Berita

Abu Bakr al-Baghdadi/net

Dunia

Rusia Yakin Berhasil Bunuh Baghdadi, AS Dan Sekutunya Skeptis

SABTU, 17 JUNI 2017 | 08:05 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Militer Rusia meyakini bahwa pihaknya telah berhasil mematikan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, dalam serangan udara di Suriah, akhir bulan lalu.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan di halaman Facebook-nya bahwa mereka memeriksa informasi soal kemungkinan Baghdadi tewas dalam serangan di pinggiran Raqqa, Suriah. Serangan diluncurkan setelah Rusia menerima informasi tentang pertemuan para pemimpin ISIS.

"Pada tanggal 28 Mei, setelah pesawat tak berawak digunakan untuk mengkonfirmasi informasi mengenai tempat dan waktu pertemuan para pemimpin Islamic State, antara pukul 00:35 dan 00:45, angkatan udara Rusia melancarkan serangan ke titik komando di mana para pemimpin berada," kata pernyataan tersebut.


"Menurut informasi melalui berbagai saluran, juga hadir dalam pertemuan tersebut adalah pemimpin negara Islam, Abu Bakr al-Baghdadi, yang berhasil dieliminasi," tambah kementerian tersebut.

Jika laporan tersebut terbukti benar, itu akan menjadi salah satu pukulan terbesar bagi ISIS yang berusaha mempertahankan sisa wilayah yang mereka kuasai dari serangkaian kekuatan regional dan global, baik di Suriah maupun Irak.

Namun, klaim itu ditanggapi remeh oleh pihak Amerika Serikat. Dengan tidak adanya konfirmasi independen, beberapa pejabat AS mengaku skeptis terhadap laporan tersebut. Beberapa pejabat keamanan Irak juga mengatakan bahwa pihaknya meragukan informasi itu.

Dikutip dari Reuters, jurubicara Pentagon, Jeff Davis, mengatakan, lembaganya tidak memiliki informasi untuk menguatkan laporan dari Rusia tersebut.

Pejabat senior di pemerintahan Donald Trump mencatat "sejumlah kelemahan" dalam laporan tersebut, yang memberi alasan kepada AS untuk mempertanyakan keakuratannya.

"Beberapa dari kelemahan tersebut menunjukkan bahwa ini terjadi pada akhir Mei dan ada lebih dari 300 tentara yang tewas dalam serangan tersebut," kata pejabat tersebut.

"Kematiannya telah sering dilaporkan, sehingga Anda harus berhati-hati untuk sampai pada sebuah pernyataan yang formal muncul dari ISIS," imbuh seorang pejabat keamanan Eropa.

Seorang kolonel dinas keamanan nasional Irak mengatakan kepada Reuters bahwa Baghdadi tidak berada di Raqqa pada saat serangan tersebut dilakukan pada akhir Mei.

"Salah satu pembantu Baghdadi mungkin terbunuh," kata kolonel tersebut.

Dia mengatakan bahwa Baghdadi beroperasi dengan hati-hati di daerah perbatasan antara Irak dan Suriah, hanya dengan beberapa pembantu terdekatnya, dan menghindari penggunaan peralatan telekomunikasi untuk menghindari pengawasan.

Pejabat intelijen Irak lainnya mengatakan bahwa Rusia tidak memiliki informasi apapun terhadap pihak berwenang Irak untuk mengindikasikan Baghdadi terbunuh. Irak memeriksa laporan tersebut dan akan mengumumkan kematiannya jika mendapat "konfirmasi akurat".

Hoshiyar Zebari, mantan menteri luar negeri Irak yang telah lama menjabat dan sekarang menjadi penasihat senior pemerintah daerah otonomi Kurdi, juga mengatakan bahwa tidak ada konfirmasi kematian Baghdadi.

Pernyataan dari Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan, serangan 28 Mei diyakini telah membunuh beberapa pemimpin senior kelompok tersebut, dan juga sekitar 30 komandan lapangan dan sampai 300 penjaga pribadi mereka.

Para pemimpin ISIS saat itu berkumpul di pusat komando, di pinggir selatan Raqqa, untuk membahas rute yang mungkin bagi mundurnya militan dari kota tersebut.

Militer Rusia mengatakan bahwa pihak AS sudah diberitahu sebelumnya tentang tempat dan waktu serangan udara tersebut. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya