Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Jawaban Atas Kritik Staf Sri Mulyani Ke Rizal Ramli

SENIN, 06 NOVEMBER 2017 | 20:55 WIB | OLEH: ABDULRACHIM K

KEPALA Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Nufransa WS, menanggapi kritik DR Rizal Ramli, Menko Perekonomian era Presiden  Abdurrahman Wahid dan Meko Maritim dan Sumber Daya 2015 -2016,  atas RUU PNBP yang diajukan Menkeu Sri Mulyani ke DPR Januari 2017.

Rizal Ramli dalam suatu diskusi di Jakarta telah mengeritik bahwa RUU PNBP yang diajukan ke DPR itu membuka peluang untuk menggenjot pendapatan negara langsung dari rakyat, bahkan dari sektor pendidikan, kesehatan dan agama, yaitu nikah, cerai, rujuk.

Nufransa sebagai aparat dari Kemenkeu menyerang balik Rizal Ramli dengan mengatakan bahwa RR tidak memahami bahwa PNBP sudah diatur oleh UU no. 20/1997 yang juga mengatur soal pungutan kepada a.l. sektor pendidikan, kesehatan dan agama yaitu nikah, cerai dan rujuk.


Nufransa tidak menangkap poin dari kritik RR terhadap RUU PNBP. Yang pertama adalah walaupun pemikiran bahwa perlunya diajukan  RUU PNBP itu sudah sejak 2011, namun baru Januari 2017 diajukan ke DPR dalam kondisi kepanikan Kemenkeu akibat mengecilnya pendapatan negara dari PNBP khususnya dari sektor Migas.

Pada 2014 pendapatan negara dari PNBP mencapai Rp 385 triliun dan 2017 mengecil hanya mencapai Rp 250 triliun. Sedangkan dari sektor migas akibat harga minyak yang turun jauh maka sumbangan PNBP Migas merosot jauh sekali dari 2014 mencapai Rp 216,9 triliun dan pada 2016 tinggal Rp 44,9 triliun atau tinggal 20,7 persen saja . Sedangkan harapan untuk naiknya lagi harga minyak untuk bisa mencapai US$ 70/barrel saja masih jauh dari kenyataan .

Selain itu Kemenkeu semakin panik menghadapi kenyataan bahwa sampai dengan September 2017 penerimaan pajak masih kurang Rp 500 triliun lebih dari target, padahal waktunya tinggal kurang tiga bulan lagi. Bisa diperkirakan bahwa sampai dengan akhir tahun pengumpulan pajak hanya akan mencapai 80 persen-an dari target dan pasti akan terjadi pemotongan anggaran lagi karena untuk berhutang besar lagi sudah tidak memungkinkan akibat defisit APBN-nya sudah terlalu besar .

Oleh karena itu dapat diduga bahwa pengajuan RUU PNBP ke DPR dengan target bisa disahkan menjadi UU tahun ini juga untuk menggenjot PNBP non Migas termasuk yang mengutip langsung dari masyarakat dari sektor pendidikan, kesehatan dan agama, nikah, cerai, rujuk dan sektor pelayanan publik lainnya.

Point yang paling penting dari kritik RR yang tidak mampu dicerna oleh pemikiran Nufransa dan bahkan oleh Sri Mulyani yang mengarahkan Nufransa adalah bahwa dalam Mukadimah UUD 45 disebutkan tujuan kemerdekaan itu untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa . Sehingga RR  mendesak bahwa saatnya sekarang kita melindungi sektor pendidikan, kesehatan dan hajat hidup masyarakat yang paling dasar seperti nikah, cerai, rujuk dan sektor pelayanan publik lainnya dari pungutan yang memberatkan. Bahkan harus menggratiskan bagi masyarakat yang tidak mampu agar mereka juga bisa cerdas, sehat dan bahagia.

RR bahkan memberikan contoh di negara Amerika Serikat yang super Liberal Kapitalis pun tidak memungut pajak kepada sektor pendidikan dan bahkan memberikan bantuan tanah ratusan hektar kepada yang menyelenggarakan pendidikan. Namun dalam RUU PNBP ini, RR tidak melihat adanya rumusan perlindungan dari negara kepada masyarakat yang lemah agar tidak dipungut biaya untuk sektor pendidikan, kesehatan dan agama, khususnya nikah, cerai, dan rujuk dan sektor pelayanan publik lainnya. Hal ini akan membuka peluang adanya permainan pungutan kepada rakyat yang lemah yang dimuat di dalam Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri atau Kepurusan Menteri dan sebagainya.

Yang kedua , soal tuduhan bahwa Sri Mulyani membarter pemberian anggaran gedung baru DPR senilai Rp 5,7 triliun yang dimasukkan ke APBN 2018 dengan pengesahan tahun ini juga UU PNBP memang sulit untuk dibantah. Masih banyak kepentingan rakyat yang jauh lebih urgent dari pada pembangunan gedung baru DPR, misalnya defisit dana BPJS yang merupakan hajat hidup rakyat yang paling dasar, tetapi mengapa gedung baru DPR yang tidak ada urgensinya didahulukan .

Sri Mulyani yang menganut mazhab Neoliberal dan menyusup ke pemerintahan Jokowi, memang selalu mencari jalan yang paling mudah, tanpa perlu berpikir yang berat, cari jalan yang gampang saja, tanpa perlu harus memutar otak, pajakin saja rakyatnya. Sudah banyak contoh, misalnya menaikkan tarif listrik 900 VA yang menyedot uang rakyat yang hampir miskin sebesar Rp 15 triliiun setiap tahun.

Menghadapi defisit dana BPJS,  Sri Mulyani akan menaikkan iurannya. Begitu saja. Kalau APBN defisit, ya anggarannya saja dipotong. Nanti kalau ekonomi menjadi lesu cari-cari alasan saja untuk ngeles. Yang bisnisnya bergeser ke online-lah, yang terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat-lah, yang msyarakat menyimpan uangnya di bank-lah.

Tetapi satu hal yang tidak bisa dibantah yaitu mencapai pertumbuhan ekonomi 5,2 persen saja tidak mampu. Padahal Vietnam selama 10 tahun (2006-2015) rata-rata pertumbuhan ekonominya mencapai 6,7 persen (Indonesia hanya 5,7 persen) dan Filipina pada 2016 tumbuh 6,8 persen dan 2017 ini target pertumbuhan Vietnam dan Filipina di atas 6,5 persen jauh lebih tinggi dari Indonesia yang hanya 5,3 persen itupun pasti tidak tercapai .

Cara kerja dan kemampuan kerja Sri Mulyani yang  seperti inilah yang menggerus terus menerus elektabilitas Jokowi untuk 2019. [***]

Penulis adalah analis sosial politik, aktivis 77/78

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya