presiden Joko Widodo yang mulai balik badan jelang Pilpres 2019 terjadi karena relawan mulai masuk ke ranah politik.

Begitu kata pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (17/3).

Menurutnya, seorang relawan seharusnya rela memberikan dukungan tanpa syarat. Ketika relawan itu merasa kecewa, maka hal itu menjadi indikasi bahwa mereka sudah masuh ranah  politik


"Relawan itu kan rela, harusnya rela memberikan dukungan tanpa syarat. Kecuali Jokowi korupsi dan melakukan tindakan tidak terpuji," ujarnya.

Emrus turut mengomentari alasan relawan yang mulai mencabut dukungan karena Jokowi melakukan utang luar negeri dan ekonomi melambat. Menurutnya, hampir semua presiden melakukan utang. Namun di era Jokowi, utang itu dikonversi ke belanja barang produktif, salah satunya perbaikan infrastruktur.

"Yang harus disoroti soal utang ini adalah pemborosan karena ada yang dikorupsi. Makanya yang seharusnya didemo itu koruptor, yang jadi beban ekonomi kita. Kalau ke Jokowi salah alamat itu," sambungnya.

Sementara mengenai ekonomi melambat, Emrus menilai bahwa seharusnya relawan bergerak aktif membantu Jokowi. Misalnya, dengan melakukan advokasi ke masyarakat pedesaan.

"Kalau relawan Jokowi ya harus membantu. Kalau politisi baru wajar cabut dukungan," tukasnya.

Dua hari berturut barisan relawan Joko Widodo menyatakan penyesalan karena sudah menjadi pendukung Joko Widodo.  Jumat (16/3), kelompok aktivis Pro Demokrasi (Prodem) menggelar aksi di depan Istana Negara. Mereka mengaku menyesal pernah mendukung Joko Widodo, bahkan dalam aksi ini mereka menyatakan tobat nasuha.

Pada Sabtu (17/3), giliran Komunitas Relawan Sadar (Korsa) yang menyatakan menyesal pernah mendukung Jokowi.

Kedua relawan ini menilai Jokowi gagal menepati janji kampanye, gagal dalam menghentikan utang luar negeri, dan gagal meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. [ian]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya