. Kalangan DPR menyoroti hubungan kerja yang buruk antara komisioner KPU dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) di berbagai levelnya. Tidak jarang ketegangan terjadi di antara keduanya.
Kapoksi Komisi II dari Fraksi Partai Nasdem Luthfi A. Mutty mengatakan kondisi ini berdampak pada hubungan kerja yang tidak sehat untuk sebuah lembaga negara.
"Persitegangan ini benar-benar terjadi. Komisioner yang terpilih tidak sejalan dengan ASN. Ini teknis di lapangan,†tutur Luthfi, Selasa (4/4).
Mantan Bupati Luwuk Utara ini mengutarakan, calon komisioner KPU selanjutnya harus mampu bertindak konstruktif terhadap persoalan tersebut. Konflik laten tersebut sangat berbahaya dan akan mempengaruhi kerja. Padahal kesuksesan KPU akan ditunjang dengan kerja birokrat yang selaras.
Selain itu, hobi komisioner KPU yang sering bolos kerja juga dikritik anggota DPR asal Sulawesi Selatan tersebut. Ada ketimpangan penegakan disiplin antara komisioner KPU dengan ASN di semua level KPU.
Setiap birokrat yang ketahuan terlambat, hukuman seperti pemotongan tunjangan, remunerasi, menunggu. Sebaliknya, komisioner KPU di daerah yang tidak disiplin justru tidak mendapatkan hukuman.
Luthfi mengaku, kasus indispliner dari komisioner KPU ini terus ia temukan di berbagai daerah saat melakukan reses.
"Saya berharap calon komisioner bisa menaruh perhatian di sana. Saya tunggu jawabannya atas persoalan tersebut, bagaimana pola hubungan yang baik yang akan dilakukan," imbuhnya.
Komisi II DPR RI melakukan fit and proper test calon komisioner KPU di Komplek DPR, Jakarta, Senin (3/4). Di hari pertama fit and proper test, Komisi II menguji empat calon, yang terdiri dari dua calon petahana, Arief Budiman dan Ferry Kurnia Rizkiyansyah, serta dua calon lainnya, Amus Atkana dan Evi Novida Ginting Manik.
[rus]