Hasil penghitungan suara cepat menunjukkan Francisco Guterres sebagai pemenang pemilihan presiden Timor Leste.
Kemenangan ini sudah diprediksi sebelumnya, mengÂingat Guterres merupakan kanÂdidat presiden favorit.
Guterres, atau dikenal dengan nama Lu-Olo, memenangkan 57 persen dari total suara yang masuk. Sementara itu, rivalnya yang juga Menteri PendidiÂkan, Antonio de Conceicao, hanya meraih suara sebanyak 33 persen. Dibutuhkan suara seÂbanyak 50 persen agar salah satu kandidat memenangkan pemilu di putaran pertama. Guterres telah melampaui jumlah tersebut sehingga pilpres putaran dua kemungkinan besar tidak akan dilakukan.
"Saya yakin akan menang, tidak akan ada putaran kedua," ujar Guterres, capres dari partai yang memimpin upaya revÂolusi kemerdekaan Timor Leste, Fretilin. Dia juga didukung bekas presiden dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao.
Dengan terpilihnya Guterres, maka di masa kepemimpinannya dia harus berhadapan dengan cadangan minyak bumi yang seÂmakin berkurang dan mencapai kesepakatan dengan Australia terhadap ladang energi.
Kekhawatiran utama yang menaungi 1,2 juta warga Timor Leste adalah kegagalan peÂnyebaran kesejahteraan dari pendapatan sektor minyak dan gas, dengan angka pengangÂguran mencapai 60 persen. Para pengamat menyebut, tantanÂgan pemerintahan baru adalah memutus ketergantungan pada sektor migas dan memperluas sumber pendapatan negara. SekÂtor energi menyumbang produk domestik bruto (PDB) hingga 60 persen pada tahun 2014 dan lebih dari 90 persen pendapatan negara.
Komisi Pemilu Timor Leste dijadwalkan akan mengumumÂkan hasil akhir pada 23 Maret mendatang. Kemudian hasil akhir pilpres itu akan diverifikasi pengadilan setempat sekitar sebulan ke depan.
Pilpres ini merupakan pilpres keempat yang digelar sejak Timor Leste merdeka dari InÂdonesia 2002. Namun pilpres ini merupakan yang pertama digelar sejak pasukan penjaga perdamaian PBB menyelesaikan misinya tahun 2012. Pilpres, kali ini digelar sendiri otoritas Timor Leste tanpa bantuan PBB, berjalan lancar.
Meski jabatan presiden di negara ini bersifat seremonial, perannya cukup penting dalam menjaga hubungan baik antara politisi yang berselisih. PemiÂlu ini mendahului pemilihan parlementer yang bersifat lebih penting, menentukan struktur pemerintahan dan perdana menÂteri, dalam waktu dekat ini.
Timor Leste dengan Indonesia"Siapa pun yang terpilih harus menjaga hubungan baik dengan Indonesia karena Timor Leste punya ketergantungan dengan Indonesia. Itu fakta dan tidak bisa dihindari," kata Ferdi TanoÂni, ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB), dilansir BBC.
Dari segi ekonomi, menurut Ferdi, Timor Leste hanya bisa mengandalkan Indonesia.
"Bahan bakar minyak didaÂtangkan dari Indonesia. Begitu pula dengan bahan-bahan maÂkanan. Intinya ketergantungan Timor Leste dengan Indonesia itu tinggi," ujarnya.
Berdasarkan data Pertamina, perusahaan minyak Indonesia itu memasok 2.600 kiloliter (kl) per bulan ke Timor Leste pada 2016. Adapun pasokan avtur mengaÂlir 400 kiloliter setiap bulan. Jumlah tersebut menempatkan Pertamina sebagai penguasa pasar bahan bakar minyak di Timor Leste.
Timor Leste juga mengimpor 80 persen barang-barang kebutuÂhan pokok dari Indonesia, mulai dari sembako, elektronik, hingga korek api. ***