Berita

Politik

Habib Rizieq: NU Dan Muhammadiyah Tolak Konsep Pancasila Usulan Bung Karno

SELASA, 14 FEBRUARI 2017 | 08:58 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Habib Rizieq Syihab menjawab 36 pertanyaan dari penyidik Polda Jawa Barat saat diperiksa sebagai tersangka kasus penodaan Pancasila dan pencemaran nama baik Presiden RI pertama, Sukarno, kemarin.

Semua pertanyaan yang disampaikan dalam pemeriksaan selama tujuh jam atau mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB tersebut menyangkut soal tesisnya yang berjudul Pengaruh Pancasila terhadap Penerapan Syariat Islam di Indonesia di University of Malaya, Malaysia.

"Jadi yang ditanyakan pertama yaitu tentang sejarah Pancasila itu sendiri. Bagaimana Pancasila itu lahir dari mulai usulan Bung Karno pada tanggal 1 Juni bahkan sebelum itu. Bagaimana kata Pancasila itu ada dalam buku Sutasoma karangan Mpu Tantular. Lalu Bagaimana Pak Karno pada pidatonya di sidang pertama BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 mengusulkan lima dasar negara dengan nama Pancasila," kata Habib Rizieq usai pemeriksaan.


Lebih jauh Imam Besar FPI ini menjelaskan, usulan Bung Karno tersebut lalu digodok dalam Panitia 9. Nama Pancasila usulan Bung Karno diterima. Akan tetapi isi, redaksi, dan sistematika susunan isi kandungan dirombak total.

"Di mana Bung Karno mengusulkan sila Ketuhanan ada di sila kelima yang terakhir. Sementara para ulama dari NU, Muhammadiyah dan Syarikat Islam yang ikut dalam Panitia 9 menolak kalau sila Ketuhanan diletakkan pada sila terakhir. Akhirnya sila Ketuhanan naik menjadi sila pertama dengan tambahan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya," urainya.

"Itu yang kita kenal dengan Pancasila Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Yang kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 melalui sidang PPKI akhirnya Pancasila Piagam Jakarta diterima. Akan tetapi ada perubahan redaksi pada sila pertama, menjadi Ketuhanan yang Maha Esa," sambungnya.

Bagi Habib Rizieq, perubahan redaksi sila pertama tersebut sama sekali tidak merugikan umat Islam. Karena dari Ketuhanan yang diikat dengan syariat menjadi Ketuhanan yang dekat dengan tauhid.

"Jadi intinya sama saja. Artinya bahwa bangsa ini harus selalu menjunjung tinggi hukum Tuhan Yang Maha Esa,"  tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Habib Rizieq juga menjelaskan perjalanan Pancasila selanjutnya. Dia mengungkapkan, pada saat Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat karena tekanan Belanda pada tahun 1949, Pancasila dirombak total. Pancasila yang sudah disepakati 18 Agustus 1945 tidak berlaku.

"Begitu juga saat RIS berubah menjadi NKRI, atas usulan integral Pak Nasir ketika itu, akhirnya ada konstitusi undang-undang dasar sementara tahun 1950, masih menggunakan Pancasila produk RIS," bebernya.

Barulah melalui Dekrit pada 5 Juli 1959, Bung Karno mengembalikan, yaitu Pancasila UUD 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara. Dengan ketentuan dijiwai oleh Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

"Dan itu masih berlaku sampai hari ini. Jadi itu bagian di antara yang saya ditanya soal sejarah Pancasila," tekannya.

Karena itu, dia menekankan, apa yang disampaikan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945, baru berupa usulan, belum menjadi dasar negara.

"Karena belum disahkan oleh BPUPKI dan juga tidak disahkan oleh PPKI. Jadi yang berlaku hari ini adalah Pancasila Dekrit Presiden yang mengembalikan Pancasila UUD 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara," tandasnya. [zul]

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya