Berita

Husain Sjah/Net

Wawancara

WAWANCARA

Husain Sjah: Saya Tidak Anti-Investasi, Tapi Rakyat Perlu Dilindungi

KAMIS, 02 FEBRUARI 2017 | 09:41 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sultan Husain Sjah waswas mendengar rencana pemerintah pusat ingin mengundang inves­tor asing untuk mengelola pulau-pulau nusantara. Sultan Husain buru-buru membuat surat terbuka kepada pemerintah. Apa maksud dari penulisan surat terbuka itu? Berikut penjelasan Sultan Tidore Husain Sjah dalam perbincangan di Keraton Kesultanan di Tidore, Maluku Utara.

Apa yang mendorong anda menulis surat terbuka untuk Presiden Jokowi?
Saya menulis surat itu kepada Yang Mulia Bapak Presiden Joko Widodo karena saya menganggap beliau adalah salah satu Putra Adat Kesultanan Tidore. Beliau dikukuhkan sebagai Putra Adat ketika berkunjung ke Tidore bulan Mei 2015. Saya ingin membantu dan melindungi beliau dari berbagai kepentingan yang mungkin bisa merusak citra dan nama beliau, baik secara pribadi maupun institusi kepresidenan.

Dalam mengelola negara, beliau lebih banyak tahu. Tetapi mungkin ada hal-hal yang ter­cecer. Saya ingin mengingatkan beliau untuk berhati-hati dan lebih memperhatikan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak mesti dikelola secara baik, sehingga masyarakat bisa memberikan partisipasi yang maksimal dan tidak merasa termajinalkan dan tersisihkan.

Dalam mengelola negara, beliau lebih banyak tahu. Tetapi mungkin ada hal-hal yang ter­cecer. Saya ingin mengingatkan beliau untuk berhati-hati dan lebih memperhatikan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak mesti dikelola secara baik, sehingga masyarakat bisa memberikan partisipasi yang maksimal dan tidak merasa termajinalkan dan tersisihkan.

Apa yang menjadi kepriha­tinan utama anda?
Saya pernah mendengar ada beberapa pulau yang setelah dikelola investor asing, kehidu­pan masyarakat tidak jadi lebih baik dibandingkan saat sebel­umnya. Saya mengambil contoh Pulau Gebe yang masuk ke dalam wilayah Kesultanan Tidore.

(Pulau Gebe terletak di ujung tenggara kaki Pulau Halmahera, Maluku Tengah, dan masuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Tengah. Di masa lalu, Pulau Gebe merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore.)

Setelah aktivitas tambang di Gebe, masyarakat mengalami kesulitan mengakses listrik dan air. Untuk mendapatkan air, mereka harus membeli.

Seharusnya pasca tambang, kehidupan mereka lebih sejahtera dibandingkan sebelumnya. Ternyata tidak. Setelah tam­bang, yang ada hanya lapangan golf. Bagaimana orang desa mau menikmati lapangan golf? Bagaimana orang desa mau me­nikmati kolam renang?

Bukan itu kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar mereka adalah listrik dan air, pendidikan dan kesehatan.

Saya tidak mau hal seperti itu terulang lagi. Saya ingin kali ini ada perjanjian antara Presiden dengan investor, kemudian antara investor dengan masyarakat setempat untuk memastikan bahwa investasi benar-benar memperha­tikan kepentingan dan hajat hidup masyarakat di daerah setempat.

Jadi seruan anda ini tidak hanya untuk investor asing, tetapi untuk semua inves­tor yang ingin menanamkan modal di Maluku Utara?
Ya. Saya tidak anti investasi. Dari manapun datang investasi kita bersyukur. Tetapi tidak serta merta kita mengabaikan aspek kultural, aspek kepentingan masyarakat lokal. Kita harus jelaskantentang investasi yang akan dilaku­kan. Dan kita harus tanya, kalian maunya seperti apa. Apa kebutuhan kalian. Sehingga seluruhnya bisa terakomodasi lebih baik. Rakyat harus kita lindungi.

Apakah ada respons dari pemerintah atas surat terbuka anda itu?
Sampai sekarang belum ada. Saya berharap, walaupun mereka tidak sampaikan secara langsung ke saya, tetapi minimal kalau ada perhatian saja sudah meru­pakan sebuah kesyukuran bagi saya. Tidak terlalu penting bagi saya apakah surat saya itu dibalas. Substansinya adalah bagaimana surat itu bisa ditindaklanjuti dalam bentuk action nyata di lapangan.

Apakah surat ini juga ada hubungannya dengan his­toris Tidore dalam konteks NKRI?
Wilayah Kesultanan Tidore sangat luas, hingga ke Papua. Bahkan sebagian dari pulau di Kepulauan Solomon adalah milik Kesultanan Tidore pada masanya. Kalau ada tempat yang namanya Nuku ini, Nuku itu, itu karena ekspansi Pahlawan Nasional Sultan Nuku sampai ke sana.

Kemudian setelah 1945, Sultan Zaenal Abidin Sjah secara formal menyerahkan wilayah Kesultanan Tidore masuk ke pangkuan ibu pertiwi setelah dinegosiasi oleh Bung Karno pada saat itu. Pada masa itu Bung Karno dua kali berkunjung ke Tidore untuk mendapatkan le­gitimasi, khususnya agar Papua bisa masuk NKRI.

Sebagai kompensasinya, Bung Karno mempercayakan posisi gu­bernur Provinsi Perjuangan Irian Barat kepada Sultan Tidore yang ditandai dengan Undang-Undang 15/1956.

Kami tidak meminta imbalan apa-apa. Cuma tolonglah agar jasa-jasa yang ditorehkan leluhur kami diberikan tempat yang layak. Sama dengan perhatian pemerintah terhadap negeri-negeri yang lain. Tidak boleh Tidore terlalu jauh ditinggalkan. Di dalam rumah ini ada satu kamar yang ditempati Tidore. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Rechta Institute: Muktamar NU Bersih Dari Politik Uang dan Balas Budi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:16

Ucapan Budi Arie Soal Percepatan Pemilu 2029 Tak Bisa Dimaafkan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:02

Nasaruddin Umar Pilih Jadi Menag Ketimbang Maju Ketum PBNU

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:01

PLN Siap Serap Listrik dari PSEL Bekasi, Capai 223.584 MWh per Tahun

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:51

Muktamar NU Turut Bahas RUU Perampasan Aset

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:40

Polisi Sebut Kelompok Perusuh Rusak Fasilitas Umum Usai Demo di Gedung DPR/MPR

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:34

Polda Metro Pastikan Aktivitas Warga Tetap Berjalan Pascademonstrasi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:26

PLTS 100 GWp Diluncurkan, PLN Siap Percepat Swasembada Energi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:11

Emas Antam Turun Lagi, Termurah Rp1,4 Juta

Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:57

Legislator Aceh soal Blok Andaman: Rujukannya Harus Pasal 33 UUD 1945

Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:40

Selengkapnya