Berita

Golkar/net

Politik

Citra Buruk Golkar Sulit Diubah Karena Sudah Melekat Di Publik

MINGGU, 17 DESEMBER 2017 | 01:05 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Musayawarah luar biasa (Munaslub) Partai Golkar sudah di depan mata. Pertanyaan kritis, mampukah Munaslub mengantarkan Golkar ke pintu gerbang "kemerdekaan" menuju Era Now, Era Bersih, Era Transparan?

Demikian disampaikan Pengamat Politik Emrus Sihombing melalui keterangan tertulis kepada redaksi, Sabtu (16/12).

"Tampaknya sudah ada bintang penuntun. Masih ada harapan baru. Pekan ini, Golkar menunjukkan kepiawaiannya mengelolah perbedaan," kata Emrus.


Rapat pleno juga kata pendiri Emrus Corner itu telah menghasilkan keputusan sangat strategis dengan menetapkan secara definitif Ketua Umum Golkar yang baru Airlangga Hartarto (AH) menggantikan Setya Novanto (SN) yang sudah "menginap" di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut Emrus, sekalipun harus diakui, memperbaiki citra kurang baik dari suatu partai politik amat sulit, daripada membangun image baru dari sebuah partai politik baru.

"Sebab, politik itu persolan persepsi. Secara konseptual, citra kurang baik sulit dirubah karena sudah melekat di peta kognisi khalayak," ungkap Emrus.

Namun, imbuh Emrus, harus diakui juga tampilnya AH sebagai Ketum baru, menakodai Golkar, sebagai titik permulaan yang sangat baik membangun Golkar "baru" dengan branding baru yaitu, Golkar Bersih.

Sebagai branding baru, yaitu Golkar "bersih", kepegurusan Golkar di bawah kepemimpinan AH harus mampu memulihkan citra Golkar yang kurang baik selama ini. Sebab, kata Emrus, sudah jamak elit partai ini terlibat tindak pidana korupsi. Terakhir, Ketumnya status tahanan di KPK diduga kuat terlibat korupsi kasus E-KTP.

Karena itu, kata Emrus, membangun kembali kepercayaan publik terhadap Golkar harus diawali dari rekam jejak para elit partai yang duduk di jajaran susunan pengurus yang dibentuk pada Munaslub yang diselenggarakan pekan depan di Jakarta.

Paling tidak ada enam hal yang harus diperhatikan untuk melihat rekam jejak para pengurus Golkar ke depan. Pertama, kepengurusan bebas dari nama yang pernah disebut terkait tindak pidana korupsi, termasuk dengan kasus E-KTP. Kedua, kepengurusan tidak melibatkan mereka yang memainkan atau berada di dua kutub komunikasi politik yang berbeda. Misalnya, awalnya menolak Munaslub, berubah menjadi pendukung Munaslub. Dalam bahasa sehari-hari disebut, "pagi tahu, sore sudah tempe".

Ketiga, kepengurusan harus terhindar dari mantan napi, baik itu napi karena perilaku tak terpuji secara moral maupun dari tindakan dugaan tindak pidana korupsi, utamanya kasus E- KTP. Keempat, hindari kepengurusan oleh karena kekuatan uang. Sebab, jika mereka ada di dalam kepengurusan maka kelak akan mempraktekan politik prakmatis dan transaksional yang menimbulkan masalah Golkar ke depan.

"Jadi, semua jajaran kepengurusan benar-benar harus berintegritas kukuh. Seperi kata pepatah, tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas (tetap berada pada pendirian semula)," tambah Emrus.

Sementara yang keenam, kepengurusan harus mencerminkan kaderisasi yang menunjukkan komitment, rekam jejak teruji, muncul dari arus bawah, memiliki soliditas seperti batu karang yang teguh, dan mempunyai idealisme semangat kekaryaan.

Untuk itu, ungkap Emrus, pasca Munaslub, Golkar harus menyusun struktur kepengurusan yg benar- benar baru, kredibel, terpecara, dan terutama tidak berpotensi tersangkut kasus E- KTP. Jika pengurus yg berpotensi atau tersangkut kasus E-KTP masih bercokol, dipastikan sangat berat merecover image apalagi menaikan elaktabilitas pada Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

"Selain itu, untuk membangun Golkar bersih tersebut, sebaiknya Golkar tidak lagi mengusung kader berpotensi diduga atau sudah diduga (tersangka atau terdakwa) atau apalagi terlibat korupsi (terpidana korupsi), pada pilkada 2018 dan Pileg 2019. Siapapun itu," kata Emrus.

Terakhir, namun tidak kalah pentingnya, kepengurusan Golkar harus diisi generasi muda potensial untuk membangun Golkar bersih dan kuat serta mampu menjawab tantangan melenial di era digital yg sangat kompetitif.

"Untuk mewujudkan semua hal tersebut di atas, Munaslub harus mampu memunculkan Golkar dengan "wajah menawan", yaitu Golkar baru, Golkar bersih, Golkar generasi muda dan Golkar Jaman Now," demikian Emrus. [san]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya