Berita

Politik

Kasus MCA Hanya Pengalihan Isu Menutupi Kegagalan Pemerintah

SABTU, 03 MARET 2018 | 12:38 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Komunitas Relawan Sadar (KORSA) menilai gencarnya operasi dan pemberitaan kasus dugaan ujaran kebencian dan SARA oleh kelompok Muslim Cyber Army (MCA) hanya untuk pengalihan isu atas gagalnya pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam mengurus negara.

Kordinator KORSA Amirullah Hidayat mengatakan hal ini dapat dibuktikan sejak isu MCA tersebut mencuat dengan dilakukan penangkapan beberapa orang yang mengaku sebagai anggota MCA, maka kasus-kasus kerakyatan seperti busung lapar, melemahnya Rupiah, impor beras di musim panen, kenaikan BBM, dan lainnya hilang seperti di telan bumi.

Hampir semua media apakah itu media elektronik maupun online sibuk mengangkat isu MCA, tidak ada yang mengangkat isu gagalnya pemerintahan Jokowi.


Menurut Amirullah, kalau pemerintah mau maka sangat mudah untuk menyelesaikan kasus hoax ini di sosmed apalagi pemerintahan Jokowi telah membentuk Badan Cyber Nasional. Tinggal badan ini berkordinasi dengan penyedia layanan seperti Fecebook, Twitter dan WhatsApp untuk memblokir akun yang memuat hoax tersebut.

"Penilaian ini juga setelah kita melihat banyak keganjilan dalam proses hukum terhadap penangkapan beberapa orang yang mengaku anggota MCA, seolah-olah kasus hoax ini dilakukan secara masif padahal kalau kita perhatikan kenyataan di lapangan, bahwa keberadaan MCA hanya individu-individu muslim yang aktif di sosial media dan mereka tidak saling kenal, meraka disatukan oleh semangat keislaman maka pasti tidak terstruktur," tuturnya, Sabtu (3/3).

Apalagi dalam Islam menyebarkan kabar hoax atau bohong sangat dilarang dan siapa pelakunya akan menanggung dosa. Jadi tidak mungkin penyebaran hoax itu dilakukan oleh aktivis sosial media yang benar benar murni membela Islam.

"Makanya kita menilai kasus MCA ini hanya untuk mengalihkan perhatian publik terhadap permasalahan yang dialami negara saat ini," ujar Amirullah yang juga tokoh muda Muhammadiyah.

Pihaknya menghimbau kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak terbuai dengan permainan isu yang dilakukan pemrintah. Rakyat harus fokus membahas kondisi negera yang memprihatinkan dan terus melakukan kritikan tajam dengan tidak melakukan ujaran kebencian, SARA dan hoax. [rus]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Polda Metro Geledah Sembilan Lokasi Terkait Dugaan Korupsi Proyek Alat Konstruksi

Jumat, 18 September 2026 | 18:26

APBN Defisit Rp240 Triliun, IHSG-Rupiah Kompak Anjlok

Jumat, 18 September 2026 | 18:06

Sinopsis The Ordinary Jackpot, Drama Korea Terbaru Lee Jun-hyuk

Jumat, 18 September 2026 | 18:04

Usai Summarecon Agung, Rumah Anak Buah Nusron Wahid Digeledah KPK

Jumat, 18 September 2026 | 18:02

BNI Perkuat Peran Bank Sahabat Mahasiswa melalui Jatinangor Music Fest

Jumat, 18 September 2026 | 17:57

Geledah Kantor Summarecon Agung, Dokumen SHGB dan Bukti Elektronik Disita KPK

Jumat, 18 September 2026 | 17:48

Fahd A Rafiq Jadi Tersangka KPK 3 Kali, Ini Daftar Kasus yang Menjeratnya

Jumat, 18 September 2026 | 17:48

Kasus Summarecon Alarm Pembenahan Sistem Blokir Pertanahan

Jumat, 18 September 2026 | 17:42

Beda Influenza A dan Flu Biasa, Kenali Gejala dan Cara Membedakannya

Jumat, 18 September 2026 | 17:41

Paulus Tannos Tegaskan Tak Hindari Hukum, Minta Bukti Diuji Secara Adil

Jumat, 18 September 2026 | 17:28

Selengkapnya