Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mengenal Inklusifisme Islam Indonesia (6)

Masuknya Islam Di Indonesia: Teori Persia

JUMAT, 02 FEBRUARI 2018 | 08:39 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

TEORI lain masuknya Is­lam di Indonesia ialah teori Persia. Teori ini berpenda­pat bahwa Islam masuk di Indonesia sejak awal Is­lam yakni abad pertama Hijriyah, atau sekitar abad ke-7 Masehi. Teori ini ham­pir sama dengan teori per­tama, bedanya teori ketiga ini beranggapan yang membawa Islam ke bumi Nusantara ini ialah para pedagang Persia yang beragama Islam dengan corak Syi'ah. Teori ini didu­kung sejumlah manuskrip yang ditemukan di sejumlah perpustakaan di Iran, termasuk di pusat-pusat manuskrip di Quom, Iran.

Teori ini sering merujuk pendapat Prof Hoesein Djajadiningrat dan Umar Amir Hus­en. Bahkan, kedua tokoh ini dianggap seba­gai pencetus teori ketiga. Kalangan ahli se­jarah sering menyebut kepulauan Nusantara sebagai bagian dari wilayah operasi dakwah dan wilayah dagang kerajaan Persia di masa lalu. Mereka menemukan beberapa bukti antara lain dalam bentuk tradisi keagamaan sejumlah daerah seperti tradisi Tabut di Beng­kulu dan tradisi maulid Cikoang di Takalar, Sulawesi Selatan. Tradisi dan lambang-lam­bang yang ditampilkan dalam upacara Tabut (atau Tabot, yang dapat dihubungkan den­gan kata taubah atau pengampunan dosa dari Allah Swt). Hal yang sama juga sering ditampilkan dalam tradisi Maulud Lompoa di Cikoang, sangat diperkaya dengan tradisi yang mirip seperti apa yang dilakukan di se­jumlah wilayah di Iran.

Tradisi-tradisi sejumlah wilayah umat Is­lam di Indonesia masih dekat dengan tradi­si Syi'ah meskipun mereka menolak kalau tradisi itu bersumber dari Syi'ah. Sejumlah daerah di Indonesia juga masih terus me­meringati Hari Asyura yang sesungguhnya adalah bagian tak terpisahkan dengan tradi­si Syi'ah atau tradisi Islam Persia. Integrasi tradisi Syi'ah di dalam tradisi keagamaan di Indonesia dahulu tidak pernah dipersoalkan, karena tradisi itu diterima sebagai fenomena budaya ketimbang sebagai fenomena agama (Islam). Persoalan mulai muncul ketika tadin­ya sebuah fenomena budaya tersebut dikem­bangkan menjadi fenomena agama. Tentu saja mulai muncul sikap resisten, misalnya lahirnya isu bid'ah, syinkretik, dan bisa jadi si'atisasi umat Sunni. Allahu a'lam.


Kenyataan lain yang dijadikan bukti ialah banyaknya kosa kata Persia yang menjadi kosa kata Bahasa Melayu atau Bahasa Indo­nesia. Kosa kata di sekitar aktivitas pelabu­han seperti kata Syahbandar, sampai seka­rang ini masih tetap menjadi bahasa aktual di pelabuhan Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Kantor Kedutaan Besar Iran di Jakarta per­nah menerbitkan sebuah buku lumayan tebal tentang bahasa-bahasa Persia yang masuk di dalam perbendaharaan Bahasa Indone­sia, baik sebagai bahasa resmi maupun se­bagai bahasa atau istilah prokem.

Kehadiran pengaruh Persia dalam masyarakat Indonesia memang tak terbantahkan. Persoalannya, apakah itu muncul sejak awal Islam yakni abad ke-7 Masehi atau datang belakangan, hal ini masih terus dalam perde­batan. Yang pasti, sejarah panjang Per­sia penuh dengan beberapa kebanggaan. Sejumlah besar ulama dan ilmuan di abad pertengahan berasal dari wilayah kekuasaan Persia. Ada yang mengatakan, seandainya sejak dahulu kala ada Hadiah Nobel (Noble Price) maka yang mendominasi Hadiah No­bel itu berasal dari kawasan Persia.

Kelemahan teori ini sama dengan teori lain, masih diperlukan bukti-bukti historis yang cukup untuk mengatakan teori ini paling benar. Kita berharap kiranya para peneliti sejarah terus lebih giat mencari bukti-bukti otentik masuknya Islam di Indonesia.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya