Berita

Kiai Ma'ruf-Jend Tito/Net

Politik

NU Memiliki Sikap Yang Tegas Terkait Kepemimpinan Non-Muslim

JUMAT, 10 FEBRUARI 2017 | 07:38 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Nahdlatul Ulama sudah memiliki panduan dalam memilih pemimpin, yang dihasilkan pada Muktamar NU tahun 1999. Dalam panduan tersebut jelas bagaimana sikap NU terhadap kepemimpinan nonmuslim.

"Tentang kaedah memilih pemimpin, NU sudah memiliki panduan yaitu hasil Muktamar NU 1999, yang berbunyi 'Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam kecuali dalam keadaan darurat," jelas Katib Syuriyah PBNU, Dr. Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangan persnya.

"Setiap warga dan pengurus NU terikat oleh qararat jamiyyah (keputusan organisasi) NU," sambung kiai muda ini.


Kaedah memilih pemimpin tersebut merupakan salah satu rekomendasi Silaturrahim Syuriah PBNU dengan ulama, Kiai, pimpinan pesantren se-Banten di Pesantren An-Nawawi Tanara Serang Banten, pada Selasa kemarin (8/2).

Hasil pertemuan lainnya adalah jamaah NU belum bisa menerima perlakuan terdakwa kasus penistaan agama Basuki T. Purnama dan tim pengacaranya terhadap Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin pada saat sidang pekan lalu. Meski secara pribadi Rais Aam sudah memaafkan.

"Direkomendasikan ada langkah hukum untuk menjamin ketertiban sosial," tegasnya.

Selain itu, forum tersebut juga meminta kepada seluruh warga NU dan masyarakat secara umum untuk menjaga kondusifitas berbangsa dan bernegara, menjaga persatuan, menghindari provokasi, dan mewaspadai setiap upaya yang memecah persatuan, seperti ancaman komunisme, liberalisme, dan juga ekstrimisme.

Dalam rangkaian acara silaturrahim yang digelar di pesantren asuhan Kiai Ma'ruf Amin tersebut juga hadir Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kapolda Banten, Danrem, serta pimpinan Syuriyah NU, Ulama, Kiai, dan pimpinan pesantren se- Banten. [zul]

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya