Berita

Anies Baswedan/net

Politik

Op Tijd, Ashar Dan Leadership Anies Baswedan

RABU, 06 DESEMBER 2017 | 08:42 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

ANIES Baswedan terlambat 10 menit, dari waktu jam 15.30 pada 5 Desember 2017, yang dia janjikan bertemu rombongan Alumni ITB yang membawa aspirasi ribuan alumninya menolak reklamasi teluk Jakarta.

Dia masuk tergesa-gesa ke ruangan pertemuan, langsung menyalami tamunya, sambil meminta maaf telah terlambat dan memberi alasan bahwa dia baru sampai dari sebuah kunjungan di luar kantor.

Selesai menyalami semua tamu, dia tidak langsung duduk, namun meminta ijin pada tamunya untuk beberapa menit Sholat Ashar dulu. Baru saja sang tamu merespon ok, dia bertanya kembali apakah para tamu sudah Ashar? Tentu saja para tamu belum Ashar, karena jam Ashar baru saja tiba dan ekspektasi pertemuan 30 menit atau 1 jam, masih menyisakan banyak waktu untuk Sholat setelah pertemuan. Namun, Anies mengajak para tamunya untuk Sholat Ashar dulu sebelum pertemuan dimulai.


Permohonan maaf Anies atas keterlambatannya 10 menit dan meminta ijin Sholat Ashar dulu, plus ajakan bersholat untuk tamunya menunjukkan tipe kepemimpinan sosok Anies yang 180 derajat berbeda dari kebanyakan elit-elit di Indonesia.

Pertama soal menghargai waktu. Orang  Belanda mengatakannya Op Tijd. Ini cuma sekedar contoh, tentu negara maju lainnya mirip. Belanda sangat terkenal dengan skedul atau janji pertemuan. Jangan heran suatu waktu di tahun 90 an ketika ada kunjungan pemerintah Indonesia ke Belanda, pejabat kita heran lihat menteri mereka naik sepeda mengejar waktu untuk menghindari kemacetan ber mobil di Denhaag, mengejar skedul meeting. Op Tijd. Tepat waktu.

Menghargai waktu adalah problem besar bangsa kita. Mutia Hatta, 2015,  dalam kenangan 70 tahun antropolog Prof Koentjoroningrat, mempersoalkan rendahnya disiplin waktu bangsa kita. Kita mengenalnya "Jam Karet". Jam karet adalah kita boleh berjanji dan kemudian sesukanya membatalkan atau tidak menepati, atau berjanji kemudian membiarkan tamu menunggu, atau bertemu orang seenaknya tanpa menghargai padatnya skedul atau agenda orang yang ingin ditemuinya (spontanitas).

Allah sendiri, dalam Islam , misalnya, telah menggariskan dalam firmannya bahwa orang-orang yang mensia-siakan waktu akan merugi. Di barat sendiri dikenal istilah "time is money". Lalu bagaimana budaya buruk "jam karet" ini bisa kita hilangkan?

Merubah budaya buruk ini adalah tugas berat semua orang. Namun, contoh seorang pemimpin, seperti Anies, yang menghargai waktu, perlu menjadi  inspirasi.

Kedua, Anies meminta waktu sebentar untuk Sholat. Dan mempengaruhi tamunya juga untuk Sholat. Ini adalah teladan yang dahsyat dan sulit ditemui saat ini.

Banyak elit elit pemimpin Islam yang tidak mementingkan waktu Sholat, apalagi memikirkan Sholat tamunya. Karena, Sholat biasanya merupakan tanggung jawab masing masing kepada Tuhannya. Begitulah adab sekuler saat ini.

Namun, bagi Anies menunjukkan dia harus Sholat tepat waktu dihadapan tamunya, seperti sebuah dakwah. Apalagi bisa mempengaruhi tamunya juga untuk hal yang sama. (Ingat anak ITB itu mungkin ada 25 % lebih percaya Einstein lebih hebat dari Tuhan)

Sholat merupakan kewajiban bagi ummat Islam yang mayoritas di republik ini. Di Jakarta yang serba macet dan materialistik untuk mencari waktu dan ruang Sholat dalam suasana bisnis atau sibuk bekerja, menjadi terasa susah. Sholat Ashar biasanya sudah biasa dilakukan dekat dekat azan Maghrib. Cari tempat Sholat di perkantoran atau mall biasanya dapat sisa ruangan gudang atau tempat parkir.

Mengapa demikian? Mayoritas hal ini terjadi karena pemimpin-pemimpin negeri ini kurang menghargai mulianya Sholat. Dalam hal ruang ruang publik, khususnya swasta, karena ruang publik tersebut dikontrol orang-orang yang tidak memikirkan Sholat. Tentu beberapa tempat, seperti mal mal elit di Jakarta, sudah mulai membangun musholla yang luxorius, memanjakan konsumen muslim. Namun ini sesuatu yang terbatas keberadaannya. Sebuah terobosan besar dari Gubernur Anies adalah memberikan ruang Sholat pada setiap halte bus Transjakarta. Sebuah perubahan besar.

Dengan cintanya Anies terhadap Sholat, tentu kita berharap sebuah gerakan besar cinta Tuhan akan terjadi di Jakarta. Sebagaimana dalam agama Islam, Sholat disebutkan sebagai tiang agama, maka dapat diharapkan gerakan Sholat nya Anies akan mengurangi jumlah aparatur negara yang selama ini banyak terjebak budaya dalam dualitas konyol, habis korupsi langsung Sholat. Atau ikut zikir dan sumbang Masjid sambil makan uang korup.

Op Tijd dan Cinta Sholat tampaknya menjadi ikon leadership Anies Baswedan. Ini sebuah awal revolusi mental. Semoga tidak mental mentul (terpental-pental) seiiring waktu.

Bravo Anies Baswedan! [***]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

8.620 Hektare Lahan Kalsel Terbakar, Pemadaman Terganjal Krisis Air

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:24

BRImo Taiwan Manjakan Diaspora dan PMI Kelola Keuangan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:15

Temuan Bibit Sawit Bongkar Motif Karhutla Bukan Semata karena El Nino

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:52

ISPA dan Rabies Mulai Mengancam Ribuan Pengungsi Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:39

Tolak Demo Berbau Provokasi di DPR, Jaga Jakarta!

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:23

Magang Pengurus KDKMP Replikasi Model Bisnis Berbasis Potensi Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:12

Masa Iddah Politik Calon Ketum PBNU: Bolehkah Perkum Menambah Syarat?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:06

Menuju Muktamar NU, Nahdliyin Berharap Sejarah 2015 Tak Terulang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:31

Gebu Minang-Hanura Terbangkan 3,6 Ton Rendang Buat Korban Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:28

Obligasi Sosial Berkelanjutan BRI Raih IDX Channel Anugerah ESG 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya