Berita

Publika

Sentimen Anti Muslim Dan Imigran Donald Trump

JUMAT, 03 FEBRUARI 2017 | 10:26 WIB

DONALD John Trump merupakan Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS) yang kerap kali menjanjikan hal kontroversial pada masa kampanye.

Tanggal 27 Januari 2016 lalu, salah satu janji kampanyenya menjadi kenyataan. Ia menandatangi Executive Order yaitu semacam keputusan presiden yang melarang masuknya imigran dan pengunjung bervisa dari 7 negara yaitu Iraq, Iran, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman. Hal tersebut kontan memicu protes dari ribuan rakyat AS yang menentang kebijakan anti muslim dan anti imigran tersebut.

Kebijakan Trump cenderung mengutamakan perlindungan bagi rakyat AS dari serangan Internasional baik berupa serangan fisik maupun ekonomi. Trump dalam salah satu kampanyenya pernah berujar bahwa dia akan menutup pintu rapat-rapat bagi muslim untuk masuk ke AS.


Namun, belakangan ia mengubah perkataannya menjadi pelarangan masuk ke AS berdasarkan wilayah negara karena beberapa protes salah satunya dari pasangan calon wakil presidennya sendiri Mike Pence.

Trump berdalih kebijakan tersebut berguna untuk melindungi warga AS dari serangan terorisme dan kekurangan lapangan kerja yang diserobot oleh imigran. Tetapi banyak masyarakat AS yang mempermasalahkan kebijakan tersebut karena bertentangan dengan prinsip-prinsip kebebasan Amerika Serikat.

Executive Order yang dikeluarkan Trump menyebutkan untuk menstop penerimaan suaka sementara dari semua negara dan melarang warga dari 7 negara mayoritas muslim untuk masuk ke AS walaupun dengan visa. Namun, Executive Order tersebut menyebutkan memprioritaskan pencari suaka yang beragama minoritas di suatu negara.

Dari kebijakan tersebut terlihat bahwa Trump ingin menampung imigran dari negara-negara konflik timur tengah yang bukan beragama Islam.

Trump memang pernah menyebut akan memprioritaskan pencari suaka kristiani karena menurutnya, Obama memperlakukan pencari suaka kristiani secara tidak baik meskipun saat itu tidak ada kebijakan diskriminasi agama pada pencari suaka.
Apabila dianalisis lebih jauh, kebijakan Donald Trump yang menutup pintu bagi pencari suaka muslim dan memprioritaskan pencari suaka beragama lain bertentangan dengan konstitusi AS.

Dalam konstitusi AS amandemen pertama, terdapat sebuah peraturan yang bernama Establishment Clause. Peraturan tersebut mencegah negara AS untuk memihak salah satu agama dan mendiskreditkan agama lain, serta mencegah negara untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berpihak dan berlawanan dengan agama-agama yang ada.

Kebijakan yang dikeluarkan Trump dalam hal ini mencegah muslim untuk masuk ke AS telah melanggar konstitusi negaranya sendiri, karena memprioritaskan salah satu agama di atas agama lain.

Cukup aneh memang, negara yang mendeklarasikan diri sebagai negara demokrasi sekuler dan berpegang teguh kepada liberalisme terang-terangan berpihak dan mendiskreditkan agama dan kepercayaan.

Selain itu, pembentengan diri terhadap immigran yang terlalu berlebihan seakan-akan membuat Trump lupa bahwa negara AS merupakan negara imigran dan surga bagi para pencari kesejahteraan untuk ikut merasakan American Dream. Bahkan Albert Einstein yang membantu AS memenangkan Perang Dunia adalah imigran asal Jerman.

Trump merasa bahwa dirinya adalah warga asli Amerika Serikat, namun kenyataannya warga asli AS adalah suku-suku Indian yang tergeser oleh kolonialisme kulit putih.[***]


Sabil Ismail

Jl. Hi. Komaruddin, Rajabasa Bandar Lampung
082183973xxx
 
 

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya