Berita

Meutya Hafid/Net

Politik

Komisi I: Kemenlu Harus Desak PBB Selesaikan Konflik Suriah

MINGGU, 09 APRIL 2017 | 22:23 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Penggunaan senjata kimia yang dilakukan sejumlah pihak dalam konflik di Suriah menuai kutukan keras dari Komisi I DPR RI.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid menegaskan bahwa penggunaan senjata kimia dengan tujuan apapun sudah dilarang melalui Konvensi Senjata Kimia tahun 1993.

"Kami mengutuk keras penggunaan senjata kimia di Suriah dan meminta pihak-pihak yang terlibat pada penggunaan senjata kimia beberapa waktu lalu untuk diajukan ke Mahkamah Internasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (9/4).


Ketua Bidang Luar Negeri DPP Partai Golkar ini meminta Kemenlu RI untuk terus mendorong penyelesaian konflik Suriah melalui kerangka dialog inklusif, serta meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil langkah dalam menyelesaikan konflik Suriah.

Menurut Meutya, Kurangnya keterlibatan PBB dalam Krisis Suriah akan membuat krisis ini terus berlanjut.

“Selama ini, penyelesaian konflik Suriah lebih banyak dilakukan oleh pihak negara atau koalisi negara seperti koalisi Amerika Serikat, Inggris, Arab Saudi, dan koalisi Rusia Iran, dan China. Pemerintah Indonesia harus menyuarakan keterlibatan PBB yang lebih besar dalam krisis Suriah. PBB jangan hanya membantu penempatan para pengungsi melalui UNHCR, tetapi juga mengusahakan penyelesaian Krisis Suriah”, ujarnya.

Jika tidak ada tindakan dari Dewan Keamanan PBB, maka Indonesia harus mendorong reformasi di lembaga PBB.

"Memang bukan hal yang mudah. Namun Indonesia mempunyai kerangka kerjasama yang terjalin cukup baik, seperti Konferensi Asia Afrika (KAA) dan Organisasi Kerjasama Negara-Negara Islam (OKI),” lanjut Meutya.

Pada 4 April 2017 lalu, 35 warga sipil, termasuk 9 anak-anak tewas dalam serangan udara yang terjadi di Suriah. Serangan tersebut dilakukan dengan melepas gas berancun di Kota Khan Sheikhun, Provinsi Idlib, Suriah, yang dikuasai kelompok pemberontak. Hingga saat ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas terjadinya serangan yang mematikan tersebut. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya