Berita

Saiful Haq

Politik

Membandingkan Kampanye Dua Paslon DKI Di Media Sosial

MINGGU, 02 APRIL 2017 | 08:39 WIB | LAPORAN:

Institute for Tansformation Studies (Intrans) mengamati bahwa konten terkait Pilkada DKI Jakarta masih terus bermunculan di media sosial jelang pencoblosan putaran kedua 19 April mendatang.

Para pendukung yang dipandu maupun tidak dipandu oleh tim sukses resmi menghamburkan sebanyak mungkin konten diberbagai platform media sosial.

"Dalam ruang elektabilitas yang sempit, masing-masing calon sebenarnya tinggal butuh 8-10% untuk memastikan kemenangan di putaran kedua. Yang paling menentukan pada kondisi seperti ini adalah kombinasi kampanye udara dan pasukan darat yang massif dan terukur, sambil menghindari blunder di hari-hari terakhir yang akan menguntungkan pihak lawan," jelas Direktur Intrans, Andi Saiful Haq, dalam rilisnya, (Minggu, 2/4).


Bagi pengamat, media sosial memiliki dinamika yang menarik, mengukur elektabilitas dari beberapa alat ukur yang dimiliki media sosial juga belum tentu memiliki tingkat akurasi yang tinggi.

"Namun untuk melihat kecenderungan dan sentimen publik bisa lebih akurat dibandingkan media utama. Kekuatan media sosial adalah interaksi dan jejaring pertukaran informasi yang cepat dan terukur," ungkapnya.

Berdasarkan hasil pengamatannya, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinilai cukup mampu memanfaatkan kelebihan media sosial dengan mengatur konten foto, desain dan video yang seragam. Jika dibandingkan dengan material foto dan video dari Basuki T. Purnama-Djarot Saiful Hidayat tampak bahwa tim Anies menyiapkan materi dengan tone warna, typografi, desain, logo dan jargon yang lebih mudah dicerna oleh publik.

"Ahok-Djarot tampil dengan slogan beragam: Kerja, Ini Baru Jakarta, Kampanye Rakyat, Gue2, Badja dan seterusnya. Beda dengan Anies-Sandi yang konsisten dengan slogan Jakarta Maju Bersama," ujarnya.

Menurutnya, konten terpecah efektif untuk diterapkan diawal kampanye namun agak sulit ketika bergerak di ruang elektabilitas yang sempit. Kata "Bersama" efektif dimainkan oleh tim Anies-Sandi, direplikasi, diturunkan menjadi program kerja.

"Dalam kampanye politik di media sosial, keseragaman grafis, typografi, warna, dan slogan politik sangat dibutuhkan agar pendukung punya sasaran yang fokus dan terarah," tandasnya.

Sementara itu dari segi partai, dia menjelaskan Gerindra dan PKS tampak menyumbang kontribusi sangat besar dalam kampanye Anies-Sandi di media sosial. Dalam metrik media sosial yang diamati Intrans bisa terlihat aktivitas dukungan yang dilakukan oleh jejaring akun resmi Gerindra dan PKS terhadap kubu Anies-Sandi.

"Gerindra dengan jumlah fans terbesar di Facebook Fanpage ditambah kekuatan organik dari followers dan tim PKS, membuat konten Anies-Sandi mampu menyebar dengan cepat, viral dan organik," ungkapnya.

Kubu Ahok-Djarot mampu mengimbangi dengan jejaring media sosial PDIP, akun PDIP adalah Parpol terbesar kedua setelah Gerindra dalam jumlah followers dan fans di Facebook, Instagram, Twitter dan Youtube. Apalagi kekuatan dari jejaring media sosial PDIP terletak pada akun-akun individu para kader yang jumlahnya tidak sedikit.

"Kekuatan Ahok-Djarot bertambah dengan bergabungnya Partai Solidarits Indonesia (PSI) besutan Grace Natalie dkk. Dari analisis dan pemantauan Intrans, PSI beberapa kali membuat terobosan yang tidak pernah dipikirkan oleh parpol pendukung lain," jelasnya.

Secara kuantitatif dukungan Parpol (PDIP, PSI, Nasdem, Golkar, PKPI, Hanura, PPP, PKB) terhadap pasangan Ahok-Djarot tertinggal tipis dengan audiens sejumlah 4.213.864 akun. Sementara dukungan Parpol (Gerindra, PKS, Perindo) terhadap Anies-Sandi unggul dengan jumlah audiens sebanyak 4.418.004 akun.

Dari segi total engagement berupa Like, Comment, Retwit, Ekspresi, Emotion, Loves, video views dll, Ahok-Djarot unggul dengan total jumlah engagement sebesar 2.139.104. Sementara Anies-Sandi hanya mendapatkan engagement total sebesar 1.705.146.

Meski demikian Anies-Sandi unggul dengan jumlah share (share, mention, repost, video likes) sebesar 291.359 share. Sedangkan Ahok-Djarot hanya mendapatkan 155.446 jumlah share.

"Dari skoring yang sudah disimulasikan itu maka Intrans menetapkan elektabilitas pasangan calon pada tanggal 26 Maret 2017, dimana Ahok Djarot unggul dengan angka 51,88 % dan Anies-Sandi dengan angka 48,12 %," tandasnya. [wah] 

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya