Berita

Fadli Zon/Net

Politik

Fadli Zon: Aksi 55 Bukan Bentuk Intervensi Hukum

JUMAT, 05 MEI 2017 | 15:07 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menegaskan bahwa aksi demonstrasi merupakan hak konstitusional bagi seluruh warga negara Indonesia.

"Yang penting berjalan dengan baik tertib damai," katanya kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (5/4).

Hal itu diungkakannya mengomentari Aksi Simpatik 55 yang berlangsung hari ini di Masjid Istiqlal dan Mahkamah Agung untuk meminta tuntutan maksimal terhadap terdakwa kasus penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.


Fadli berharap agar aspirasi para pengunjuk rasa dapat didengar oleh para penegak hukum. Para penegak hukum katanya harus menjalankan hukum dengan mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat.

"Karena maraknya demo dan unjukrasa ini pasti ada sebabnya," imbuh politisi Partai Gerindra ini.

Fadli tak setuju dengan pendapat sebagian pihak yang menilai bahwa aksi unjuk rasa hari ini adalah untuk mengintervensi hukum.

"Loh ini jangan terbolak-balik. Justru yang kemarin mengintervensi siapa, seperti sebelum Pilkada, tiba-tiba ditunda penuntutannya, itu namanya tidak wajar. Nah tapi kalau misalnya aksi ini justru kan menyalurkan aspirasi masyarakat, menunjukan rasa ketidakadilan ini bukan intervensi. Jadi saya kira terminologi-terminologi itu harus diperbaiki," tegasnya.

Demo kali ini juga menurutnya tidak ada hubungannya dengan urusan kebhinekaan. Pasalnya menurut Fadli, persoalan kebhinekaan di Indonesia sudah selesai sejak 1928 lalu.

"89 tahun dia terlambat untuk menyadari bahwa kebhinekaan ini sudah selesai. Sejak sumpah pemuda. Jadi bodoh sekali itu yang mempersoalkan kebhinekaan kita. Itu udah pasti, udah niscaya. Kita tinggal menjaga aja. Saya kira umat Islam di Indonesia juga paling toleran sedunia terhadap persoalan kebhinekaan kita bisa berdebat juga scara ilmiah juga. Jadi jangan menyudutkan-nyudutkan umat Islam bahwa umat Islam yang memecah belah persatuan. Jadi para penguasa ini termasuk penegak hukum jangan salah melakukam satu assessment terhadap situasi dan keadaan yang justru tidak menyelesaikan persoalan," pungkasnya. [rus]

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

UPDATE

Video Viral, Netanyahu Menyerah dan Flotilla Bebas

Senin, 25 Mei 2026 | 01:57

Narasi Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merek Tertentu per 1 Juni 2026 Hoax!

Senin, 25 Mei 2026 | 01:40

Euforia Bobotoh

Senin, 25 Mei 2026 | 01:20

Sugiono Dianggap Berhasil Terjemahkan Kerja Nyata Prabowo

Senin, 25 Mei 2026 | 00:59

Ini Tujuh Saran untuk Prabowo Realisasikan Pasal 33 UUD 1945

Senin, 25 Mei 2026 | 00:40

Gubernur Lemhannas Minta Keberadaan BoP Dikaji Ulang

Senin, 25 Mei 2026 | 00:18

Edukasi Keuangan Bantu Mahasiswa Kelola Kantong Secara Sehat

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:58

Golkar Jadikan MDI Instrumen Sosialisasi Program Prabowo ke Umat

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:40

Prabowo Singgung Reshuffle Zulhas, PAN Terancam Tidak Digandeng Gerindra di 2029

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:19

Ekonomi Syariah dan Ekonomi Kerakyatan: Dua Tombak Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 | 22:43

Selengkapnya