Berita

Bung Karno

Jaya Suprana

Demokrasi Borjuis

SABTU, 03 FEBRUARI 2018 | 07:51 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BUNG Karno ketika baru berusia 23 tahun menulis mahanaskah "Mencapai Indonesia Merdeka" yang antara lain mengingatkan kita kepada sejarah Revolusi Perancis sebagai berikut.

Dan borjuis lalu menjalankan kecerdikan ini! Hiduplah demokrasi!, hiduplah kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan!, hiduplah liberte, egalite dan fraternite !',- semboyan ini ia dengung-dengungkan sehingga memenuhi angkasa, semboyan-semboyan ini ia kobarkan di kalangan Rakyat-jelata. Sebagai simum Rakyat-jelata lantas bergerak, api-kehebatan pergerakannya sampai menjilat langi, bumi dan angkasa Perancis gemetar dan pecah seakan-akan Krisna bertiwikrama. Lautan masyarakat Perancis yang tenang berabad-abad kini menjadi bergelombang-gelombangan molak-malik, lautan mendidih yang hantam-hantamannya membikin remuknya batu-karang feodalisme.

Runtuh


Raja runtuh, kaum ningrat runtuh, kaum penghulu-agama runtuh, otokrasi runtuh, diganti dengan cara pemerintahan baru yang bernama demokrasi. Di negeri diadakan parlemen, Rakyat "boleh mengirim utusan-utusannya ke parlemen itu", diikuti oleh negeri-negeri Eropa Barat dan Amerika, yang semua kini juga meniru bersistem "demokrasi". 74 Ya, Inggris kini punya parlemen, Jerman kini mempunyai parlemen, negeri Belanda kini mempunyai parlemen, negeri Amerika, negeri Belgia, negeri Denmark, negeri Swedia, negeri Swiss, semua "negeri sopan" kini mempunyai parlemen, semua "negeri sopan" kini bersistem demokrasi. Tetapi, di semua "negeri-negeri sopan" itu kini hidup dan subur dan merajalela hantu kapitalisme! Di semua "negeri-negeri sopan" itu kini Rakyat-jelata tertindas hidupnya, nasib Rakyat-jelata nasib kokoro, jumlahnya kaum penganggur yang kelaparan melebihi bilangan manusia. Di semua "negeri-negeri sopan" itu Rakyat-jelata tidak selamat, bahkan sengsara-keliwet-sengsara! Inikah hasil "demokrasi" yang mereka keramatkan itu? Inikah "kerakyatan" di negeri Perancis mereka beli dengan ribuan mereka punya nyawa, dengan ribuan mereka punya bangkai, dengan ribuan pula kepalanya raja dan kaum ningrat?

Borjuis

Ah, kaum borjuis! Kaum borjuis telah menipu mereka, memperkudakan mereka, mengelabui mata mereka. Demokrasi yang mereka rebut dengan harga nyawa yang begitu mahal itu, demokrasi itu bukanlah demokrasi kerakyatan yang sejati, melainkan suatu demokrasi borjuis belaka, suatu burgerlijke demokrasi yang untuk kaum borjuis dan menguntungkan kaum borjuis belaka.  Rakyat namanya “boleh ikut memerintah”, tetapi ah, kaum borjuis lebih kaya daripada Rakyat jelata, mereka dengan harta-kekayaannya, dengan surat-surat-kabarnya, dengan buku-bukunya, dengan sekolah-sekolahnya, dengan propagandis-propagandisnya, dengan bioskop-bioskopnya, dengan segala alat-alat kekuasaannya bisa mempengaruhi semua akal fikiran kaum pemilih, mempengaruhi semua jalannya politik. Mereka misalnya membikin “kemerdekaan pers” bagi Rakyat-jelata menjadi suatu omong kosong belaka, mereka menyulap “kemerdekaan fikiran” bagi Rakyat-jelata menjadi suatu ikatan fikiran, mereka memperkosa “kemerdekaan berserikat” menjadi kedustaan publik.

Mereka punya kemauan menjadi wet, mereka punya politik menjadi politiknya staat mereka punya perang menjadi peperangannya “negeri”. Oleh karena itu, benar sekali perkataannya Caillaux, bahwa kini Eropa dan Amerika ada di bawah kekuasaannya feodalisme baru: "Tetapi kini kekuasaan feodal itu tidak digengam oleh kaum tuan tanah sebagai sediakala, kini ia digenggam oleh perserikatan-perserikatan industri yang selamanya bisa mendesakkan kemauannya terhadap staat". Benar sekali juga perkataan de Brouckere, bahwa “demokrasi sekarang itu sebenarnya adalah suatu alat kapitalisme, suatu kapitalistische instelling, suatu kedok bagi dictatuur van het kapitalisme!".

Eling Lan Waspodo

Mengagumkan bahwa Bung Karno pada usia masih muda (23 tahun) sudah memiliki kesadaran sejarah secara jernih dan jenius demi memandang ke arah masa depan bangsa .

Pada hakikatnya, tulisan Bung Karno yang menggebu-gebu itu berupaya menyadarkan kita semua agar senantiasa bersikap Eling Lan Waspodo seksama menjaga serta ketat mencegah jangan sampai tragedi malapetaka pasca Revolusi Perancis di masa lalu itu terjadi di persada Nusatara tercinta kita di masa kini dan di masa depan.

Merdeka!

Penulis adalah rakyat Indonesia pembelajar pemikiran Bung Karno


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:01

Polisi: 21 Karung Cacahan Uang di TPS Liar Terbitan BI

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:56

Seskab: RI Belum Bayar Iuran Board of Peace, Sifatnya Tidak Wajib

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:51

Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Sejalan Capaian Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:46

Amdatara Gelar Rakernas Perkuat Industri Air Minum Berkelanjutan

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:30

Mahfud Sebut Sejarah Polri Dipisah dari Kementerian Hankam karena Dikooptasi

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:14

AHY Optimistis Ekonomi Indonesia Naik Kelas

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:13

Gaya Komunikasi Yons Ebit Bisa Rusak Reputasi DPN Tani Merdeka

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:08

Juda Agung Ngaku Mundur dari BI karena Ditunjuk Prabowo Jadi Wamenkeu

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:05

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:04

Selengkapnya