Berita

Prijanto/Net

Politik

Andai Kartu Kuning Zaadit Taqwa Untuk Umar Bin Khattab

SELASA, 06 FEBRUARI 2018 | 10:29 WIB | OLEH: PRIJANTO

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Zaadit Taqwa mengatakan, kartu kuning itu diberikan kepada Jokowi sebagi bentuk peringatan atas berbagai masalah yang terjadi di dalam negeri. Lebih lanjut Zaadit mengatakan sudah seharusnya Presiden Joko Widodo diberi peringatan untuk melakukan evaluasi di tahun keempatnya.

Masalah tersebut adalah isu gizi buruk di Asmat, isu penghidupan kembali dwifungsi Polri/TNI, dan penerapan peraturan baru organisasi mahasiswa. "Masih banyak isu yang membuat masyarakat resah atas kondisi Indonesia" kata Zaadit. Dengan demikian, peluit dan kartu kuning Zaadit bukan hanya masalah suku Asmat, juga bukan hanya dwifungsi Polri/TNI dan organisasi kemahasiswaan saja, namun banyak permasalahan bangsa.

Esensi kartu kuning Zaadit adalah masalah kepemimpinan. Ada beberapa respons, menurut pendapat saya lebih ke arah politik, dengan pembelaan yang sempit. Zaadit tidak menanyakan apa upaya penanganan pasca bencana kemanusiaan di Asmat. Nafas pertanyaan Zaadit "mengapa hal itu bisa terjadi?" Kegalauan Zaadit juga tidak hanya isu Asmat. Cermati kata Zaadit: "Masih banyak isu yang membuat masyarakat resah atas kondisi Indonesia".


Beberapa Menteri mendukung maksud Presiden untuk mengajak BEM UI datang ke suku Asmat. Menurut saya, ajakan tersebut belum menjawab esensi kartu kuning Zaadit, tentang kepemimpinan dan permasalahan bangsa lainnya. Terkait isu Asmat, menurut saya yang pas jika pemerintah membeberkan bagaimana kondisi faktual, narasi program, pelaksaaan dan pengawasan selama ini. Bukan mengajak Zaadit dkk kunjungan ke Asmat, dan dengan lincah mengatakan pemerintah tidak salah.

Surat terbuka dari dokter di Papua untuk Ketua BEM UI, dari Yafet Yanri Sirupang, melalui akun FB-nya, yang viral di medsos, antara lain Yafet minta Zaadit sebagai mahasiswa untuk tidak berkoar-koar tanpa mengetahui realita di lapangan (jurnalindonesia.co.id/surat-terbuka-dari-dokter…). Menurut saya, Yafet berbeda dalam mengartikan kartu kuning Zaadit. Yafet menulis "Ia juga menyesalkan permasalahan gizi buruk selalu mengkambinghitamkan sektor kesehatan…dst". Sebuah narasi pembelaan dari korps dokter.

Lebih lanjut Yafet menulis, kasus gizi buruk di Papua sudah dari dulu terjadi. Gizi buruk karena tidak cukupnya asupan makanan dan penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung, kurangnya ketersediaan pangan, pola asuh tidak memadai, kesehatan lingkungan dan perilaku hidup sehat. Apa yang ditulis Yafet tersebut tidak mungkin Zaadit dkk tidak ngerti, walau belum pernah nginjak Papua.

Karena kondisi faktual itulah, Indonesia perlu Presiden dan Menteri untuk mengatasinya. Andaikan penangan pasca tragedi kemanusiaan, seperti mengedrop makanan bergizi, mengirim tenaga kesehatan dll dilakukan sebelum tragedi, tentu bencana kemanusiaan bisa dihindari. Pertanyaan kritisnya, jika kita bisa ngedrop makanan, mengapa tidak dilakukan sebelum nyawa terenggut? Apabila bisa mengerahkan relawan untuk kepentingan politik dan pesta, mengapa kita tidak ngedrop relawan untuk memberikan penyuluhan? Sebaiknya kita tidak berlindung, gizi buruk sudah ada sejak dulu sebagai alasan, karena itu alasan yang tidak cerdas.

Ada lagi yang salah mengartikan kartu kuning Zaadit, sehingga menjadi lucu namun menyedihkan. Di salah satu FB yang juga viral ditulis kurang lebih sbb: "…. Kalau boleh saya hanya ingin tanya pada pak Azzam, apa anda tidak tahu di saat Ketua BEM UI terkenal di Depok ini baru berlagak menyemprot Presiden soal Asmat, UGM sudah mengirim … dst. Sudahkah anda dengar berita Universitas Hasanudin Makasar yang memberangkatkan 19 orang tim tanggap darurat ke Kabupaten Asmat… dst".

Azzam adalah CEO AMI Foundation yang memberikan apresiasi kepada Zaadit, dengan mengajak umroh. Dimana lucu namun menyedihkan dari komentar di atas? Bagaimana tidak, ibaratnya Zaadit menanyakan "mengapa hal itu bisa terjadi" sebagai bentuk gugatan dari sebuah pertanggungjawaban kepemimpinan, direspons cerita universitasnya dan universitas lain sudah datang menangani. Mengapa menjadi unjuk diri bahwa saya sudah mengabdi dan persaingan antar perguruan tinggi?

Kritik kartu kuning Zaadit mengingatkan saya, riwayat Khalifah Umar Bin Khattab yang dicintai dan mencintai rakyatnya disemprot ibu yang lusuh: "Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku yang kelaparan. Inilah kejahatan Khalifah Umar Bin Khattab. Ia tak mau lihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum". Hati Umar tergoncang sedih, dan air matanya menetes, berkata lembut berpamit pulang ke Madinah.

Aslam yang menemani Khalifah Umar, melihat Umar terseo-seok memanggul karung gandum untuk ibu dan anak yang kelaparan. Ia merasa iba dan berkata "Wahai Amirul Mukminin, biar aku saja yang memikul karung itu". Betapa terkejut Aslam, melihat Umar Bin Khattab merah padam dan berkata "Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?" Aslam kaget dan terhenyak. Menelentarakan kaum papa, menuntun ke neraka.

Esoknya, si ibu menghadap Khalifah Umar. Si ibu terkejut, ternyata yang memberi gandum dan memasak makanan tadi malam Umar Bin Khattab. Berkatalah si Ibu "Aku mohon maaf, Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum". Dengan lembut Umar menjawab "Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku di hadapan Allah SWT mempertanggungjawabkan hal ini? Aku yang minta maaf kepada ibu".

Andaikan Zaadit hidup di era Khalifah Umar Bin Khattab, dan kartu kuning Zaadit untuk Umar Bin Khattab, saya yakin Zaadit dan Universitas Indonesia walau minta maaf, Umar Bin Khattab tidak akan menerimanya. Justru Umar Bin Khattab yang minta maaf dan mengucapkan terima kasih, atas peringatan untuk dirinya. Itulah nilai-nilai kepemimpinan yang dilandasi ajaran agama. Akankah pemimpin-pemimpin kita seperti itu ? InsyaAllah, amin. [***]

Penulis adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta 2007-2012/Deklarator Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI)

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya