Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (67)

Mendalami 'Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab': Makna Semantik Bahasa Arab Dalam Pancasila

SELASA, 10 OKTOBER 2017 | 08:35 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

DIANTARA 26 kosa kata yang digunakan dalam rumusan Pancasila, 10 kosa kata di antaranya berasal dari baha­sa Arab. Tujuh kosa kata non Arab itu adalah kata penghubung yakni: "Dan, yang, oleh, dalam, bagi". Tiga kata dalam sila kedua, yaitu "ke­manusiaan, adil, beradab". Empat di dalam sila keempat, yaitu "kerakyatan, hikmat, permusyawaratan, perwakilan"; dan dua di dalam sila kelima, yaitu "keadilan, rakyat".

Kata "kemanusiaan" dalam sila kedua be­rasal dari akar kata insan (manusia) kemudian mendapatkan imbuhan awalan "ke" dan akhi­ran "an" menjadi kata sifat yaitu "kemanusiaan" (insaniyyah/humanity). Kata kemanusiaan me­lintasi batas-batas agama, kepercayaan, etnik, suku, bangsa, dan golongan. Kita sering mem­baca istilah: "Kemanusiaan hanya satu" (Al-in­saniyyah wahid/Humanity is only one). Jika kita berbicara tentang kemanusiaan (insaniyyah) maka leburlah semua ikatan-ikatan primordial, agama, dan kepercayaan. Kemanusiaan (hu­manity) hanya satu, tidak punya warna, dan lintas batas etnik dan negara. Di mana-mana kemanusiaan itu sama. Ini bukti kebenaran pernyataan semua agama yang sama-sama memandang penting arti kemanusiaan. Dalam Islam sendiri Al-Qur’an sangat tegas mengin­gatkan kepada kita semua: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam" (Q.S. al- Isra’/17:70). Apapun jenis kelamin, etnik, warna kulit, kewarganegaraan, ideologi, partai, dan kelas sosialnya, yang penting masih berstatus anak cucu Adam, wajib hukumnya untuk dihor­mati dan dimuliakan hak-haknya.

Kita tidak boleh memperlakukan tidak adil anak manusia, sekalipun orang itu nyata-nyata musuh kita. Ini ditegaskan di dalam Al-Qur’an: "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegak­kan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali keben­cianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Q.S. al-Maidah/5:8).


Allah Swt memberikan kemerdekaan setiap manusia untuk mengekspresikan kebenaran yang mereka yakini benar. Karena itu kita tidak boleh memaksa mereka untuk mengikuti agama kita, sekalipun menurut keyakinan kita mereka nyata-nyata agama pilihannya tidak benar. "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)" (Q.S. al-Baqarah/2:256). Tu­gas kita hanya menyampaikan. Mereka mau ikut atau tidak itu urusan Allah Swt. "Sesung­guhnya kamu tidak akan dapat memberi pe­tunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk". (Q.S. al-Qashah/28:56).

Rasa kemanusiaan harus tumbuh di dalam diri kita masing-masing. Setiap manusia memi­liki hati nurani dan merupakan built up dari Tu­han Yang Maha Pencipta. Jangan lantaran mer­eka tidak seagama, seetnik, sewarganegara, seideologi, sealiran, dan segolongan dengan kita lantas mengorbankan kemanusiaan mer­eka. Kamanusiaan itu mahal bahkan kemanu­siaan itu unsur sakrat (lahut) yang Allah instol ke dalam diri setiap orang. Allah Swt menegas­kan dalam Al-Qur’an: Barang siapa yang mem­bunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan kar­ena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia se­luruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia se­muanya. (Q.S. al-Maidah/5:32). 

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya