Berita

Foto: Net

Politik

Proyek Kartin1 Bakal Mengulang Skandal E-KTP

KAMIS, 13 APRIL 2017 | 23:50 WIB | LAPORAN:

Program Kartu Indonesia 1 atau Kartin1 yang digagas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ditengarai bakal menjadi lahan korupsi baru. Sebagaimana halnya proyek pengadaan kartu identitas elektronik (e-KTP) yang menjadi skandal korupsi dengan malibatkan banyak pihak, baik eksekutif maupun legislatif.

Ekonom senior Indonesia Dr. Rizal Ramli mengakui jika proyek Kartin1 yang sedianya akan dijadikan Single Identity Number untuk kelancaran berbagai program pemerintah dan dirancang memberi kemudahan pada masyarakat dalam urusan administrasi akan membawa masalah ke depan. Proyek itu dilihatnya sebagai modus untuk kembali menyelewengkan uang negara.

"Lha kok ndak kapok2: Modus skandal E-KTP jilid 2," tulisnya di akun Twitter @RamliRizal pada Kamis (13/4).


Rizal mengatakan, Kartin1 akan menjadi program andalan Sri Mulyani unruk menguasai jalannya kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tentu dengan kepentingan yang akan menguntungkan sang menteri di masa mendatang.  

"Kartu Sakti a la Sri Mulyani," tulis Rizal lagi.

Kartu Indonesia 1 diperkenalkan pada 31 Maret lalu yang bertepatan dengan penutupan program Tax Amnesty. Kartu dirancang untuk memberikan kemudahan pada masyarakat dalam urusan administrasi. Rencananya, Kartin1 dapat memfasilitasi berbagai platform dengan keamanan yang terjamin. Kartin1 akan mengintegritaskan 15 identitas warga yaitu NPWP, e-KTP, BPJS, SIM, paspor, kartu kredit, kartu debit, e-money, e-toll hingga nomor induk PNS, termasuk akses masuk instansi pemerintahan.

Kartu diharapkan menjadi single identity number untuk kelancaran berbagai program pemerintah. Seperti pemberian bantuan sosial, insentive pajak dan pembentukan cashless society.

Menkeu Sri Mulyani sendiri mengaku yakin jika Kartin1 dapat mendorong pencapaian target Ditjen Pajak. [wah] 

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya