Berita

saddam/net

Politik

Rezim Paranoid, Jokowi Tak Ubahnya Saddam Husein

MINGGU, 02 APRIL 2017 | 01:23 WIB | LAPORAN:

Penangkapan, intimidasi dan tuduhan makar pada sejumlah aktivis Islam dan tokoh nasionalis yang di gunakan rezim Jokowi saat ini tak ubahnya seperti rezim totaliter despotik Presiden Saddam Husein saat memimpin Irak.

Hal itu disampaikan Tokoh Muda Maluku Gusrin Lessy melalui siaran pers yang diterima redaksi, Sabtu (1/4).

Gusrin menjelaskan, Pemerintahan Saddam selain menyingkrikan lawan politiknya di tubuh partainya sendiri dia juga diketahui menindas gerakan-gerakan yang dianggapnya mengancam, khususnya gerakan yang muncul dari kelompok-kelompok etnis atau keagamaan yang memperjuangan kemerdekaan atau pemerintahan otonom. Lawan politiknya, termasuk dari kalangan ulama disiksa dalam penjara. Bahkan ada yang dibunuh.


Menurut Gusrin, demokrasi di Indonesia pasca reformasi 98 yang sedang memasuki tahap konsolidasi dan peyempurnaan di berbagai bidang kehidupan berbangsa kini malah mengalami degradasi nilai dan kemunduran di bawah rezim Jokowi.

"Jokowi malah mundur kebelakang seperti di zaman totaliter Demokrasi Terpimpin Orde Lama dan Orde Baru yang represif. Jokowi melibas habis suara yang bertentangan dengan pemerintah. SBY yang Jenderal saja tak begitu begitu amat, ini tampilan berlagak merakyat tapi menipu,"kata Gusrin

Gusrin pun menyerukan agar kelompok-kelompok pro-demokrasi untuk kembali menyuarakan kebenaran dan melawan penindasan dan tindak sewenang-sewenang yang dipertontonkan rezim Jokowi. Selain itu dia mengingatkan agar lembaga-lembaga negara seperti MPR dan DPR harus melaksanakan fungsi kontrolnya terhadap Presiden Jokowi.

Menurut Gusrin, setelah ditangkapnya sekjen FUI Al-Khaththath bersama aktivis 313 lainnya, mantan ketua umum DPP IMM Beni Pramula dan mantan Presiden BEM UMY Yogyajarta Zainuddin Arsyad juga ikut ditangkap.

“Mari kita jadikan para aktivis yang ditangkap sebagai martir untuk perubahan rezim paranoid,"demikian Gusrin.[san]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya