Berita

Politik

Aksi 163 dan Kelegowoan Pimred Tempo

SABTU, 17 MARET 2018 | 17:45 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DENGAN sanubari gedebar-gedebur dirongrong gelisah harap-harap-cemas nun jauh dari Buenos Aires di belahan bumi sebalik Nusantara , saya mengikuti perkembangan Kasus Kartun Tempo.

Saya menguatirkan malapetaka yang terjadi pada Tragedi Kartun Charlie Hebdo di Paris yang telah mengorbankan belasan nyata sesama manusia tidak berdosa akan terjadi di Jakarta akibat direncanakan Aksi Damai 163 menggeruduk kantor pusat grupTEMPO.

MAAF


Syukur-alhamdullilah , terberitakan bahwa pemimpin redaksi Kantor berita TEMPO, Arif Zulkifli telah legowo menyampaikan permohonan maaf atas penayangan kartun yang diduga menghina Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Sihab yang termuat di majalah TEMPO beberapa waktu lalu.

Setelah melakukan pertemuan tertutup dengan petinggi FPI , Jumat 16 Maret 2018 siang, Arif didampingi beberapa wakil peserta Aksi Damai 163 naik ke atas mobil komando. Pada kesempatan itu Arif menjelaskan pihak TEMPO akan membuat hak Jawab atas kasus itu yang akan ditayangkan di majalah TEMPO edisi berikutnya sebagai bentuk permintaan maaf dan respon atas aksi protes tersebut.

Selain meminta maaf, Arif menjelaskan perkara tersebut juga akan diselesaikan secara hukum melalui dewan pers.  Namun suasana nyaris rusuh sebab ratusan massa yang tergabung dalam aksi tersebut mendesak Arif untuk meminta maaf secara lisan pada saat dan di lokasi  Aksi Damai 163.

Awalnya Arif menolak untuk meminta maaf secara lisan karena sudah ada kesepakatan dengan petinggi FPI dalam pertemuan sebelumnya bahwa permintaan maaf akan dilakukan melalui hak jawab yang bakal ditayangkan di majalah tersebut. Namun karena emosi massa semakin memanas Arif pun berinisiatif untuk meminta maaf secara lisan di hadapan peserta aksi.

"Kalau karikatur yang dimuat majalah TEMPO menimbulkan tafsir yang berbeda dan menimbulkan ketersinggungan saya minta maaf," demikian ungkap Pemred TEMPO.

PENGHARGAAN
 
Sebagai pendiri Pusat Studi Kelirumologi dan Pusat Studi Humorologi, saya menyampaikan penghargaan atas kekesatriaan dan kelogowoan Pimres TEMPO, Arif Zulkifli berkenan langsung di lokasi Aksi Damai 163 memohon maaf kepada para peserta Aksi Damai 163 tanpa menunggu proses birokrasi mau pun hukum nan berkepanjangan dan berbelit-belit.

Andaikata pimred Tempo bersikap arogan tidak sudi mengalah  maka dikuatirkan pertumpahan darah akan terjadi pada Aksi Damai 163 akibat Kasus Kartun Tempo. Kekesatriaan dan kelegowoan Pimred TEMPO layak diangkat sebagai suri teladan cara penyelesaian secara adil dan beradab terhadap kasus perselisihan paham akibat anggapan penistaan.

Kekesatriaan dan kelogowoan Arif Zulkifli juga merupakan pewujudan citra kedewasaan peradaban demokrasi jurnalisme bebas dan bertanggung jawab yang dimiliki pers Indonesia yang sayang tampaknya tidak dimiliki pers Perancis yang terlalu fokus mendambakan kebebasan tanpa kesediaan bertanggung jawab atas kebebasan.

BANGGA

Tak lupa saya menyampaikan penghormatan kepada para peserta Aksi Damai 163 yang terbukti mampu menahan diri sehingga Aksi Damai 163 benar-benar tertatalaksana secara damai. Para peserta Aksi Damai 163 berhasil mengejawantahkan makna luhur yang terkandung di dalam hadits Jihad Al-Nafs sehingga tidak meluapkan amarah dalam bentuk angkara murka kekerasan ragawi seperti yang terjadi pada Tragedi Kartun Charlie Hebdo di Paris yang terbukti telah mengorbankan belasan nyawa sesama manusia tidak berdosa.

Sikap pemimpin redaksi TEMPO dan para peserta Aksi Damai 163 membuat saya merasa bangga menjadi warga bangsa Indonesia. MERDEKA! [***]

(Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi, Pusat Studi Humorologi dan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan)

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:01

Polisi: 21 Karung Cacahan Uang di TPS Liar Terbitan BI

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:56

Seskab: RI Belum Bayar Iuran Board of Peace, Sifatnya Tidak Wajib

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:51

Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Sejalan Capaian Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:46

Amdatara Gelar Rakernas Perkuat Industri Air Minum Berkelanjutan

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:30

Mahfud Sebut Sejarah Polri Dipisah dari Kementerian Hankam karena Dikooptasi

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:14

AHY Optimistis Ekonomi Indonesia Naik Kelas

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:13

Gaya Komunikasi Yons Ebit Bisa Rusak Reputasi DPN Tani Merdeka

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:08

Juda Agung Ngaku Mundur dari BI karena Ditunjuk Prabowo Jadi Wamenkeu

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:05

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:04

Selengkapnya