APA yang disebut sebagai kehidupan merupakan proses belajar tanpa henti. Satu di antara sekian banyak perihal yang paling perlu dipelajari oleh manusia adalah bagaimana mengatasi berbagai perasaan bersifat buruk. Satu di antara sekian banyak perasaan bersifat negatif bahkan destruktif adalah dendam.
Bahkan dapat dikatakan bahwa dendam merupakan perasaan yang terburuk bagi peradaban umat manusia. Rasa dendam menyebabkan sesama manusia tidak segan melakukan angkara murka saling menghujat, memfitnah, mengkriminalisasi, menyelakakan, menganiaya bahkan saling membinasakan.
Mubazir
Ayah kandung saya adalah seorang pengusaha yang melakukan usaha di bidang grosir bahan pangan di pulau Bali. Sebagai seorang pengusaha beliau fokus pada kegiatan usahanya maka sama sekali tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis.
Pada bulan Oktober 1965 di tengah kemelut prahara pertumpahan darah pasca G30S, mendadak pada suatu malam hari ayah kandung saya diculik oleh segerombolan oknum tak dikenal. Segenap anggota keluarga yang ditinggalkan merasa kecewa, sedih, prihatin dalam skala duka yang bukan alang kepalang. Wajar bahwa timbul perasaan dendam.
Namun dalam perjalanan waktu, lambat laun perasaan dendam tersebut berkurang, terutama akibat kami tidak tahu terhadap siapa kami harus melampiaskan dendam.
Tidak pernah jelas mengenai siapa sebenarnya yang melakukan penculikan mau pun memberikan instruksi penculikan ayah kandung kami yang memang mustahil mampu dibuktikan sehingga lambat laun akhirnya rasa dendam memudar lalu hilang lenyap dengan sendirinya.
Sampai kini memang saya masih merasa prihatin dan duka apabila teringat pada peristiwa penculikan ayah kandung kami pasca G30S.
Namun rasa dendam telah teratasi akibat sadar atas kemubaziran bahkan kemustahilan rasa dendam terhadap pihak yang sama sekali tidak dapat dibuktikan telah melakukan penculikan terhadap ayah kandung tercinta kami.
Dendam lenyap digantikan harapan bahwa di masa mendatang tidak ada lagi ayah kandung siapa pun jatuh menjadi korban kemelut politik di Tanah Air Angkasa tercinta.
Gus DurDi masa Gus Dur menjabat presiden IV Republik Indonesia, saya beruntung nyaris setiap pagi berkesempatan mendampingi Gus Dur jalan pagi mengelilingi halaman di antara Istana Negara dan Istana Merdeka.
Akibat kalah daya tahan berjalan kaki melawan Gus Dur, akhirnya saya berlaku curang yaitu hanya mendampingi di saat makan pagi setelah Gus Dur usai jalan pagi.
Ketika Gus Dur dilengserkan oleh MPR di bawah pimpinan Amien Rais, saya merasa kecewa, sedih, prihatin yang kemudian memuncak menjadi rasa dendam.
Ketika saya mencoba berperan sebagai Sengkuni menghasut Gus Dur melakukan balas dendam, Gus Dur menolak sambil tertawa dan seperti biasa nyeletuk "Gitu Aja Kok Repot!".
Lalu Gus Dur menyejukkan dendam yang membara membakar lubuk sanubari saya dengan memberikan pelajaran cara berdamai dengan diri sendiri dengan menghayati ayat-ayat Al Quran antara lain sebagai berikut: "Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah" atau "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi sesuatu yang menyakitkan perasaan yang menerima".
Bahkan Gus Dur yang sangat memahami agama Kristen juga mengingatkan saya kepada makna keadiluhuran pengampunan yang tersirat di dalam sabda Yesus Kristus di tiang salib: "Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan".
Dari Gus Dur saya belajar menanggulangi dendam.
[***]
Penulis adalah cantrik Gus Dur dan pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan