Berita

Zulkifli Hasan/Net

Calon Kepala Daerah Terhimpit Biaya Pilkada Yang Mahal

JUMAT, 09 MARET 2018 | 13:57 WIB | LAPORAN: SORAYA NOVIKA

. Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberatan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah Calon Kepala Daerah (Cakada) dampak dari mahalnya biaya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) itu sendiri.

"Kita ini tak punya jalan keluar mengingat biaya Pilkada yang juga besar," ujar Zulkifli di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (9/3).

Menurut ketum PAN ini, biaya Pilkada yang besar tidak sebanding dengan pendapatan para Cakada sehingga memaksa mereka untuk memungut sumbangan dari berbagai pihak dan akhirnya mengundang kecurigaan dari KPK dan berujung OTT.


"(Biaya) incumbent Pilkada itu dari mana? Misal gaji Gubernur itu Rp 100 juta, sedangkan biaya Pilkada yang dibutuhkan Rp 160 miliar, tentu butuh sumbangan kan?" terang Zulkifli.

Di lain sisi, Perppu 1/2014 tentang Pilkada yang diterbitkan oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengeluarkan pencabutan hak DPRD dalam memilih Kepala Daerah turut memperparah posisi kandidat.

"DPRD tidak bisa memilih kepala daerahnya sendiri, sedangkan negara juga tidak membiayai proses Pilkada dan melarang kandidat dalam proses pengumpulan dana, terus bagaimana? Kalau begini ya tinggal tangkap saja, pasti ada saja kan salahnya?" tutur Zulkifli.

Untuk itu, dia mengimbau agar setidaknya negara bisa mengadopsi salah satu dari model Pilkada yang sudah berlaku di luar negeri.

Pertama, model Pilkada di Eropa dan Amerika Latin yang membiayai serta menanggung langsung segala proses Pilkada yang berjalan. Kedua, model Pilkada di Amerika Serikat yang mempersilahkan kandidat Pilkada mencari dana secara mandiri dengan aturan yang jelas. Ketiga, membolehkan kandidat tetap bekerja dengan latar belakang profesinya masing-masing, sehingga ada penghasilan tambahan yang bisa digunakan untuk proses Pilkada yang bersih.

"Kalau negara sudah memilih salah satu model tersebut namun kandidatnya masih tetap maling, itu baru yang harusnya dihajar habis-habisan," demikian Zulkifli. [rus]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya