Berita

Jaya Suprana

Alasanologi Mengucilkan Qatar

SABTU, 15 JULI 2017 | 07:08 WIB

5 JUNI 2017, mendadak Arab Saudi, diikuti oleh Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain, Yaman, Libya dan Maladewa secara resmi memutus hubungan diplomatik dengan Qatar .  

Kecil

Secara geoteritorial , Qatar merupakan negara kecil mungil yang berada di tepi Teluk Persia, dengan luas wilayah 11.500 kilometer persegi, hanya sepertiga Provinsi Jawa Barat.

Semula Qatar merupakan negara paling miskin di Timur Tengah. Baru setelah produksi minyak meningkat pesat di akhir tahun 1973, Qatar secara dramatis mengambil posisi sebagai negara dengan pendapatan per kapita terebesar di dunia.

Semula Qatar merupakan negara paling miskin di Timur Tengah. Baru setelah produksi minyak meningkat pesat di akhir tahun 1973, Qatar secara dramatis mengambil posisi sebagai negara dengan pendapatan per kapita terebesar di dunia.

Sebelumnya, sebagai negara protektorat Britania Raya, Qatar hanya hidup dari sektor perikanan dan bisnis mutiara Sejak tahun 1973 sampai masa kini, GDP Qatar melangit 1.000 persen atau 10 kali lipat.

Terkaya
Di masa kini, Qatar merupakan negara terkaya di dunia, dengan jumlah GDP per kapita mencapai 129.000 dolar AS, lebih tinggi ketimbang Luksemburg yang menempati peringkat ke-2. Populasi Qatar hanya 2,6 juta jiwa dan hanya 313 ribu yang merupakan warga Qatar asli, sementara 2,3 juta lainnya pendatang.

Jumlah pendatang yang hampir delapan kali lipat dari penduduk aslinya tersebut dihadirkan oleh pembangunan dan ekspansi besar-besaran Qatar di segala bidang. Jaminan kesehatan, sistem pendidikan, hingga infrastruktur sampai ke kebudayaan secara drastis dibenahi. Bahkan, infrastruktur teknologi dan informasi nomor wahid di jazirah Arab.

Tidak Tunduk
Qatar secara lambat namun pasti melakukan gerakan liberalisasi di segala bidang. Seperti, peluncuran stasiun televisi Al Jazeera (1996), mendorong hak politik perempuan untuk memilih di pemilihan daerah (1999), pembentukan konstitusi tertulis pertama (yang memberikan jaminan hak-hak bagi masyarakatnya; serta jaminan non-diskriminasi atas perbedaan apapun, baik jenis kelamin, ras, bahasa, maupun agama) di tahun 2005, juga pendirian Gereja Katolik Roma di Qatar pada 2008.   

Gerakan modernisasi Qatar jelas sangat positif bagi masyarakatnya. Namun, Qatar terus menerus memperkokoh kedaulatan politik, ekonomi mau pun kebudayaan. Qatar turut campur di konflik Libya dengan mendukung pemberontak anti-Qaddafi. Qatar terlibat dalam konflik di Suriah dengan mengirim senjata ke mereka yang memberontak pada Al Assad. Amerika Serikat dipersilakan mendirikan pangkalan militer. Qatar berhasil terpilih untuk menyelenggarakkan Piala Dunia sepak bola di tahun 2022 . Namun mungkin dosa Qatar terparah adalah kemesraan hubungan Qatar dengan Iran sebagai musuh bebuyutan Arab Saudi.

Dengki

Secara alasanologis dapat disimpulkan bahwa alasan pengucilan Qatar oleh Arab Saudi dan para sekutunya pada dasarnya adalah dengki. Tumbuh kembangnya kekuatan ekonomi, politik serta kebudayaan Qatar secara luar biasa, menimbulkan rasa tidak suka pada negara-negara Arab lain, terutama Arab Saudi yang de facto  dianggap dan menganggap diri sebagai saudara tertua negara-negara Arab.  

Kegemerlapan sukses Qatar yang secara sadar atau tidak sadar bukan saja mengindikasikan namun bahkan membuktikan bahwa Qatar tidak sudi berada di bawah ketiak apalagi telapak kaki Arab Saudi , secara lambat namun pasti meningkatkan kedengkian Arab Saudi menjadi kebencian. Apalagi Qatar sengaja menjalin hubungan baik bahkan mesra dengan Iran yang jelas-jelas sangat amat terlalu dibenci Arab Saudi.

Maka 5 Juni 2017, Arab Saudi tidak mau dan tidak mampu lagi menahan diri sehingga mengajak Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain, Yaman, Libya dan Maladewa memutus hubungan diplomatik dengan Qatar yang tentu saja mempengaruhi paras geopolitik Timur Tengah masa kini .

Penulis adalah pembelajar geopolitik kontemporer


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya