Berita

Sri Mulyani/Net

Politik

Sri Mulyani Jauh Lebih Bermanfaat Jadi Dubes AS Atau Uni Eropa

MINGGU, 16 APRIL 2017 | 14:49 WIB | LAPORAN:

Tim ekonomi  Presiden Jokowi di bawah kendali Sri Mulyani (SMI) terbukti gagal total, tidak inovatif dan hanya melindungi bisnis kelompok kapitalisme liberal.

Apalagi terbukti program pengampunan pajak atau Tax Amnesty juga gagal hanya mencapai Rp114 triliun dari target Rp165 triliun.

"Kita seperti kembali ke masa lalu, melalui hari-hari ketika dia (SMI) pertama kali direkrut oleh SBY pada saat itu salah satu tugas SMI adalah memuluskan upaya klien besarnya yaitu BCA dan Paulus Tumewu mendapatkan pengampunan pajak dan meloloskan pengemplang pajak," ujar Sekjen Jaringan Aktivis Pro Demokrasi, Satyo Purwanto kepada Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu (Minggu, 16/4).


Mengutip pernyataan Kwik Kian Gie beberapa tahun lalu tentang peran Sri Mulyani yang selalu membocorkan hasil rapat tim ekonomi kepada IMF, Bank Dunia, dan Kedutaan AS. Belum lagi, lanjut Satyo, soal kebijakan SMI yang memangkas anggaran belanja negara sebesar Rp 133,8 triliun, yang mencakup pemotongan belanja kementerian/lembaga Rp 65 triliun dan transfer ke daerah Rp 68,8 triliun juga disinyalir hanya untuk menyenangkan kartel internasional (para kapitalis) dengan retorika murahan untuk meraih kepercayaan publik dan membuat dunia usaha menjadi lebih yakin dalam melakukan aktivitas ekonomi.

"Padahal ujung-ujungnya Rp 221 triliun dari APBN 2017 hanya untuk bayar hutang," tegasnya.

Sebagai mantan managing director Bank Dunia dan direktur eksekutif IMF serta sederet penghargaan dari lembaga dan media keuangan asing, Satyo menilai SMI sepertinya lebih berguna menjabat duta besar di Amerika atau Uni Eropa.

Ilmu ekonomi SMI, malah menurut dia, akan lebih bisa bermanfaat untuk negosiasi keuangan dan perdagangan bagi RI ketimbang menjadi menteri yang selalu berperan kontra produktif dan memperdalam indeks jurang kemiskinan bagi rakyat Indonesia.[wid]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya