Intimidasi kembali menimpa Cawagub Djarot Saiful Hidayat. Kemarin, wakil Ahok di Pilgub DKI Jakarta ini diusir dari Masjid Jami Al Atiq, Kebon Baru,Tebet, Jakarta Selatan. Tapi seperti biasa, mendapat perlakuan tak enak Djarot tidak reaktif menanggapi. Dia malah berusaha tersenyum.
Politisi PDIP ini mengaku mendatangi Masjid Jami Al Atiq karena sejalan dengan aktivitas kampanyenya, kemarin. Sesuai jadwal, selesai Jumatan, Djarot berkampanye di Gelanggang Olahraga Ciracas, Jakarta Timur. Sepertinya Djarot kurang tepat memilih masjid. Gelagat adanya kelompok anti-Ahok di area masjid sebenarnya sudah tampak. Tidak jauh dari masjid, terpampang spanduk berlatar Aksi Bela Islam di Monas plus Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab. Pada spanduk tertulis ‘Seluruh Majelis Ta’lim Se-Kelurahan Kebon Baru, Se-Kecamatan Tebet Mendukung dan Membela Para Ulama dan Habib Rizieq Syihab Dari Kriminalisasi. Cinta Agama dan NKRI’. Selain itu, spanduk bertuliskan "Tolak Penista Agama di Kampung Melayu Tercinta," juga terpampang di jalan dekat masjid yang dilalui Djarot.
Awalnya, tidak ada suasana intimidasi ketika Djarot datang sekitar jam 11.45 WIB. Seperti halnya ibadah Salat Jumat, tidak ada pembeda. Semua khusyuk beribadah. Sekalipun, dalam isi ceramah, sempat disampaikan umat Muslim sepantasnya memilih sesama Muslim untuk dijadikan pemimpin. "Kalau pemimpin Muslim, Insya Allah negara kita akan mendapatkan ridhaNya dan akan mendapat rahmat dari Allah," begitulah sebagian isi ceramahnya.
Singkat cerita, Salat Jumat pun usai. Sejurus kemudian, Djarot melangkah pergi meninggalkan masjid usai menuntaskan kewajiban sebagai Muslim. Nah, kehadirannya yang sudah diketahui para jamaah pun seolah penasaran ingin melihat Djarot dari dekat. Saat menuju luar masjid, Djarot tampak bersalaman dan berfoto-foto dengan beberapa warga. Namun, suasana menjadi begitu ramai ketika dia sudah berada di luar masjid. Suara takbir menggema di dalam masjid mengiringi kepergian Djarot. "Allahu Akbar, Allahu Akbar," teriak beberapa jamaah yang menolak Djarot. "Usir, usir, usir... Pergi, pergi," sahut jemaah lain.
Kembali mendapatkan intimidasi, Djarot mencoba tersenyum sambil berjalan menuju kendaraannya yang parkir tidak jauh dari masjid. Langkah Djarot dan rombongannya pun agak dipercepat. Sambil melempar senyuman, Djarot tidak marah dan memaafkan mereka. "Saya sejak masih di dalam itu sudah memaafkan, nggak apa-apa," ujarnya.
Bagi Djarot, penolakan semacam ini masih tergolong ringan. Djarot mengaku pernah mengalami penolakan yang lebih parah.
Beragam intimidasi kepada Djarot semasa kampanye Pilgub DKI Jakarta bukan kali ini saja. Beberapa tidak tidak mengenakkan pernah dirasai Djarot. Mulai dari dikatain kafir, dilempari botol hingga disambut bendera kuning saat kampanye.
Ketika mendatangi undangan Keluarga Cendana di acara Haul Soeharto, Sabtu 11 Maret lalu, Djarot juga disoraki hadirin sampai dilempari botol. Aksi spontanitas ini terjadi saat dia datang ke area masjid sebagai lokasi acara, dan saat kepulangannya. Acara itu, dihadiri banyak massa FPI. Djarot disoraki lantaran menjadi wakil Ahok di Pilgub DKI.
Hebatnya, bukannya marah, Djarot justru sabar dan meminta para pendukungnya tidak melakukan aksi balasan. Dia meminta pendukungnya juga bersabar. "Kalau ada teriak-teriak, nggak usah dibalas. Maafkan saja dan istighfar. Saya saja dikatain kafir nggak apa-apa kok. Benar nggak apa-apa, saya terima kok," kata Djarot, kepada warga saat blusukan di Klender, Jakarta Timur, Minggu, 19 Maret lalu.
Kemudian, pada 21 Maret lalu, tepatnya saat kampanye di Jalan Pahlawan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menuju rumah tempat Djarot beracara, dia mendapatkan sambutan bendera kuning khas penanda ada orang yang meninggal. ***