Berita

Politik

Abah Dahlan Dan Kreativitas Yang Dihukum

Catatan Kecil Dahnil Anzar Simanjuntak
JUMAT, 12 MEI 2017 | 14:36 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

GRESIK, 7 Mei 2017. Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah menggelar Apel Akbar "Menggembirakan Kemanusiaan" dan Kesiapsiaagan bencana. Apel yang dihadiri oleh lebih dari lima ribu personel okam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) Kokam Jawa Timur tersebut, memang meletihkan karena harus berkawan dengan panas.

Namun, keletihan itu agaknya terlupakan dengan semangat yang menggembirakan dari ribuan anggota Kokam yang hadir. Dan kegembiraan saya bertambah karena setelah selesai Apel Akbar Kokam di Gresik, saya dan kawan-kawan Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur berkesempatan Bersilaturrahim dengan Abah Dahlan alias Pak Dahlan Iskan di Surabaya.

Saya dan kawan-kawan disambut hangat oleh Abah Dahlan. Ternyata beliau tidak berubah. Tetap energik. Ramah. Tanpa babibu, Abah langsung mengajak kami makan siang. "Masakan istri saya lho," katanya sambil membagikan piring satu per satu


Setelah makan siang. Obrolan pun mengalir. Sambil ditemani kudapan goreng pisang khas Samarinda buatan istri beliau. Mulai dari cerita tentang keluarga sampai tentang kasus yang sedang menjeratnya saat ini.

Mendengar kasus Abah Dahlan, saya teringat dengan satu kalimat yang rajin digunakan dalam perdebatan terkait dengan kasus Bank Century, "Kebijakan tidak bisa dikriminalkan".

Abah Dahlan agaknya dikriminalkan karena kebijakan yang sama sekali tidak menguntungkan beliau secara pribadi apalagi keluarga. Tapi entahlah temuan jaksa seperti apa, saya hanya berpraduga dan menilai dari cerita Abah Dahlan, tentu ini subyektif sekali, ini rasa kebatinan pribadi saja.

Ada adagium yang populer di dunia akuntansi, yakni "kreatif bukan kriminal", kreativitas melakukan akrobat angka selama masih sesuai dengan standar akuntansi dan tidak melakukan tindakan kriminal, it's Ok. Meski pun, menabrak standar moral. Nah, kalau masalah ini tergantung dengan standar moral masing-masing individu, atau bila dalam keprofesian disebut sebagai etika profesi.

Standar etika ini yang masing-masing-masing individu berbeda-beda. Dan, sayangnya, standar etika pejabat publik dan politisi kita rendah sekali.

Namun, dalam kasus Abah Dahlan, kreativitas dan inovasi yang menjadi genetika seorang wirausahawan tangguh harus berhadapan dengan upaya kriminalisasi. Dicari sekecil apapun kesalahannya. Di sisi lain, banyak pejabat, politisi yang sudah terang maling uang rakyat dan terang indikasinya, karena memiliki jejaring kekuasaaan, jamaah partai yang kuat maka sulit sekali dijerat dengan alasan belum cukup bukti material dan sebagainya. Bahkan, bersembunyi dibalik diskresi, padahal terang diskresi tersebut melanggar hukum dan indikasinya jelas.

Tapi bagi Abah Dahlan, tidak ada diskresi-diskresian, meski itu penuh dengan kreativitas dan upaya melakukan perbaikan. Bahkan, mungkin akan dicari kasus-kasus baru yang bisa menjerat beliau sampai bisa dipenjarakan.

Dalam perbincangan saya dengan Abah Dahlan, dan apa yang beliau alami. Terang, kreativitas berusaha dimatikan ketika kreativitas itu membahayakan kekuatan modal dan kuasa lain. Dan, pikiran saya pun langsung menerawang. Ini yang dimaksud dengan akrobat ketidakadilan nan norak.

Bahkan, dalam perbincangan dengan saya, Abah Dahlan sempat menyampaikan "Mas Dahnil, kalau KPK yang menetapkan saya jadi tersangka, dan saya memang korupsi, saya sendiri yang jalan ke penjara. Tapi dalam kasus yang disangkakan oleh Jaksa kepada saya, tidak satu pun terkait dengan uang negara atau daerah yang menguntungkan saya atau orang lain, dan saya yakin dengan hal itu".

Namun, meski dirundung masalah hukum, agaknya gelora kreativitas dan ingin memberikan kontribusi kepada Indonesia agak tetap menggebu. Abah Dahlan sempat menunjukkan kepada saya mobil listrik yang baru tiba di rumahnya, yang langsung beliau beli dari Amerika Serikat untuk membuktikan kepada publik, bahwa industri mobil Indonesia harus sudah mulai bergerak kepada industri mobil listrik, seperti yang pernah beliau coba tawarkan ketika beliau masih menjabat Menteri BUMN, meskipun mendapat cercaan dari berbagai pihak yang tidak senang dengan upaya tersebut.  

Ternyata, Abah tidak puas, hanya menunjukkan, saya diminta beliau untuk menjadi orang pertama yang menyetir mobil yang baru beliau beli tersebut. Tentu dengan senang hati saya lakukan test drive ditemani Abah.

Akhirnya, saya hanya berharap, tidak ada lagi kreativitas-kreativitas yang berkemajuan yang terkubur mati hanya karena kepentingan politik, dendam dan persaingan usaha tidak sehat. Negara harus menyediakan tanah subur untuk kreativitas-kreativitas yang berkemajuan tumbuh subur, tidak kalah oleh kuasa politik dan dendam politik maupun bisnis yang tak berkesudahan itu.

Di tengah kesusahan karena kasus hukum, semoga Abah Dahlan tetap tegar setegar Mbah Yai Ahmad Dahlan ketika hadir menawarkan kebaharuan-kebaharuan yang berkemajuan untuk peradaban Indonesia satu abad yang lalu. [***]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya