Berita

Politik

Intoleransi Dan Radikalisme Jadi Sorotan Rembuk Nasional

SELASA, 24 OKTOBER 2017 | 15:26 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Masalah intoleransi dan penyebaran paham radikal menjadi fokus perhatian dalam dalam Rembuk Nasional 2017 bertajuk Merawat Kebhinekaan dan Memperkokoh NKRI di JIexpo, Kemayoran, Jakarta, Senin (23/10).

Dalam pemaparannya, peneliti senior Wahid Institute, Alamsyah M.Djakfar menjelaskan bahwa berdasarkan survei Wahid Institute, sebanyak 7,7 persen responden mengaku bersedia melakukan tindakan radikal. Artinya, dalam hitungan real, maka angka itu setara dengan 11 juta penduduk di Indonesia.

Sementara indeks toleransi masyarakat muslim terhadap suatu kelompok yang tidak disukai mencapai tingkat 49 persen. Adapun ketika ditanyakan kelompok mana yang tidak disukai adalah seperti LGBT, komunis, Yahudi, Kristen hingga ke Wahabi.


"Dan ketidaksukaan terhadap kelompok ini sepertinya akan terus muncul dan bisa dipolitisasi hingga 2019," jelasnya.

Atas pemaparan data tersebut, peserta rembuk menyoroti fungsi Pancasila sebagai dasar negara yang mulai memudar. Sejumlah rekomendasi dihasilkan untuk kemudian diberikan kepada pemerintah.

Sebagaimana dibacakan Ketua Bidang Rembuk 2, Paschalis Maria Laksono Rembuk Nasional menyarankan agar peraturan-perundangan yang mengancam kebhinnekatunggalikaan diamandemen. Termasuk menunda dan membatalkan proses RUU yang diskriminatif.

"Pemerintah juga harus ambil inisiatif menyusun peraturan-perundangan yang merawat kebhinnekaan dan memperkokoh NKRI, termasuk di antaranya meninjau beberapa kewenangan dalam otonomi daerah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (24/10).

Selain itu, penegakan hukum yang tegas dan kuat terhadap perbuatan-perbuatan intoleran, rasialis, dan diskriminatif terhadap keragaman, baik dalam hal agama, budaya, dan politik mutlak dibutuhkan.

Pemerintah juga disarankan untuk melaksanakan secara selaras dan berkesinambungan pembudayaan (internalisasi) nilai-nilai kebhinnekatunggalikaan dalam pendidikan, dengan memastikan tersedia guru berkompeten dalam jumlah yang memadai yang dihasilkan oleh proses pendidikan guru yang bernaluri Bhinneka Tunggal Ika.

Adapun poin-poin rekomendasi tersebut telah disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo dalam acara puncak Rembuk Nasional 2017, tadi malam. [ian]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya